Loading your location

Review Danur 3 Sunyaruri: (Masih) Andalkan Jump Scare Seperti Pendahulunya

By Ekowi26 September 2019

Walaupun menjadi genre yang tidak pernah mati dalam industrinya, tak hanya di Indonesia, genre horor memang kerap dipandang jadi degradasi di film kita. Bukan tak ada yang bagus, hanya saja jumlahnya yang tidak berbanding seimbang dengan banyaknya produk- produk aji mumpung yang kerap jadi solusi jualan aman dengan bujet rendah namun tetap ditonton banyak orang.

Dalam konteks box office, harus diakui tiap kali angsuran filmnya dirilis, Danur selalu saja mendapat pendapatan lebih dari sejuta tak sampai seminggu rilis dan terus naik ke studio-studio besar sehingga menyisakan antrian begitu panjang di tengah lesunya genre ini belakangan. Danur harus diakui merupakan sebuah fenomena. Nanti dulu soal latar source novel best seller “Gerbang Dialog Danur” karya Risa Saraswati, yang menyebutkan bahwa Danur merupakan pengalaman nyata di balik 5 arwah anak Belanda yang bersahabat dengannya itu, serta proses pembuatan yang didasari amanat hingga kursi yang harus dikosongkan di tiap pemutarannya. Percaya atau tidak, gimmick promosi yang memang sangat terkoneksi dengan kepercayaan masyarakat kita soal mistis atau bukan, ataupun nama Prilly Latuconsina dengan fanbase-nya yang tak kecil memang sangat efektif. Sekarang, mari kita berbicara soal filmnya.

Risa (Prilly Latuconsina) semakin disibukkan dengan tugas kampus dan menulis draft novelnya. Setiap ia merasakan sesuatu, selalu dituangkan dalam sebuah tulisan di laptopnya. Risa masih tinggal berdua dengan adiknya, Riri (Sandrinna Michelle). Kedua orangtua mereka masih berada di luar kota. Kesibukan Risa dan hubungan asmaranya dengan Dimasta (Rizky Nazar), seorang announcer radio di Bandung membuat Risa makin jarang bermain lagi dengan kelima teman hantunya yaitu Peter (Yassien Omar), Janshen (Daood), William (Jason Lionel), Hans (Alessandro Rizky) dan Hendrik (Matt White).

Keisengan Peter CS saat Risa merayakan ulang tahun pacarnya di rumah membuat Risa kesal. Risa tak ingin gara-gara teman hantunya itu Dimasta beserta teman-teman radionya yaitu Anton (Umay Shahab), Raina (Syifa Hadju), Clara (Steffi Zamora) dan Erick (Chicco Kurniawan) mengetahui semua ini. Risa bahkan sampai marah dan ingin menutup mata batinnya agar bisa menjadi manusia normal lagi.

Keinginan Risa menutup mata batinnya itu terwujud saat ia sedang menulis buku di sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Di sana ia bertemu dengan seorang hantu wanita bernama Kartika (Hayati Azis) dan memberikan sebuah mantra untuk menutup mata batin. Setelah mengucapkan mantra itu, Peter CS menghilang dari rumah Risa. Perginya Peter CS membuat Risa malah merasakan kehampaan atau Sunyaruri. Pasalnya, sudah bertahun-tahun lamanya teman-teman hantu itu selalu menemani Risa dalam segala hal.

Usai mata batinnya ditutup, Risa dan Riri mulai merasakan hal-hal aneh di rumah mereka. Setiap harinya, lingkungan di sekitar rumah mereka selalu diguyur hujan sangat deras tanpa henti. Riri yang masih sekolah bahkan menemukan keanehan karena setelah keluar dari lingkungan rumah, cuaca menjadi panas terik bahkan di Bandung sendiri, kota yang menjadi setting film ini, sudah beberapa hari tidak diguyur hujan. Keanehan lainnya mulai bermunculan. Risa selalu mendapati lantai rumah tiba-tiba basah seperti bekas jejak kaki dari guyuran hujan, beberapa draft novel hilang, masih bisa mencium bau Danur hingga kondisi mata Risa pun tiba-tiba bengkak secara mendadak tanpa sebab.

