Loading your location

Review Film Bebas: Suguhkan Konflik Menyentuh dan Mengaduk Emosi

By Ekowi07 Oktober 2019

Film mengenai persahabatan sejumlah gadis ABG sudah seringkali dibuat. Dari Indonesia, Ada Apa Dengan Cinta? (2002) adalah yang paling populer, karena menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman nasional. Dari negeri tetangga kita, Thailand, juga lahir sebuah film persahabatan yang mendapatkan sambutan hangat pula di Indonesia, Crazy Little Thing Called Love (2010). Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik dari kedua film tersebut, sama- sama menyoal manis getirnya persahabatan di masa remaja. Sebuah plot yang sesungguhnya tidak baru, karena berulang kali mengalami bongkar pasang dengan sedikit modifikasi di sana-sini. Namun uniknya tidak pernah membosankan untuk selalu disimak.

Jika diteliti lebih cermat, sesungguhnya Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love saling bertolak belakang. Judul yang pertama adalah tentang cewek cantik dari geng populer yang jatuh cinta pada cowok kutu buku, sedangkan judul kedua tentang cewek culun yang kesengsem dengan cowok tampan populer. Korea Selatan, yang tanpa henti menghasilkan film bermutu dan diprediksi akan mampu menjelma sebagai pusat perfilman Asia, tak mau kalah. Kang Hyung-chul, pembesut film komedi seru nan laris, Scandal Makers (2008), melahirkan Sunny (2011) sebagai tandingan. Secara tema, Sunny tak berbeda jauh dengan dua judul di atas.

Saat dirilis pada tahun 2011 silam, Sunny berhasil menggaet 7,3 juta penonton dengan pendapatan lebih dari 45 juta Dolar Amerika Serikat. Hasil itu, membuat Sunny menjadi film lokal terlaris di box office Korea Selatan pada tahun tersebut. Duet sineas kondang Indonesia Mira Lesmana dan Riri Riza pun tertarik untuk “melokalkan” kisah tersebut. Mengubah judul filmnya menjadi Bebas, serta menghadirkan kota Jakarta sebagai setting cerita di dua masa berbeda, era 1995-1996 dan di tahun 2019.

Bebas bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Vina (Maizura), pelajar SMA yang berasal dari Sumedang, Jawa Barat, yang baru saja pindah ke SMA bergengsi di Jakarta. Pada hari pertama di sekolah, Vina ditertawakan karena logat bicaranya dan juga diintimidasi oleh seorang siswa laki-laki bernama Andra (Giorgino Abraham). Beruntung, Vina ditolong oleh empat perempuan dan seorang laki-laki yang disegani di sekolah tersebut. Lima orang itu adalah Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Pricilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), serta Jojo (Baskara Mahendra). Mereka membantu Vina beradaptasi dengan kota Jakarta. Keenamnya pun lalu membentuk geng bernama Bebas.Sayang, sebuah peristiwa tragis kemudian harus memisahkan mereka. Semua kejadian di masa remaja ini terungkap ketika Vina dewasa (Marsha Timothy) tanpa sengaja bertemu kembali dengan Kris dewasa (Susan Bachtiar) di rumah sakit. Kris yang usia hidupnya divonis tidak akan lama lagi, meminta Vina untuk mengumpulkan kembali Geng Bebas agar ia bisa bertemu dengan semuanya untuk terakhir kalinya.

Film Bebas tidak membicarakan cinta secara ceriwis layaknya judul-judul yang telah disebutkan di atas tadi. Dari segi penuturan, Bebas mengingatkan kita pada film Now and Then (1995) yang dibintangi oleh Demi Moore, dengan memakai alur maju mundur yang mencampur begitu saja masa lalu dan masa kini. Sebagai sutradara, Riri Riza tidak pernah memberikan detail yang banyak untuk menggambarkan setting. Petunjuk yang diberikan kepada penonton hanya berupa lagu-lagu yang sering diperdengarkan di sejumlah adegan. Seperti saat seorang penyiar radio menyebut tembang milik Iwa K berjudul “Bebas”, maka penonton sudah bisa menebak bahwa film ini mengambil setting di tahun berapa.

Sekalipun memiliki gaya bertutur yang nyaris serupa dengan film Now and Then, kedua film ini rupanya tetap jauh berbeda. Now and Then cenderung optimis dalam memandang kehidupan, dibuktikan dengan masa dewasa dari setiap tokoh yang digambarkan mampu menggapai apa yang disebut sebagai American Dreams. Sedangkan Bebas mencoba untuk realistis, yang berarti berjalan suram dan kemungkinan besar akan berjalan tidak sesuai dengan harapan mayoritas penonton. Konflik yang dihadapi oleh karakter-karakter dalam film Bebas terlihat lebih berat.

