Loading your location

Review Childs Play: Kembalinya Chucky Si Boneka Kejam

By Ekowi09 Juli 2019

Jauh sebelum generasi milenial mengenal boneka terkutuk bernama Annabelle, ada boneka pembunuh berantai yang sudah lebih dulu menjadi legenda dan menghantui penonton di dunia. Boneka itu bernama Chucky. Ya, Chucky adalah boneka yang paling mengerikan dan telah menghantui moviegoers sejak tahun 1980-an.

Dalam versi terbaru “Child’s Play” ini, Chucky bukanlah boneka yang dijadikan perantara entitas gaib untuk berbuat keji. Tidak ada yang namanya boneka kerasukan. Jaman sudah berubah. Kini seorang Chucky pun dapat menjadi ikon milenial. Di-upgrade dengan sepaket pemrograman mutakhir, Chucky kini tidak hanya bisa melompat sambil menikam orang dengan pisau.

Ia adalah perangkat canggih yang bisa terhubung ke internet. Ia bahkan dapat sinkron dengan televisi dan ponsel dengan teknologi terkini, hingga mampu mengendalikan drone. Namun, dirinya tetap saja dapat merasakan cemburu dan sakit hati layaknya manusia biasa.

Child's Play berkisah tentang seorang Ibu bernama Karen (diperankan Aubrey Plaza) yang memberikan sebuah boneka mainan sebagai hadiah ulang tahun kepada putranya, Andy (diperankan Gabriel Bateman). Tanpa mereka berdua ketahui ternyata boneka tersebut memiliki sifat dan karakter yang menakutkan.

Di film originalnya, dikisahkan bahwa Chucky si boneka kerasukan roh sang pembunuh berantai sehingga berubah menjadi kejam dan menakutkan. Namun kali ini si boneka tidak lagi kerasukan roh, melainkan memiliki masalah berupa kode pemrograman yang sengaja dibuat cacat, sehingga tidak lagi memiliki AI (artificial intelligence) sesuai dengan program awalnya.

Di film ini, sosok boneka bengis tersebut memiliki beberapa nama panggilan, yakni Chucky, Buddi, dan Chode. Siapapun itu, ia bukanlah boneka wanita dengan senyum mengerikan yang bisa berpindah tempat dalam sekejap mata. Ia adalah robot canggih yang memiliki kemampuan memukau dalam memproses dan meniru tindakan orang di sekitarnya, dengan mengesampingkan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan olehnya. Ia adalah sesosok teman baik dan menggemaskan, yang juga bisa menjadi mesin pembunuh dalam sekejap.

Dengan durasi yang cukup pas, yakni 90 menit, terdapat beberapa adegan kematian yang dirangkai apik oleh sesosok boneka dengan memanfaatkan teknologi terbarukan. Hal tersebut merupakan terobosan yang fresh untuk genre horor- slasher masa kini. Percayalah, sekuen-sekuen brutal bersimbah darah di film ini akan memberikan kesenangan tersendiri bagi kalian penggemar film berjenis serupa. Tentu saja sebuah peningkatan dari film-film Chucky sebelumnya.

Seperti yang telah disinggung di awal, latar belakang munculnya Chucky menjadi faktor pembeda dengan film originalnya. Di film aslinya, boneka Chucky digambarkan kerasukan roh pembunuh berantai. Namun di film ini, Chucky diceritakan ‘menjadi jahat' karena dua faktor, teknologi dan campur tangan manusia. Chucky adalah sosok boneka malfungsi.

Evolusi konsep ini seakan mengikuti perkembangan jaman, bukannya tetap mempertahankan konsep lama yang bisa jadi terlihat usang di mata penonton. Tyler Burton Smith (sang penulis naskah) ternyata mampu membuatnya menjadi sangat cocok untuk tayang di era milenial. Mungkin satu-satunya persamaan mendasar antara film ini dengan versi originalnya adalah tetap adanya selipan kritik sosial terhadap perilaku konsumtif masyarakat.

Gabriel Bateman yang memerankan sosok Andy, tak disangka-sangka mampu tampil memukau. Transisinya saat pertama bertemu dengan Chucky hingga proses adaptasi dan akhirnya takut kepada sang boneka pembunuh, digambarkan dengan sempurna oleh Bateman.

Mark Hamill yang bertindak sebagai pengisi suara Chucky berhasil menampilkan sosok sang boneka pembunuh sebagai karakter yang mengerikan namun tetap elegan, walaupun sebelumnya banyak pihak yang meragukan kualitas suaranya. Namun ia berhasil membayar lunas keraguan tersebut.

Brian Tyree Henry (yang berperan sebagai Detektif Mike Norris) sejatinya tampil cukup oke. Namun sayang porsi tampilnya masih dirasa terlalu sedikit, oleh karena humor dan celotehan-celotehan yang dilontarkannya ternyata cukup efisien dan bekerja tepat untuk menjaga ketertarikan kita terhadap film ini jika dirasa tindakan-tindakan membunuh yang dilakukan Chucky terlalu mengerikan dan sadis untuk disaksikan.

Teror Chucky kian mengerikan berkat hasil kerja apik di bagian tata visual. Sinematografi garapan Brendan Uegama berhasil membangun mood lewat permainan kamera dan pencahayaannya. Kombinasi warna merah dan biru temaram di banyak adegan mampu menguatkan kesan modern yang tidak disangka-sangka cocok berada di dalam sebuah film beratmosfer horor.

Tak lengkap rasanya jika dalam film horor tidak menyinggung unsur musiknya. Dan aspek musik adalah salah satu yang paling kuat bekerja di film ini. Bear McCreary berhasil menjadikan scoring gubahannya sebagai salah satu aspek kuat dan krusial yang sangat efisien menyajikan ketegangan. McCreary tidak muluk-muluk mengkreasikan musik senyap pengantar jumpscares seperti dalam kebanyakan film horor lain yang sungguh membuat depresi. Ia lebih memilih untuk mengombinasikan tone suasana teror dengan tone suasana petualangan di dalam rangkaian-rangkaian musiknya.

Overall, "Child's Play" versi modern ini berhasil menempatkan dirinya sebagai film yang luar biasa menghibur namun "dengan cara yang mengerikan". Dimulai dengan prolog yang menggebu-gebu berkat iringan musik McCreary serta dibawakan oleh jajaran aktor impresif, menjadikan Child’s Play sebagai sebuah tontonan mengasyikkan dalam tiap detiknya hingga kredit akhir tiba.

Penasaran dengan kisah selengkapnya? Saksikan Child's Play yang tayang sebentar lagi di seluruh bioskop Indonesia. Jangan lupa pantau jadwal tayangnya di sini ya!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

ANNA
TOY STORY 4
THE LION KING
THE HUSTLE

COMING SOON

ESCAPE PLAN: THE EXTRACTORS
FAST & FURIOUS: HOBBS & SHAW
PERBURUAN
ROBO-DOG