Melihat kondisi fisik kakaknya yang semakin tak biasa, membuat Riri khawatir. Ia lalu mencoba untuk memberitahukan kondisi Risa yang sesungguhnya pada Dimasta. Di saat Risa seorang diri di rumah, ia dihantui oleh sosok wanita misterius yang selalu menyerang Risa dan meminta Peter CS untuk kembali. Siapakah wanita misterius itu? Mengapa ia menyerang dan menyakiti Risa?

Dari sisi filmis dalam genre-nya, sebenarnya tak ada yang terlalu spesial dari Danur 3 Sunyaruri. Sekalipun diilhami kejadian nyata serta personal menurut kreatornya, almost offers nothing new, plotnya sudah banyak dipakai di film-film sejenis, lokal maupun luar. Skrip yang ditulis oleh Risa bersama Lele Laila pun tak berbeda jauh dibanding angsuran- angsuran Danur sebelumnya. Selain tak semua bangunan karakternya digagas secara seimbang hingga latar sinister/villain yang lagi-lagi sangat tipikal di tema horor kita, Danur memang lebih menyisakan amunisi horornya lewat adegan-adegan jump scare hingga make-up dan tampilan seram yang memang selalu meyakinkan di balik sosok hantu-hantunya.

Namun dibanding banyak film lain yang melulu mengandalkan usaha menakut-nakuti namun meloncat-loncat dalam penceritaan, sutradara Awi Suryadi sepertinya adalah motor yang tepat untuk film ini. Bukan tak punya kekurangan, namun kekuatan utamanya ada dalam framing yang rapi dari Awi dan penata kamera Adrian Sugiono dalam menyusun pengadeganan untuk mengantarkan narasi dan penceritaan yang lebih runut. Deretan film horor Awi (Loe Gue End, Badoet) paling tidak sudah menunjukkan hal itu. Bahwa dalam genre-nya, Awi Suryadi merupakan storyteller yang cukup baik untuk mengangkat kelas film horor yang disutradarainya.

Tetap ada beberapa elemen yang terlalu klise dalam rentetan terornya, seperti jump scare serta make up yang kelewat mendistraksi, namun Danur 3 Sunyaruri memang tak bermaksud mengedepankan twist dan hal-hal sejenis. Lupakan horor-horor kacangan, Danur 3 Sunyaruri memang bukan sepenuhnya sebuah atmospherical horror yang berusaha kelihatan lebih pintar serta minimalis seperti film-film horornya M. Yusuf (Angker, Kemasukan Setan, Misterius) misalnya, namun lebih straight out simple menggelar scare play-nya. Tapi bukan pula horor ala rumah produksi lain yang lebih mengedepankan visual dan star factor dengan production design serba wah tetapi jarang-jarang tampil kuat dalam keseluruhan penceritaannya.

Namun, di tangan Awi, meski belum sepenuhnya maksimal, atmosfer Danur 3 Sunyaruri yang nyaris dibangun di atas single set itu tetap terbangun dengan baik lewat penataan cahaya dan shot-shot yang bisa sedikit menutupi kebutuhan jump scare-nya untuk ditampilkan tak mendominasi dan cukup proporsional. Hal-hal kecil seperti sound upright piano pun cukup ter-handle lumayan cermat. Penggunaan lagu rakyat berbahasa Sunda berjudul Boneka Abdi juga cukup memperkaya atmosfer horornya. Dan paling tidak, dalam kepentingan standar horor yang baik dengan villainous creature yang remarkable, Danur 3 Sunyaruri cukup memenuhi syarat lewat penampilan sosok hantu-hantunya.

Keunggulan-keunggulan itu agaknya sudah cukup membuat Danur 3 Sunyaruri sebagai horor lokal yang masih jauh lebih baik dari produk asal-asalan yang selama ini memenuhi sinema kita. Bahwa kekuatan framing untuk keperluan naratif terutama di genre horor yang tak memiliki kekuatan lebih dari sisi plot, adalah sesuatu yang penting untuk mengangkat kelasnya secara keseluruhan.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

99 NAMA CINTA
ATI RAJA
LOVE IS A BIRD
MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL

COMING SOON

PAGAL PANTI
LAST CHRISTMAS
STEP UP YEAR OF THE DANCE
PORORO 5: TREASURE ISLAND ADVENTURE