Para anggota Geng Bebas tidak hanya dihadapkan pada permasalahan seputar menstruasi, cinta pertama, atau bagian kewanitaan yang mulai membesar, tetapi lebih jauh dari itu; perihal kenakalan remaja. Mereka pun tidak segan-segan melakukan tawuran dengan geng cewek lain. Ujian persahabatan yang disodorkan oleh Mira Lesmana dan Gina S. Noer sebagai penulis skenario ternyata tidak bersinggungan dengan masalah asmara, melainkan bagaimana mereka menyikapi persoalan internal karena kesalahpahaman atau ketika pihak luar mengintervensi. Unsur romantisme hanya dijadikan sebagai bumbu penyedap saja. Ancaman sesungguhnya bagi geng Bebas adalah sosok Andra, teman sekelas mereka yang alkoholik dan temperamental.

Dari luar, mungkin Bebas adalah tipikal film drama kebanyakan yang memulai kisahnya dengan penuh keceriaan. Akan tetapi seiring berjalannya film, ternyata kisahnya menjadi kian suram, mengharu biru, bahkan cenderung depresif. Namun, untuk mengurangi kadar depresif kisahnya, Riri Riza tetap menyelipkan humor renyah dan berkelas, tidak jarang pula menjadikan budaya populer Indonesia saat itu sebagai referensi, seperti penggunaan bahasa gaul, atau tontonan televisi yang digemari di tahun-tahun itu.

Konflik yang dihadirkan film ini mengena, menyentuh dan sanggup mengaduk-aduk emosi. Bebas tidak hanya sekadar membawa kita untuk tertawa, tersentuh, dan menangis, tetapi juga menghendaki setiap penontonnya untuk berkontemplasi setelah menyaksikannya. Sesuatu yang jarang ditemukan dalam sebuah film remaja. Seperti sebuah ungkapan, “manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang menentukan.” Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh sang pembuatnya.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, 1 minggu kemudian, apalagi 20 tahun kemudian. Adegan yang memperlihatkan Vina dewasa sedang menonton sebuah video yang dibuat ketika dia masih SMA adalah momen paling menyentuh sekaligus menyakitkan dari film ini. Adegan tersebut menjadi simbol bahwa kesuksesan seseorang lebih ditentukan pada nasib baik, keberuntungan, dan kerja keras.

Riri Riza juga berhasil menggambarkan detil-detil “grown-up process” dan “the loss of innocence” secara berbeda di setiap karakternya. Film Bebas juga hadir dengan sensitivitas tinggi di atas sense of playfulness dari Riri Riza, yang akhirnya membuat proses re-interaksi tiap karakter saat kembali bereuni mengalir luar biasa rapi dan lancar di atas detil-detil juara dari gestur, ekspresi hingga chemistry mereka yang tampil begitu apa adanya. Ditunjang oleh keberadaan beberapa theme song klasik sebagai unsur yang padu, dan pada akhirnya sangat berhasil mengulang keajaiban film aslinya.

Selebihnya adalah sisi teknis yang juga tergarap dengan baik. Ada sinematografi cantik dan konseptual dari Gunnar Nimpuno di balik kompromisme Riri Riza ke beberapa shot yang mungkin tak seperti karya dia biasanya. Namun hal itu tak lantas membuat kita sebagai penonton menjadi terganggu, seperti misalnya beberapa shot penempatan product placement yang punya relevansi jelas terhadap tujuannya sebagai produk yang memang ingin menjual nostalgia.Apapun itu, di atas segalanya, film Bebas jelas punya kekuatan untuk menyadarkan kita bahwa adanya ensemble casts yang berpadu dengan theme song yang melegenda tak akan berjalan efektif tanpa adanya pengarahan yang cermat dan tepat dari orang-orang yang ada di belakang layarnya, dalam hal ini adalah sosok Riri Riza dan Mira Lesmana.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

GEMINI MAN
ONE PIECE: STAMPEDE
PRETTY BOYS
ABOMINABLE

COMING SOON

BIKE BOYZ
A SCORE TO SETTLE
QUEEN OF SPADES : THROUGH THE LOOKING GLASS
21 BRIDGES