Loading your location

Review Bumi Manusia: Surat Cinta Hanung Bramantyo untuk Pram

By Ekowi26 Agustus 2019

Bumi Manusia adalah salah satu karya sastra terbesar bangsa Indonesia. Sudah sepatutnya adaptasi novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer ini dibebani begitu banyak ekspektasi. Setelah mengalami development hell (fase pra-produksi yang mengalami banyak hambatan) dengan pergantian sutradara hingga skrip, judul ini akhirnya dipercayakan kepada sutradara beken Hanung Bramantyo. 

Bumi Manusia menceritakan tentang masa kolonialisme Belanda dari mata seorang pribumi cerdas yakni Minke (Iqbaal Ramadhan). Minke yang mengenyam pendidikan di Hoogere Burgerschool (setara SMU di masa kini) menjadi anak keturunan pribumi yang berkesempatan untuk meraih pengajaran yang setara dengan mereka yang memiliki keturunan Belanda. Meskipun begitu, Minke menganggap bangsa ini bisa lebih besar dari sekadar jajahan negara Belanda. Ia melakukan perlawanan dengan senjata yang bisa ia andalkan yakni tulisan. Tulisannya memuat pemikirannya yang brilian dan membawa semangat perlawanan atas ketidakadilan di Indonesia.

Di sisi lain, ada sosok Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) yang banyak dicerca oleh sesamanya karena merupakan istri simpanan orang Belanda yang memiliki prinsip hidup bahwa belajar adalah kunci melawan penjajahan. Membesarkan seorang anak bernama Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh), ia menjadikan pengalaman sebagai guru terbesarnya. Kepintaran dan kegigihan Nyai Ontosoroh mampu menginspirasi Minke untuk meneruskan perjuangan membebaskan bangsa ini dari kebodohan. Bumi Manusia mengamati pergolakan rakyat Indonesia di bawah pemerintahan Belanda dan bagaimana watak, karakter, dan budaya negeri ini melanggengkan kolonialisme serta perjuangan berat yang harus ditanggung para pahlawannya.

Iqbaal Ramadhan yang banyak disangsikan oleh para penggemar setia novel tetralogi ini ternyata mampu lepas dari bayang-bayang tokoh Dilan yang ia mainkan pada film sebelumnya. Mental Minke yang revolusioner dan pemberani dapat ia translasikan lewat gestur dan ekspresi wajah. Sedikit kekurangan ada pada aksen Jawanya yang memang terdengar dibuat-buat, namun tetap bisa dikatakan bahwa peformanya sebagai Minke masih cukup aman. Selain Minke, tokoh Nyai Ontosoroh juga cukup baik dalam memerankan persona wanita yang tidak mengenal rasa takut pada apapun. Meskipun aksen Jawa Timur dari Minke yang kurang maksimal, akan tetapi apresiasi tinggi harus kita berikan karena Iqbaal tetap mampu melafalkan intonasi dalam bahasa Belanda dengan cukup baik. Sha Ine Febriyanti juga tidak kalah mahir dalam menggunakan bahasa Belanda yang terdengar cukup lancar dilontarkan.

Dalam film ini, Hanung Bramantyo selaku sutradara sukses menggambarkan gaya hidup kelas borjuis di Jawa dengan sangat baik, seperti penggambaran keluarga priyayi yang hidup pada jaman itu.  Dengan detail yang teliti, Hanung tidak hanya mampu menggambarkan penampilan luar seperti kehidupan dengan kenyamanan materi dan kekayaan, tetapi juga nuansa dingin, kekosongan, dan tekanan-tekanan psikologis dalam dunia materialistis pada sebuah rumah tangga kaum borjuis. Permusuhan antara Nyai Ontosoroh dengan anak lelakinya disajikan secara rinci dan meyakinkan. Juga penggambaran saat Minke merasa agak canggung (sebagai pribumi Jawa) ketika bertemu dengan keluarga Nyai Ontosoroh untuk pertama kalinya dan pertemuannya dengan gadis Eurasia pertama yang berbicara padanya tanpa memandang status, juga digambarkan sangat baik.

Dengan cerdik, Hanung juga sukses menggambarkan perbedaan tajam dalam hukum yang berlaku kepada kelompok yang berbeda. Mereka yang asli bangsawan menikmati hak istimewa tertentu yang tidak tersedia bagi pribumi jelata, tetapi juga tidak banyak hak istimewa yang dinikmati oleh mereka yang blasteran. Hingga pada akhirnya, warga Eurasia adalah warga kelas dua dibandingkan dengan warga Eropa Murni.

Ada satu kelemahan dari film ini yang cukup disayangkan, yakni penggambaran karakter di film ini yang begitu hitam putih. Entah kesalahan ini terletak pada kurangnya eksplorasi aktor dan aktris yang ada di dalamnya, atau kurangnya pengarahan dari sutradara, sehingga tidak cukup adanya kedalaman karakter pada kepribadian para tokoh. Tokoh baik selalu memiliki atribut baik, begitu pun sebaliknya di mana tokoh antagonis selalu lekat pada atribut tercela tanpa memberikan ruang bagi fitur lain yang biasanya bisa ditemukan pada manusia umumnya.

Perubahan scoring dari adegan netral ke adegan yang menampilkan tokoh antagonis juga terasa kurang mulus. Namun, bagi penonton yang belum membaca novelnya, film ini sepertinya sudah cukup merangkum esensi cerita yang ada di buku tersebut. Apabila dilihat dari sudut pandang pembaca novel, Bumi Manusia kelihatan terburu-buru dalam mengelaborasikan narasi yang ingin dibangun. Durasi film yang panjang rupanya masih belum cukup untuk menampung dan menampilkan semua gagasan Pramoedya Ananta Toer dalam bentuk visual. Masih ada beberapa lubang pada cerita atau adanya adegan tanpa pengantar yang cukup sehingga berimbas kurang pahamnya penonton atas esensi ceritanya.

Namun hal tersebut terselamatkan oleh sektor desain produksi yang ciamik dalam film ini. Pemilihan kostum yang sesuai kasta para karakternya, hingga cara penggunaan senjata sesuai dengan budaya serta adat sang tokoh ditampilkan dengan cukup detail. Rupanya departemen teknis film ini mengerjakan pekerjaan rumah dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari kandungan sastranya yang di beberapa bagian terasa segmented, Bumi Manusia tetap akan dapat dinikmati oleh penonton kasual. Relevansi dengan budaya masa kini pun masih bisa diamati dan ditarik benang merahnya.  Jika dibandingkan dengan karya film periodik Hanung Bramantyo lainnya, film ini bisa dikategorikan sebagai yang cukup baik. Sungguh durasi tiga jam yang berlalu amat cepat!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

JURASSIC WORLD DOMINION
SEE FOR ME
MINIONS: THE RISE OF GRU
EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE

COMING SOON

SAYAP SAYAP PATAH
WAY DOWN
THOR: LOVE AND THUNDER
HELLO GHOST