Loading your location

Review Habibie & Ainun 3: Bukan Sekedar Drama Romantis Biasa

By Ekowi21 Desember 2019

Meski sedikit banyak berisi biopik kisah hidupnya, termasuk konflik-konflik seputar masa pemerintahannya, dari seorang menteri hingga Presiden, film Habibie & Ainun yang rilis di tahun 2012 silam pada dasarnya adalah sebuah love story yang akan membuat banyak orang merasa tersentuh ketika menontonnya. Karena kisah Habibie & Ainun adalah everybody’s story, dan esensinya adalah cinta. Tak heran, dari rencana pembuatan film lanjutan Habibie & Ainun 3, hingga teaser trailernya diluncurkan, dengan penggalan-penggalan akting Reza Rahadian yang dari awal sudah terasa sangat kuat mencoba masuk ke sosok Habibie dibalik perbedaan nyata fisik mereka, film ini sudah menarik perhatian banyak orang.

Ainun (Maudy Ayunda), sebagaimana remaja di usianya, punya kisah kasih yang cukup unik. Sejak SMA, Ainun sudah dikenal sebagai sosok cerdas yang menjadi pujaan di sekolahnya dan menjadi incaran banyak siswa laki-laki. Lalu, saat di bangku kuliah, Ainun yang telah menjadi mahasiswi kedokteran, menjadi sosok popular di lingkungan kampusnya. Ahmad (Jefri Nichols), yang berasal dari keluarga terpandang, adalah pria yang berani menyatakan cintanya kepada Ainun. Lantas apa yang membuat BJ Habibie menjadi pelabuhan terakhir perjalanan cinta Ainun?Lebih dari faktor utama yang paling diperlukan Habibie & Ainun, yakni chemistry dua pemeran utamanya yang membuat kita percaya terhadap sebuah kekuatan cinta dibalik sisi historikal karakter-karakternya, kredit terbesar dalam Habibie & Ainun jelas layak diberikan kepada Reza Rahadian.

Di balik perbedaan jelas fisik mereka, tanpa harus di-makeup berlebihan, tak juga perlu mengubah potongan rambutnya, Reza menampilkan akting terbaik dalam sejarah kariernya, melebur menirukan mimik, gestur hingga intonasi Habibie yang sangat khas. In almost every move, yang kita lihat di layar lebar bukan lagi Reza melainkan Habibie. Dan bukan berarti Maudy Ayunda tak ikut bersinar memerankan Ainun. Meski kerap banyak dipertanyakan, akting remarkable Maudy yang sering jadi penyelamat dalam film-film biasa yang diperankannya, turut memberi warna dalam chemistry sempurna itu. Pergolakan batinnya, perhatian dan kekhawatiran seorang kekasih, hingga ketegarannya menghadapi takdir di akhir hidupnya, dibawakan dengan sangat baik olehnya.

Skrip besutan Ifan Ismail juga menjadi faktor pembangun yang hadir dengan sangat baik. Detil-detil dialognya terjaga dengan kecermatan tinggi hingga selipan dialog-dialog resmi sesuai zaman serta bahasa asing yang well- blended ke storytelling-nya. Thrill-thrill yang dibangun juga cukup menarik, dari sempalan komedi hingga gambaran komikal beberapa konfliknya tanpa harus kelebihan porsi, meskipun di bagian tengah film masih terasa kurang berani. Namun yang terpenting, tentunya adalah bangunan atmosfer romansanya yang mampu muncul dengan dialog-dialog yang sangat believable. Satu keseimbangan pencapaian yang jarang didapat di film-film kita. You’ll laugh, smile and even cry at many scenes. Bahkan istilah-istilah memorable dalam kisah nyatanya, yakni “Gula Jawa” dan “Gula Pasir” yang disematkan Habibie untuk Ainun kembali ikut dimunculkan secara cukup ikonik.

Kekuatan selanjutnya adalah detil-detil penggarapan yang hadir dengan baik sekali di tangan Hanung Bramantyo beserta timnya. Dari set dan lokasi yang tampak tak menyia-nyiakan bujet gedenya, meskipun beberapa efeknya masih terlihat agak mentah, namun mampu tertutupi oleh sinematografi Yudi Datau dan Galang Galih yang cantik secantik kisah sejati Habibie-Ainun, tata artistik yang sangat cemerlang dari Murtono dan Edy Wibowo, hingga ke kecermatan tata rias dan tata kostum dari Retno Ratih Damayanti. Gubahan musik dari Tya Subiakto juga bekerja dengan baik memberi penekanan emosi bersama theme song “Kamu & Kenangan” ciptaan Melly Goeslaw yang dinyanyikan langsung oleh Maudy Ayunda, plus pengaturan akting sebagian pemeran pendukung lainnya yang hadir dengan detil cukup terjaga. Sekali lagi, etos kerja yang sangat terlihat punya keseriusan tinggi dalam penggarapannya.

Habibie & Ainun 3 bukan sekadar drama romantis murahan yang mengumbar dramatisasi berlebihan dan berfokus untuk mengalirkan air mata penontonnya. Sebagai penonton, kita sering muak dengan romansa macam itu yang sedikit-sedikit menampilkan tokohnya menangis seolah mereka orang paling sial seantero jagat raya dan dibumbui kisah cinta dengan romantisme super berlebihan dan begitu norak. Tapi Habibie & Ainun 3 berbeda. Memang ada dramatisasi, tapi sedari awal kita sudah tahu bahwa pasangan ini nyata dan begitu pula kisah cinta mereka. Ada rayuan dan kata-kata cinta yang terlontar tapi semuanya bukan sekadar penambah romantisme yang kosong, tapi bentuk ungkapan perasaan saling mencintai antara keduanya yang tulus dan sungguh-sungguh.

Ada kemesraan namun tidak disajikan secara berlebihan dan kemesraannya adalah bentuk cinta dan rasa memiliki antara mereka berdua. Ada juga air mata yang mengalir namun air mata tersebut bukan sekadar tempelan untuk membuat penontonnya berlinang air mata tapi sebuah bentuk cinta sejati di mana keduanya merasakan kesedihan yang sama akan kehilangan satu sama lain. Sobat nonton akan menyukai momen romantis film ini yang selalu dieksekusi dengan sederhana namun terasa begitu mengena dan menyentuh.

Pada akhirnya, Habibie & Ainun 3 adalah sebuah kisah cinta dewasa yang mampu menerjemahkan cinta sejati dalam arti yang sesungguhnya, tidak seperti film romansa lain yang hanya menjadikannya sebagai tempelan tak bermakna. Sebuah tearjerker yang tidak berlebihan dalam usahanya membuat penonton berlinang air mata. Cukup dengan memperlihatkan kisah sepasang manusia yang sungguh-sungguh saling mencintai secara tulus maka penonton akan otomatis tersentuh.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

MILE 22
THE TRUTH
SATU JIWA UNTUK INDONESIA (DARAH BIRU AREMA 2)
THE GENTLEMEN

COMING SOON

THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS
INVINCIBLE DRAGON
JODOHKU YANG MANA? (MOLULO 2)
KAMEN RIDER REIWA: THE FIRST GENERATION