Loading your location

Review Frozen II: Film Berkualitas dan Penuh Pesona untuk Keluarga

By Ekowi18 November 2019

Sebagai pionir film animasi, mungkin semakin sulit bagi Walt Disney Studios untuk mempertahankan kedigdayaannya, apalagi dengan banyaknya gempuran dari studio-studio animasi lain. Di satu sisi, kolaborasi mereka dengan Pixar yang sempat hampir berakhir beberapa tahun lalu itu memang jadi langkah sangat bagus untuk mempertahankan kelangsungannya, namun di sisi lain, effort teknologi animasi 3D lewat kiprah mereka bersama Pixar sekaligus menjadi bumerang untuk lini Animated Classics yang tetap mereka pertahankan. Selagi Pixar semakin melambung, Animated Classics series yang malah cenderung berusaha kelihatan se-modern mungkin mendekati approach Pixar malah mengalami penurunan dibanding karya-karya klasik mereka lebih dari satu dasawarsa terakhir.

Walau beberapa tetap berhasil di perolehan box office, tapi tak bisa dipungkiri, era Renaissance yang meneruskan legacy animasi klasik Disney ke karya-karya seperti The Little Mermaid, Beauty & The Beast, Aladdin hingga Tarzan di tahun 1999 silam dengan style musikal yang kental, mostly dari kolaborasi Alan Menken dan lyricist Howard Ashman yang meninggal di tahun 1991 sudah lama berakhir. Film Enchanted misalnya, yang dikombinasikan dengan live action serta film Tangled/Rapunzel yang kembali membawa komposer Alan Menken bisa dikatakan sedikit mendekati, namun belum bisa dikatakan berhasil kembali dengan seluruh kekuatan akan memori film-film klasik Disney tadi.

Tapi sekarang sambutlah Frozen II, sekuel dari film animasi yang sukses besar di tahun 2013 silam, yang merupakan adaptasi lepas dari dongeng legendaris Hans Christian Andersen, The Snow Queen. Kembali disutradarai Chris Buck bersama Jennifer Lee yang menunjukkan kepiawaian mereka meracik dongeng-dongeng terkenal yang sebenarnya tak juga bernuansa se-fun itu dengan signature Disney yang sangat kental. Funnier, much lighter, tapi bukan lantas berarti kehilangan core dongeng orisinilnya. Visi dan kepercayaan diri Disney yang biasanya tidak meletakkan ketenaran A-list actors sebagai pengisi suaranya pun tetap dipertahankan. Tapi itu belum apa-apa dibandingkan kekuatan lain yang tersimpan bagai timbunan es membeku di dalamnya.

Cerita Frozen II dibuka dengan kisah Raja Agnarr, ayah Anna dan Elsa yang menceritakan sebuah hutan ajaib yang pernah ia kunjungi. Hutan ajaib ini dipimpin oleh roh ajaib alam, dari unsur udara, api, air, dan tanah. Roh tersebut bisa menjadi baik dan jahat di saat yang bersamaan. Saat perjalanan sang raja menuju hutan ajaib, suatu hal terjadi dan membuat roh tersebut marah. Raja Agnarr hampir tidak selamat kala itu. Suara yang menakutkan, kabut gelap, dan gemuruh warga yang berhamburan ketakutan membuat situasi makin mencekam.

Alasan Raja Agnarr menceritakan kisah tersebut kepada kedua anaknya karena bermaksud untuk mengingatkan Elsa dan Anna bahwa suatu saat mungkin kejadian itu akan terulang kembali, dan mereka harus siap dengan segala konsekuensinya. Tentunya, kala cerita itu diperdengarkan, Elsa dan Anna menjadi ketakutan. Sang Ibu pun datang, dan menyanyikan lagu pengantar tidur.

Cerita lalu kembali ke masa sekarang. Kala kebahagiaan Anna datang setelah tiga tahun gerbang dibuka. Saat di mana Elsa, Kristoff, Olaf, Sven, dan lainnya berkumpul. Namun, kebahagiaan mereka berakhir ketika Elsa mulai mendengar suara misterius yang memanggil dari kejauhan. Anehnya, hanya Elsa yang mendengar suara tersebut. Usut punya usut, ternyata suara tersebut berasal dari hutan ajaib yang ayahnya ceritakan sewaktu ia kecil. Elsa mengikuti asal suara tersebut. Tanpa ia sadari, kunjungan Elsa ke hutan ajaib membangunkan hutan dan roh di dalamnya, dan kerajaan Arendelle diancam bahaya. Dalam perjalanannya di hutan ajaib, Elsa menemukan banyak kesulitan dan rintangan. Anna yang telah berjanji untuk selalu menjaga Elsa dari bahaya pun tak tinggal diam. Anna menyusul Elsa yang sedang berada di hutan ajaib. Bagaimanakah nasib mereka selanjutnya?

Seperti pendahulunya, Frozen II adalah sebuah film animasi yang begitu menakjubkan. Dalam penjabaran yang lebih luas, Frozen II tidak sekadar menakjubkan, tetapi juga cantik, cemerlang, cerdas, menghibur, menyenangkan, dan menghangatkan hati. Sebuah hiburan kelas atas dan penuh pesona untuk keluarga. Apabila sobat nonton berpikir film ini akan menjelma selayaknya animasi tentang putri kerajaan kebanyakan yang begitu menjemukan, maka bersiaplah untuk terkejut. Duo sutradara Buck dan Lee merangkai gelaran adegan yang merentang di sepanjang durasinya dengan memikat, mempunyai laju penceritaan yang cukup melesat cepat dengan memadukan aksi-roman-komedi secara sempurna. Sejak beberap menit pembuka film, kita semua akan tahu bahwa Frozen II akan menjadi sebuah film istimewa. Dan seiring berjalannya film, ini menjadi semakin menarik, yang berujung pada sebuah klimaks yang mengharukan nan menghentak.

Usaha Buck dan Lee dalam memanusiawikan karakter-karakternya untuk tetap jadi memorable sekaligus lovable di antara kontras metafora dongeng aslinya ke dalam sosok Elsa dan Anna yang bertolak belakang sekaligus merubah template tanpa menghilangkan banyak poin penting dalam kisah aslinya itu juga tergelar dengan solid. Salah satu unsur penting yang ada dalam banyak animasi klasik mereka, yakni wacky comedic character yang bisa jadi benar-benar ikonik pun berhasil dimunculkan lewat peran Olaf the Snowman yang disuarakan oleh Josh Gad. Hasilnya adalah petualangan seru tanpa sekalipun kehilangan heart factor yang dibangun luarbiasa kuat di sisterhood tale-nya sebagai interpretasi baru dongeng H.C. Andersen. Dan jangan lupakan pula post credit scene yang nyaris tak pernah ada di kebanyakan animasi klasik Disney lain, yang menekankan bahwa Frozen II tetap membawa sisi pendekatan baru yang tak melulu hanya dipenuhi dengan homage atau tribute.

Tapi hal terbaik dari Frozen II dalam membawa kembali kenangan atas kedigdayaan animasi Disney tentu adalah unsur musikalnya. Lama meninggalkan film-film Animated Classics Disney, di tangan Christophe Beck, komposer yang sebenarnya tergolong jarang berkolaborasi dengan Disney namun berhasil membawa remarkable feel dari karya-karya klasik Disney. Bersama scoring orkestral Beck, lagu-lagu seperti Into the Unknown, All Is Found, Lost in the Woods, dan Show Yourself benar-benar terasa ear-catchy, melodius sekaligus punya nuansa animasi klasik Disney yang sangat kuat. Duet voice cast dari Idina Menzel dengan Evan Rachel Wood berhasil mengantarkan soundtrack-nya dengan luarbiasa memikat.

Overall, Frozen II secara mengejutkan mampu memberikan sebuah hiburan keluarga yang menakjubkan dengan komposisi cerita dan karakter yang mengikat, lagu-lagu yang catchy, serta polesan animasinya yang mulus. Menonton Frozen II hanya sekali tidaklah cukup. Setelah selesai, sobat nonton dijamin ingin merasakan kembali pengalaman yang mengasyikkan ini lagi, lagi, dan lagi.

Jadi intinya, nonton Frozen II itu bikin nagih. Nggak percaya? Saksikan sendiri Frozen II yang bakal rilis serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 20 November 2019 mendatang. Jangan lupa cek jadwal tayangnya di sini ya!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

FROZEN 2
MARDAANI 2
JUMANJI: THE NEXT LEVEL
EGGNOID

COMING SOON

EXTREME JOB
JANIN
DABANGG 3
ABRACADABRA