Loading your location

Review Bike Boyz: Kisah Genk Motor Mencari Suami yang Hilang

By Ekowi22 November 2019

Kisah-kisah mafia atau gangster yang mengayomi anggota-anggotanya sebagai keluarga memang bukan hanya milik Hollywood semata, walaupun film The Godfather yang beken dengan latar mafia Italia-nya kala itu adalah pionir dalam konteks kultur pop-nya. Perfilman Asia terutama Hong Kong adalah yang paling sering mengeksplor genrenya, disesuaikan dengan kultur mereka tentunya. India menyusul belakangan. Dan dua rumpun sinema tersebut memang yang terdekat dengan budaya kita. Dari situlah kemudian muncul tema dengan skup yang lebih mendekati representasi kultur kita, yakni mafia-mafia kampung yang juga kerap disebut preman.

Meski populer di budaya luar, film kita sayangnya tak terlalu banyak mengeksplor tema ini kecuali hanya sebagai elemen dalam skup besarnya. Sesekali masih muncul dengan kualitas beragam dari film 9 Naga milik Rudi Soedjarwo hingga ke Gangster karya Fajar Nugros. Tapi yang benar-benar menjadikannya bagian dari kultur pop dengan fan base besar, paling tidak dalam beberapa tahun terakhir, adalah Preman Pensiun. Digagas sebagai konsumsi layar kaca atau sinetron, Preman Pensiun bertahan hingga beberapa musim penayangan. Bahkan hingga diangkat ke layar lebar baru-baru ini, juga dengan hasil box office yang tidak main-main. Tapi bukan semata jumlahnya, lagi-lagi fanbase besar dan pengenalan luasnyalah yang kemudian menjadi alasan mengapa adaptasinya ke layar lebar terasa sangat layak.

Kini, Aris Nugraha, sang kreator Preman Pensiun, kembali lagi dengan tema yang tidak jauh-jauh dari karyanya yang sebelumnya telah sukses besar tadi. Bertajuk Bike Boyz, filmnya mengangkat tema mengenai genk motor. Berkisah tentang Agus (Aep Bancet) yang hendak membantu Lilis (Aline Manza) mencari suaminya yang sudah 3 bulan tidak pulang dan berkabar. Naasnya, Agus didatangi para penjahat yang dendam dan langsung memukulinya. Motor Vespanya pun dirampas komplotan penjahat tersebut. Bersama teman-temannya sesama anak Vespa, Agus keliling Bandung mencari Vespa miliknya dan juga suami Lilis, yang kemudian tanpa sengaja malah masuk ke dalam kasus yang melibatkan komplotan pencuri, genk motor hingga teroris yang tengah diburu polisi.

Meski masih berupa kontinuitas produk sebelumnya, dalam hal ini Preman Pensiun, Bike Boyz tidak kehilangan orisinalitas dan koneksi dalam penceritaannya, termasuk ke para penonton yang tak biasa mengikuti sinetron dan film yang pernah dihasilkan oleh seorang Aris Nugraha. Selain tampilan yang menekankan beda batasan antara produk layar kaca dan layar perak lewat tata kamera Gunung Nusa Pelita, karakter-karakter yang dibentuk dengan kuat tentu juga dengan mudahnya bisa menyita perhatian penonton dengan performa komedik dan persona tampilannya masing-masing, seperti karakter Marwan (Gariz Luis) dan Ichan (Damar RM), serta Koko (Andy Josalim) dan Andi (Dicky Satria).

Di tengah potensi kedekatan representasi yang saban hari kita lihat di tatanan budaya masyarakat kita termasuk alunan nuansa musik tradisional Sunda dari Dany Supit, terutama untuk pemirsa etnisnya, Aep Bancet bermain kuat walaupun terkadang eksploitasi fisik yang agak absurd dari sang sutradara terhadapnya sering mengarah ke toilet jokes yang membuat jengah. Namun harus diakui, hal tersebut memang relate dengan candaan masyarakat kita. Tambahan berupa konflik-konflik yang merakyat pun membuat semuanya tergelar dengan unsur kedekatan yang akrab bersama sematan kultur yang sangat kuat.

Tapi jagoannya tetaplah gaya pengarahan Aris Nugraha lewat penyuntingan match cut yang bukan hanya menguatkan sisi komediknya, tapi juga mengefektifkan kontinuitas storytelling filmnya sendiri. Ini dilakukan Aris bersama editor Ichwan JW dengan berani, saat sineas lain melakukannya hanya sebagian saja seperti di film-film komedi luar dan dalam seperti dalam film Warkop terbaru misalnya, namun Aris Nugraha berani melakukannya hampir di keseluruhan film. Bike Boyz bahkan lebih berani lagi melangkah ke ekspansi yang jarang-jarang dilakukan produk sejenis di film kita dengan tonal shift yang sebenarnya sudah di-set up sejak adegan pembukanya. Membelokkan tone-nya ke konflik lebih gelap dengan sematan adegan aksi yang digarap cukup serius untuk film-film sejenis.

Lagi-lagi, walaupun menggelar potensi keleluasaan pengembangannya ke sebuah sekuel, Aris Nugraha sudah memberi penekanan kuat bahwa sebuah style penyutradaraan memang tak selamanya harus bermain di zona aman sekadar sebuah fans service belaka. Dalam tiap sisinya, Bike Boyz sudah berdiri kuat di atas kekuatan representasinya yang sangat relevan dan membumi dengan mengeksplorasi aspek-aspek tematis lewat sematan kearifan lokal yang kuat.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

SURAT DARI KEMATIAN
PARASITE
1917
NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI

COMING SOON

DIGNITATE
THE OPERATIVE
VIOLET EVERGARDEN: ETERNITY AND THE AUTO MEMORY DO
TEEN SPIRIT