Loading your location

Review Hayya: Tampil Lebih Universal dan Fresh Dibanding Pendahulunya

By Ekowi26 September 2019

Isu kemanusiaan di muka bumi ini selalu menarik untuk dibahas lebih dalam. Karena dari persoalan tersebut, ada banyak hikmah hingga pengorbanan yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua. Hal itu yang rupanya mendasari Rumah Produksi Warna Pictures untuk membuat film Hayya. Film bergenre drama bernuansa reliji yang bisa melihat sisi lain dari gejolak penindasan kemanusiaan khususnya di Palestina. Hayya juga merupakan sekuel dari 212: The Power of Love, film rilisan tahun lalu yang sukses di jajaran box office film Indonesia.

Dikisahkan di film ini, yakni Rahmat (Fauzi Baadilla), memutuskan untuk menjadi relawan kemanusiaan di perbatasan kamp pengungsian Palestina. Saat bertugas menjadi relawan kemanusiaan dan jurnalis di daerah tersebut, ia pun bertemu sosok Hayya (Amna Hasanah Sahab), seorang gadis lugu yatim piatu korban konflik di Palestina. Kehadiran Hayya banyak membawa perubahan terhadap kehidupan Rahmat, hingga suatu ketika Rahmat harus kembali ke Indonesia karena harus menikah dengan Yasna (Meyda Sefira), membuat Hayya terluka. Hubungan Rahmat, Hayya dan Yasna tiba-tiba berubah menjadi kompleks, lucu dan menegangkan.

Seperti yang disinggung sebelumnya, film ini merupakan sekuel dari 212: The Power of Love. Namun yang membedakannya ialah bahwa Hayya bersifat lebih universal, lebih cair dan dapat diterima masyarakat luas. Film ini juga lebih mengedepankan sisi kemanusiaan yang lebih kental, meski rasa Palestina tetap kuat. Karena sejatinya, rasa kemanusiaan itu tak mengenal batas negara atau agama. Ia tumbuh dari keajaiban nurani setiap manusia.

Selain itu, Hayya terasa lebih segar dengan kehadiran Ria Ricis sebagai asisten rumah tangga dengan logat Malaysia yang kental dengan tingkahnya yang kocak. Membuat film ini tidak hanya mengharu biru, tapi juga membuat orang tergelak.

Dengan konsep tokoh utama sebagai seorang wartawan di suatu tempat yang memiliki polemik bencana atau polemik peperangan, tak pelak menjadikan Hayya layaknya karya semi- dokumenter. Tentu saja hal tersebut amat terbantu karena sang sutradara, Jastis Arimba, mengawali karirnya sebagai seorang pembuat film dokumenter, sehingga menjadikan film ini terasa lebih valid dan relevan.

Untuk ukuran film yang mengambil konflik dan setting di luar Indonesia, dalam hal ini di Palestina, Hayya terasa real, mungkin saja karena para pembuatnya mengerjakan pekerjaan rumah utamanya: yakni riset. Karena film fiksi yang skenarionya berangkat dari ide cerita atau peristiwa asli, bila ia ingin dianggap baik, setidak-tidaknya dapat memberikan referensi akan kondisi sosial yang sebenarnya terjadi di masyarakat, terlepas dari cerita filmnya yang fiktif, namun alam lingkungan yang menaungi sekaligus menjadi latar cerita seyogyanya merepresentasikan keadaan yang sebenarnya di situasi tempat dan pada suatu masa tertentu sesuai latar dalam filmnya sendiri. Dan hal tersebut hanya dapat dicapai dengan riset yang baik.

Pada akhirnya, film ini sangat jauh dari kesan politis, hal yang selalu dikait-kaitkan sejak film pertamanya rilis tahun lalu. Hayya adalah film murni tentang humanisme dan perjuangan. Perjuangan yang didasarkan atas cinta kasih dan hati nurani. Tentunya cocok sebagai sajian yang sarat makna bersama keluarga.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

TRAH 7
THE POLICEMAN`S LINEAGE
THE ICE ROAD
SCREAM (2022)

COMING SOON

AKAD
BLACKLIGHT
THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS
THE DOORMAN