Loading your location

Review 99 Nama Cinta: Film dengan Pesan Moral yang Begitu Mendalam

By Ekowi14 November 2019

Jika berbicara soal siapa sutradara terbaik di Indonesia saat ini, nama Garin Nugroho pasti akan menyembul ke permukaan. Film-filmnya memang memukau. Pun sudah banyak penghargaan yang diraih oleh Garin Nugroho sepanjang karirnya. Seperti misalnya film Cinta dalam Sepotong Roti yang membawa nama Garin sebagai Sutradara Terbaik di Piala Citra 1991 dan Sutradara Pendatang Baru Terbaik di Asia Pacific Film Festival di Seoul.

Usia tidak membuatnya lelah dalam menghasilkan karya yang apik. Baru-baru ini film Kucumbu Tubuh Indahku yang diboikot oleh beberapa orang, justru mewakili Indonesia dalam seleksi nominasi Oscar 2020 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Memang, film-film Garin Nugroho memiliki daya magis dan diperindah dengan bahasa yang konotatif dalam menyampaikan pesan. Mungkin itu yang membuat sebagian orang tidak mengerti konteks pada filmnya sehingga bereaksi yang bukan-bukan.

Bukan hanya berkiprah sebagai sutradara, kemampuannya menulis skenario juga patut diacungi jempol. Film Opera Jawa misalnya, mendapat penghargaan kategori Skenario Cerita Adaptasi Terbaik di Piala Citra 2006. Ada juga film Daun di Atas Bantal yang dinobatkan sebagai Skenario Terbaik pada ajang Asia Pacific Film Festival 1998.

Produktivitas Garin Nugroho rupanya belum padam. Terbukti, menuju akhir tahun 2019 ini Garin melahirkan sebuah karya baru berjudul 99 Nama Cinta. Di sini Garin tidak menduduki kursi sutradara, melainkan hanya terlibat sebagai penulis skenario. Bahkan Lukman Sardi yang bertindak sebagai produser dalam film ini mengatakan kalau Garin sendiri lah yang menyodorkan skenario ini ke MNC Pictures. Jadi, film 99 Nama Cinta ini bukan berangkat dari naskah pesanan, melainkan benar-benar dibuat oleh Sang Maestro kebanggaan Indonesia tersebut.

Karier Talia (Acha Septriasa), presenter sekaligus produser acara gosip, yang sedang melejit di dunia infotainment, mendadak berubah drastis saat bertemu Kiblat (Deva Mahenra), ustad muda yang muncul di kantornya untuk memberikan pelajaran agama kepada Talia atas kehendak almarhum ayah Talia sebagai hutang budi kepada Kiblat. Sejak pertemuan itu, karier Talia merosot jatuh gara-gara kesalahan kecil. Tapi tak disangka, Kiblat lah yang membantunya menjalani hari-hari berat tersebut. Kedekatannya dengan Kiblat menimbulkan getar-getar cinta dalam hati Talia. Namun, semuanya buyar ketika mendengar gosip bahwa Kiblat hendak dijodohkan dengan Husna (Chicki Fawzie), pengajar baru di pesantren milik keluarga Kiblat.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa kalian semua harus menonton film ini. Pertama, seperti yang disinggung sebelumnya. Film ini ditulis oleh seorang Garin Nugroho. Selain Garin sebagai penulis naskahnya, film 99 Nama Cinta diperkuat dengan kehadiran Danial Rifki sebagai sutradara. Beberapa film yang sudah pernah dipegang oleh Danial antara lain, Meet Me After Sunset (2018), Spy In Love (2016), Melbourne Rewind (2016), Haji Backpacker (2014), La Tahzan (2013), Anak-anak Lumpur (2009) dan Karena Aku Sayang Markus (2007). Ciri khas dari karya penyutradaraan Danial sendiri adalah mood filmnya yang cenderung hangat. Garin mempercayakan eksekusi penyutradaraan kepada Danial karena rupanya dahulu Danial pernah menjadi asisten sutradara di beberapa film karya Garin.

Film 99 Nama Cinta bagi penulis merupakan sebuah tontonan yang sangat manis. Sebab, sangat menarik melihat pendekatan Garin dan Danial yang mengeksploitasi bagaimana cara seseorang mengungkapkan cinta tanpa c-i-n-t-a. Rasanya lebih menusuk ke dalam jiwa dan raga. Berbeda rasanya dengan apa yang seringkali kita temukan di film-film Indonesia lainnya. Ya, kata cinta yang diumbar sampai kemudian kehilangan makna. Ada memori yang menyeruak di balik adegan demi adegan yang terpampang, seperti sebuah dialog yang terlontar dalam filmnya yakni, “Yang lebih hening dari diam adalah cara terbaikku mencintaimu dalam-dalam.”

Alasan kedua, formula kemantapan film ini semakin diperkaya dengan penampilan yang sangat apik dari Acha Septriasa sebagai Talia yang beradu peran dengan Deva Mahenra. Selain dua karakter utama tadi, penonton juga akan dibuat jatuh hati pada Adinda Thomas yang berperan sebagai Mlenuk. Staf kreatif yang begitu polos tersebut selalu setia mendampingi Talia, baik di saat keadaan naik maupun turunnya. Mlenuk adalah contoh yang ditunjukkan secara eksplisit bahwa uang tidak dapat membeli segalanya. Apalagi loyalitas pada orang-orang yang memang pantas.

Alasan terakhir sobat nonton harus menonton film ini adalah pesan moralnya yang begitu mendalam. Talia yang begitu ambisius menjalani karirnya dan seringkali melupakan kehidupan personalnya sampai di satu titik merasakan kekosongan dalam jiwanya merupakan cerminan sebagian orang saat ini dalam mengejar dunia hingga lupa akan Tuhan-nya. Juga, 99 Nama Cinta mengingatkan kita akan nilai-nilai moral lainnya seperti: percaya bahwa Tuhan bekerja dengan caranya yang setiap manusia tak akan mampu memahaminya. Jadi tugas kita hanya berusaha dan berdoa kemudian biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya.

Secara garis besar, film ini juga mencoba menggambarkan dua latar belakang yang berbeda. Awalnya penulis berfikir bahwa film 99 Nama Cinta akan menjadi serupa dengan film-film romansa religi kebanyakan. Ternyata, anggapan tersebut salah. Cukup berbeda sekali dengan film-film kebanyakan yang mencoba menggabungkan antara romansa dan religi di dalam satu kisah. Menjadi yang berbeda memang bagai dua mata pisau: bisa jadi gagal, atau malah melambung dengan luar biasa. Namun teruntuk film 99 Nama Cinta, penulis yakin opsi kedualah yang akan didapat.

Nah, sudahkah beberapa alasan tadi membuat kalian penasaran akan film ini? Kalau begitu, saksikan 99 Nama Cinta yang rilis di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 14 November 2019. Dan jadilah saksi kisah cinta Talia dan Kiblat yang manis tanpa harus jatuh ke jurang melankolis.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

Antim: The Final Truth
FOLLOW ME
SONGBIRD
NUSSA

COMING SOON

MR. ZOO
CLIFFORD THE BIG RED DOG
JODOHKU YANG MANA? (MOLULO 2)
THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS