Loading your location

Review Hanya Manusia: Angin Segar Film Bertema Kepolisian

By Ekowi14 November 2019

Film Hanya Manusia merupakan upaya terbaru mengangkat kehidupan anggota kepolisian Indonesia dalam sebuah sajian layar lebar, sesuatu yang cukup jarang ditemukan dalam film Indonesia, khususnya memasuki era 2000-an. Film arahan Tepan Kobain berdasarkan skenario dari Rebecca Bath, Monty Tiwa, dan Putri Hermansjah ini berfokus tentang seorang perwira muda bernama Annisa (Prisia Nasution) yang tergabung dalam Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Utara. Bersama Iptu Aryo (Lian Firman), Annisa ditugaskan mengusut sebuah kasus penculikan.

Kota Jakarta rupanya sedang diteror oleh kasus penculikan anak-anak di bawah umur. Beberapa korban ditemukan telah menjadi mayat. Annisa, seorang anggota Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Utara yang harus berbagi waktu antara tugas dan keluarga, ditugaskan untuk mengusut kasus tersebut. Tiap hari selalu ada korban. Tekanan yang dialami Annisa mencapai titik batas maksimal seorang manusia, terlebih ketika adik satu-satunya juga turut diculik oleh sindikat penculikan.

Sebagai sebuah karya film, yang harus diperhatikan adalah Hanya Manusia ini merupakan inisiatif dari Divisi Humas Mabes Polri. Jadi, sehalus apapun ungkapannya, film ini adalah sebuah upaya promosi, atau paling tidak public relation dari Kepolisian Republik Indonesia kepada khalayak umum. Cukup kentara bahwa film ini diniatkan menjangkau penonton generasi muda, sebagaimana terlihat dari pemilihan aktor populer dan pemeran lain yang relatif masih muda. Tidak ada salahnya, minimal film ini mengingatkan kembali bahwa di Indonesia ada sebuah profesi bernama polisi, yang mungkin bukan lagi menjadi cita-cita utama anak-anak zaman sekarang.

Karena dibuat dari instansi kepolisian, selayaknyalah Hanya Manusia tidak sekadar menampilkan karakter berprofesi polisi. Sumber informasi tentang kehidupan polisi yang cukup melimpah dan akurat, serta akses pada tempat dan peralatan militer yang tidak bisa dijangkau sembarang orang, harus dijadikan keunggulan utama. Untungnya, itu berhasil dimanfaatkan film ini. Hanya Manusia menunjukkan berbagai sisi dari kehidupan seorang polisi. Mulai dari kegiatan yang dijalankan, tanggung jawab yang harus diemban, juga gambaran bahwa institusi ini mempertemukan orang-orang dengan beragam latar karakter dari penjuru Indonesia, dengan ragam motivasi dan tujuan.

Hasil akhir Hanya Manusia yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini sama sekali tidak menyimpang dari maksud dan tujuan dibuatnya. Di satu sisi film ini secara detail dan natural "mempromosikan" kehidupan para anggota kepolisian. Di lain sisi film ini juga memberikan hiburan yang mudah terkoneksi dengan penonton luas, yaitu kisah persahabatan dan cinta, plus adegan yang melibatkan peralatan-peralatan pendukung vital milik jajaran kepolisian seperti senjata api hingga kendaraan barracuda. Belum lagi semuanya dikemas dengan kelengkapan teknis bernilai tinggi, khususnya dari penataan gambar dan suara.

Pertanyannya sekarang, mampukah itu semua membuat film ini menjadi sebuah sajian yang istimewa? Jawabannya sangat relatif. Satu hal yang jelas, film ini dengan sangat baik menjalankan fungsinya sebagai film "promosi" tanpa harus melakukan hard-selling (terlalu terlihat beriklan). Segala elemen di film ini berhasil ditampilkan sesuai konteks. Akan tetapi, sisi kisah persahabatan dan romansa yang sebenarnya ingin ditonjolkan, malah kalah karismatik dari paparan kehidupan khas seorang anggota kepolisian.

Salah satu titik yang lemah dari film ini adalah hubungan persahabatan Annisa dan Aryo. Keduanya digambarkan memiliki sifat dan latar belakang yang berbeda. Sayangnya, isyarat bahwa mereka punya ikatan persahabatan tidak diperdalam lagi. Akibatnya salah satu poin penting di adegan akhir, ketika Aryo melakukan aksi bak Rambo, kurang memiliki motivasi yang kuat. Pun begitu dengan unsur romansa yang digambarkan abu-abu. Namun hal tersebut bisa dimengerti, karena mungkin sang pembuat film ingin konsisten menonjolkan karakter anggota kepolisian yang menjunjung tinggi sikap profesionalisme saat bekerja.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari hal-hal tersebut, malah bagian ini masih terlihat realistis. Tetapi, saking realistisnya, jadi terasa kering. Namun, hal itu sebenarnya bisa disanggah, karena para anggota kepolisian masih dididik secara "tradisional". Dan secara keseluruhan, patut diakui bahwa Hanya Manusia adalah sebuah film yang dibuat dengan kualitas produksi yang baik. Niat dan tujuannya yang cukup ambisius sukses diterjemahkan menjadi tontonan yang cukup menghibur, informatif, mudah diikuti, dan tidak buang-buang waktu. Film ini pun sebenarnya layak menjadi sebuah penyegar, setelah sekian lama penonton Indonesia hanya bisa menikmati film yang kental berlatar kepolisian ataupun militer dari luar negeri.

Di samping itu, Hanya Manusia juga mampu menunjukkan bahwa Tepan Kobain adalah seorang pengarah cerita yang cukup handal. Bukan hanya berhasil mengeksekusi sisi drama dari film ini. Sisi aksi yang mengisi paruh ketiga penceritaan Hanya Manusia juga berhasil disajikan dengan baik. Dengan penataan intensitas cerita di adegan laga yang terbangun dengan baik serta paduan tatanan gambar karya sinematografer Rollie Markiano, arahan musik Ganden Bramanto serta desain produksi yang cukup berkelas, Tepan Kobain berhasil menggarap salah satu adegan aksi terbaik yang disajikan dalam sebuah film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Ini jelas adalah sebuah debut pengarahan yang cukup menjanjikan.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

TERRA WILLY
DARK WATERS
MARDAANI 2
21 BRIDGES

COMING SOON

ABRACADABRA
ANAK GARUDA
STAR WARS: THE RISE OF SKYWALKER
THE COURIER