Loading your location

Review Kembalinya Anak Iblis: Upaya Mengakhiri Teror di Pulau Ayunan

By Ekowi10 September 2019

Film horor sepertinya sudah menjadi salah satu genre film yang digemari oleh para penonton Indonesia. Mulai dari produksi film yang semakin meningkat tiap tahunnya, serta diimbangi oleh kualitas film yang makin membaik, membuat film horor Indonesia mampu bersaing dengan film horor negara lainnya. Salah satu contohnya yakni film produksi RA Pictures yang berjudul Kembalinya Anak Iblis, yang merupakan sebuah sekuel dari film horor rilisan tahun lalu berjudul 13 The Haunted.

Dalam film yang dibintangi oleh 9 artis muda berbakat ini, penonton diajak untuk menyaksikan kengerian para tokoh saat melihat wujud asli arwah penasaran dengan melakukan 13 cara yang unik sekaligus menegangkan. Ya, untuk ukuran film horor, Kembalinya Anak Iblis mungkin menawarkan hal yang sudah biasa ada di film-film horor kebanyakan. Akan tetapi, yang membuat film ini tetap terasa menyenangkan adalah karena Rudi Soedjarwo, sang sutradara, mampu mengemasnya dengan style yang menarik dan tidak membosankan.

Melanjutkan dari film pertamanya, Rama, Garin, Farel, Quncy dan Celsi berhasil selamat dari teror arwah penasaran di resort Pulau Ayunan yang ternyata menyimpan sejarah mengerikan tentang pembantaian satu keluarga dan karyawan resort tersebut. Rama sangat kalut, karena kekasihnya masuk rumah sakit jiwa, sedangkan adiknya, Hana, hingga kini jenazahnya belum ditemukan bersama dengan jenazah Fira.

Rama lalu memutuskan kembali ke pulau Ayunan untuk mencari jenazah adiknya dan Fira. Dengan panduan sebuah kitab kuno 13 cara menutup Gapuro Tentrem alias mengembalikan semua arwah penasaran itu pada alamnya hingga tak mengganggu manusia dan memakan korban nyawa lagi, mereka berusaha menemukan jenazah Hana dan Fira, sekaligus menutup teror di Pulau Ayunan selamanya. Berhasilkah mereka?

Ada kalanya ketika nama Rudi Soedjarwo tercatat sebagai salah satu sutradara kelas satu di negeri ini. Menelurkan film Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), Pocong 2 (2006), hingga Mendadak Dangdut (2006). Walaupun setelahnya sempat diisi oleh karya-karyanya yang inkonsistensi, namun dengan judul-judul seperti Garuda di Dadaku 2 (2011) dan Batas (2011) tetaplah mengingatkan kita agar jangan pernah memandangnya sebelah mata. Rudi masih seorang pencerita yang handal. Terbukti, walau diberi bekal medioker dalam Kembalinya Anak Iblis, sang sutradara tetap mampu menghasilkan karya yang tak terbenam di lubang kehancuran seperti beberapa horor lokal belakangan ini.

Balik ke soal cerita film ini. Apabila terdengar seperti formula klasik “sekelompok remaja pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”, itu karena Kembalinya Anak Iblis memang mengedepankan kisah klise tersebut. Tidak muluk-muluk. Satu hal yang patut diapresiasi, walau plotnya tak mengejutkan, namun naskah buatan pasangan suami istri Demas Garin dan Talitha Tan berhasil membangun persahabatan kuat antar tokoh-tokohnya. Mereka berpesta bersama, jalan-jalan bersama, selalu menghabiskan waktu bersama, serta menunjukkan interaksi yang membuat kita sebagai penonton menjadi peduli.

Kembalinya Anak Iblis juga bukan jenis horor nihil cerita yang menyamakan rentetan jump scare tanpa konteks dengan alur cerita, lalu mengumpulkannya sebanyak mungkin guna mengisi slot durasi filmnya. Bahkan, kuantitas jump scare film ini masih ada di taraf normal alias secukupnya. Second act-nya dimaksimalkan untuk menelusuri misteri yang tersimpan di Pulau Ayunan. Meski bukan misteri yang digarap apik, tapi keberadaannya berhasil dimanfaatkan Rudi Soedjarwo guna unjuk gigi dalam bertutur melalui tempo yang nyaman diikuti. Ketika ada karakter menyelidiki sebuah keanehan dalam film horor, sudah jadi kewajiban sang sutradara melambatkan tempo untuk memunculkan ketegangan. Rudi melakukannya, tapi tahu kapan mesti mengakhiri itu supaya tidak berlarut larut sehingga kehilangan momentum.

Soal menakut-nakuti penonton, trik Rudi memang bisa dibilang medioker. Hantu sekedar muncul tiba-tiba di layar, diam, berpose, sambil diiringi musik buatan Joseph S. Djafar, yang untungnya lebih variatif ketimbang asal berisik sebagaimana kerap dijumpai dalam horor kelas teri negeri ini. Musik Joseph pun efektif memancing ketegangan pada third act yang kembali membuktikan kebolehan Rudi memainkan tempo. Bergerak cepat namun tidak terburu-buru. Klimaksnya terbukti menyenangkan, apalagi ditambah riasan menarik garapan Cherry Wirawan dan Eba Sheba bagi karakter hantu-hantunya. Hasil kreasi Cherry dan Sheba terlihat jauh lebih niat dan imajinatif dibanding jajaran hantu yang kerap menjadi favorit sineas horor negeri ini.

Dengan mengambil mitologi sarat misteri di balik angka 13 yang menjadi poros utama, jelas Kembalinya Anak Iblis menjadi nafas baru bagi kemunculan genre-genre sejenis ini di Indonesia. Tentu saja sebuah film yang layak
ditonton. Buat sobat yang belum menyaksikan film ini, bisa cek jadwalnya tayangnya di sini ya!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

KEMBALINYA ANAK IBLIS
LORONG
CHASING THE DRAGON II: WILD WILD BUNCH
AD ASTRA

COMING SOON

METALLICA & SAN FRANCISCO SYMPHONY: S&M2
DANUR 3: SUNYARURI
TAZZA: ONE EYED JACK
PEREMPUAN TANAH JAHANAM