Loading your location

Aruna dan Lidahnya, Film Kuliner dan Persahabatan Dengan Banyak Rasa

By Ekowi10 Agustus 2018

Palari Films bersiap merilis film terbaru Aruna dan Lidahnya pada 27 September.Film bertemakan kuliner, persahabatan, cinta dan konspirasi ini dibintangi oleh DianSastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al Rashid, dan Nicholas Saputra. Film ini makinspesial dengan mengambil lokasi syuting di Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak,dan Singkawang.

Aruna dan Lidahnya adalah cerita tentang ARUNA (Dian Sastrowardoyo) yangditugaskan bekerja berkeliling ke empat kota Indonesia sambil bertualang kuliner bersamakedua temannya, BONO (Nicholas Saputra) dan NAD (Hannah Al Rashid). Saat menjalanitugasnya, Aruna bertemu dengan mantan rekan kerja yang pernah ia taksir, FARISH (OkaAntara). Keempatnya terlibat dalam perjalanan penuh percakapan yang mengungkapkankisah kehidupan dan rahasia terpendam.

Dalam perjalanan keempat karakter, mereka mencicipi berbagai makanan nusantara yang jarang dibahas banyak orang maupun yang sudah populer sebelumnya. Makanan yang akan hadir di antaranya adalah Lorjuk (makanan khas Pamekasan), Bakmi Kepiting(Pontianak), sampai Nasi Cumi (Surabaya). Di setiap makanannya mereka menemukansesuatu yang tak terduga. Total ada 21 makanan, minuman, dan cemilan yang terdapat dalam film.

Selain pencarian makanan, film ini juga menangkap sepenggal kisah perjalanan manusia yang sedang dalam proses menemukan jawaban dalam hidupnya. Masing-masing karakter datang dengan kegelisahan yang berbeda. Aruna mencari nasi goreng yang telah lama diidamkannya, Farish berusaha menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, Bono bergulat dengan perasaan yang ia pendam, dan Nad yang hendak berpetualang kuliner.

Edwin, selaku sutradara mengeksplorasi gaya yang jarang ditampilkan dalam film-filmnya. Di Aruna dan Lidahnya , dinamika kehidupan orang dewasa dibicarakan di meja makan. Film ini mengandung banyak dialog yang dalam namun dibawakan dengan ringan. Setiap karakter yang berbeda menunjukkan bahwa keragaman pendapat dapat bertemu di satu meja.

“Pemilihan Aruna dan Lidahnya sebagai proyek lanjutan setelah Posesif merupakan usaha Palari Films untuk memotret relasi manusia dengan cara yang jarang diperlihatkan di film Indonesia. Film kali ini bergenre drama romantis yang menekankan pada intimasi hubungan antar manusia yang dinamis seperti pekerjaan, percintaan, persahabatan yang semuanya bertemu di penjelajahan kuliner,” ujar Meiske Taurisia selaku produser.

Produser Muhammad Zaidy menambahkan, “Film Aruna dan Lidahnya tidak semata-mata membicarakan makanan sebagai objek. Di film ini meja makan menjadi tempat berkumpulnya manusia yang memungkinkan terjadinya perbincangan secara intim.” Peristiwa tersebut disuguhkan sewajarnya, selayaknya kehidupan sehari-hari. Hubungan antara para karakter nyata dan dapat dialami siapa saja. Misalnya bagaimana ketika pekerjaan bersisian dengan urusan pribadi yang tidak diinginkan. Dengan premis seperti itu, film ini menjanjikan pengalaman menonton yang menggiurkan dan juga mengenyangkan pikiran.

Di film ini para pemeran juga berkesempatan untuk mengeksplorasi seni peran melalui karakter yang jarang mereka dapatkan. Dian Sastrowardoyo bercerita bahwa ia merasa lebih rileks memerankan karakter yang tidak seserius peran sebelumnya, “Senangnya main film ini adalah saya bisa menertawakan diri sendiri, nggak jaim. Saya tertantang untuk main konyol, tapi juga serius di beberapa hal,” ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Nicholas Saputra. Aktor yang sudah sering bekerja dengan Edwin ini memerankan karakter Bono, seorang koki yang hendak mengeksplorasi kuliner nusantara. Nico yang juga bisa memasak tak terlalu sulit untuk memerankan Bono yang menyenangkan. “Untuk film ini, saya belajar juga presentasi dan plating . Belajar dari koki langsung untuk menambah pendalaman karakter,” ceritanya.

Dian dan Nico yang sudah sering bekerja sama di beberapa film mendapatkan pengalaman baru dalam film ini yaitu memerankan karakter sahabat dekat yang kental. Hubungan yang sebenarnya merupakan cerminan langsung dari keseharian mereka. Ini menjadikan karakter yang mereka mainkan unik dan tidak dapat ditemukan di film-film lainnya.

Akting merupakan bahan baku utama film Aruna dan Lidahnya . Ensemble empat pemain yang sudah tidak diragukan kualitasnya diracik menjadi sesuatu yang istimewa. Dian, Oka, Hannah, dan Nico mempertunjukkan keahlian mereka untuk berakting memainkan karakter yang punya kedalaman tapi juga ringan disaksikan.

Selain empat karakter yang sudah diumumkan sebelumnya, film ini juga dibintangi oleh Deddy “Desta” Mahendra dan Ayu Azhari. Desta berperan sebagai Pak Burhan, bos Aruna di tempat ia bekerja. Ayu Azhari menjadi Mbak Priya, atasan Farish yang dulunya pernah bekerja bersama Aruna.

Proses pengambilan gambar dilakukan dari bulan April hingga bulan Mei. Pasca produksi sedang berlangsung dan sudah dimulai sejak Juni. Rencananya, Palari Films akan melakukan roadshow ke sebelas kota untuk mempromosikan film.

Film disutradarai oleh Edwin, ditulis skenarionya oleh Titien Wattimena. Produser adalah Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Pengarah sinematografi adalah Amalia TS, penyunting gambar W. Ichwandiar Dono. Produksi Palari Films didukung oleh GO-STUDIO Original, CJ Entertainment, Phoenix Films, dan Ideosource Entertainment.

Untuk urusan musik dan scoring dipercayakan kepada Ken Jenie dan Mar Galo. Pasangan ini sebelumnya juga menjadi music director untuk film Posesif . Mereka menggabungkan musik lama dan baru dengan sentuhan unik. Lagu-lagu lawas yang terpilih masuk adalah “Aku Ini Punya Siapa” dari January Christy dan lagu Jingga “Tentang Aku” yang dibawakan ulang oleh Fe Utomo. Selain itu ada pula Monita Tahalea yang akan menyanyikan ulang lagu lawas “Antara Kita”.

Aruna dan Lidahnya diadaptasi lepas dari novel berjudul sama karangan Laksmi Pamuntjak yang baru saja diluncurkan ulang sampul barunya pada tanggal 3 Agustus oleh Gramedia Pustaka Utama. Sampul diambil dari teaser poster Aruna dan Lidahnya yang menampilkan keempat aktor aktris film.

Edwin yang berteman dengan Laksmi mengaku tertarik untuk memfilmkan buku tersebut sejak pertama kali membacanya. “Karena saya tertarik bagaimana relasi antara makanan dan manusia di sekitarnya saling mempengaruhi satu sama lain. Buku ini mampu menyajikan potret tentang manusia yang wajar dan dekat di hati. Selain itu, banyak ragam detail persis seperti makanan Indonesia yang mempunyai kekayaan bumbu dan jenis masakannya,” tutur Edwin. “Makanan yang penuh cita rasa sama seperti hidup yang penuh lika liku seperti persahabatan, cinta, pekerjaan, rahasia, hingga persoalan sosial. Kekompleksan tersebut dapat membuat kita mensyukuri betapa beruntungnya jadi manusia.”

Trailer film sudah dapat disaksikan di kanal YouTube Palari Films. Selain video tersebut, ada juga video-video promosi lainnya yang akan ditayangkan. Cinta kuliner Indonesia? Tonton film Aruna dan Lidahnya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

SUZZANNA : BERNAPAS DALAM KUBUR
THE GIRL IN THE SPIDER'S WEB
JAILANGKUNG 2
DANUR 2 MADDAH

COMING SOON

BUMBLEBEE
PERJANJIAN DENGAN IBLIS
SILAM
HELL FEST