Loading your location

Review Lampor Keranda Terbang: Kisah Tentang Makhluk Gaib Pembawa Maut

By Ekowi31 Oktober 2019

Mungkin masih asing di telinga saat kalian mendengar tentang Lampor. Siapa sebenarnya dia? Masyarakat Jawa percaya bahwa makhluk ghaib yang satu ini bersemayam di tengah-tengah masyarakat. Makhluk ini biasanya akan keluar dari sarangnya saat waktu maghrib tiba. Itulah mengapa ada sebagian masyarakat yang menasehati anaknya untuk tetap di rumah ketika adzan maghrib dikumandangkan. Tidak hanya itu saja, para orang tua khususnya di daerah Jawa juga tidak berhenti memperingatkan anaknya untuk tidak melamun. Melamun membuat pikiran menjadi kosong sehingga makhluk halus seperti Lampor akan mudah mengajaknya.

Lampor merupakan salah satu jenis makhluk gaib yang dipercaya bisa membawa maut. Secara harfiahnya, Lampor konon diartikan sebagai "gaduh" atau "kegaduhan". Masyarakat memiliki kepercayaan yang berbeda-beda mengenai wujud dari Lampor karena mitos ini berkembang di masyarakat sekitaran Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta.

Edwin (Dion Wiyoko ) dan Netta (Adinia Wirasti) bersama dua anak mereka, Agam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie), kembali ke kampong halaman Netta di Temanggung, Jawa Tengah. Kampung yang telah ditinggal Netta 25 tahun bersama ibunya yang marah akan perbuatan sesat ayahnya. Netta harus menyampaikan pesan terakhir almarhumah untuk ayahnya. Netta disambut curiga dan dianggap pembawa musibah karena kampungnya sedang dilanda teror Lampor, setan pencabut nyawa yang membawa keranda terbang.

Tak dinyana, Ayah Netta meninggal secara mendadak sebelum Netta tiba. Edwin berusaha membela istrinya dan percaya akan niat baik kedatangannya. Namun satu per satu rahasia terkuak. Skandal busuk dan kejadian mengerikan muncul menghantui dan membuat keluarga ini terancam pecah. Apalagi ketika nyawa anak-anak mereka juga terancam oleh Lampor. Tidak ada jalan lain bagi Edwin dan Netta selain menghadapi itu semua.

Lampor: Keranda Terbang nyatanya adalah salah satu kelangkaan, dari sekian banyak horor yang dibuat oleh sineas Indonesia setahun belakangan ini. Lampor: Keranda Terbang merupakan salah satu dari sedikit sekali yang benar-benar punya cerita untuk disampaikan. Film ini mampu membawa kita menyelam ke dalam penjelajahan rasa penasaran terhadap suatu peristiwa kehilangan. Membahas bagaimana rasa kepuasan itu belum datang, sehingga kita akan terus mencari jawaban. Yang terjadi kepada sosok karakter utama yang bernama Netta adalah harapan dalam wujud terburuk. Keluarga Netta terpecah oleh satu tragedi di masa lalu, saat Netta masih terlalu kecil. Tragedi tersebutlah yang membentuk pribadi Netta di masa sekarang, kita melihat dia yang paling ‘takut’ tapi toh ia tetap harus menyelamatkan keluarganya dari ancaman Lampor.

Selain itu, pembeda film karya Guntur Soeharjanto ini dari banyak kompatriotnya sesama horor semenjana adalah keberaniannya untuk tak bergantung pada hantu yang menyergap tiap lima menit sekali. Guntur berusaha meluangkan waktu pada eksplorasi karakter sembari menyelipkan konflik keluarga disfungsional di antaranya. Supaya berhasil, penonton perlu dibuat menyukai karakter-karakter beserta interaksi mereka.

Hebatnya, film ini tidak menceritakan itu semua lewat dialog secara gamblang. Kengerian, apa yang dirasakan oleh Netta dan keluarganya direkam secara subtil oleh kamera. Lihat juga bagaimana kamera ‘menceritakan’ daerah pegunungan Temanggung sebagai tempat mengerikan dan berbahaya lewat selipan shot-shot flora dan fauna di sekitarnya.

Transisi dari ketika satu tokoh menciptakan realita sendiri, tetapi kemudian penyadaran itu tiba, dan dihempaskan lagi ke realita sebenarnya, dilakukan dengan begitu mulus oleh pergerakan kamera yang menangkap gestur-gestur terkecil dari si tokoh. Film ini tidak pernah gagal menangkap sudut pandang. Semuanya diceritakan dengan cermat dan efisien.

Sedari adegan pembuka, kita bisa paham bahwa film ini digarap dengan perhatian tinggi atas segi artistiknya. Film ini tahu cara menceritakan sesuatu yang klise dengan membuatnya tidak methodical, namun juga tetap mudah untuk disukai. Ada banyak hal-hal horor yang akan jadi favorit penonton di sini; kematian tokoh yang menyakitkan, sosok hantu yang seram, dan jumpscare yang tepat waktu.

Tak ada karakter yang sia-sia dalam film ini. Bahkan karakter-karakter pendukung, seperti tokoh remajanya pun tidak annoying dalam berakting. Mereka masih bersikap masuk akal dan reasonable, meskipun tak ada pembelaan untuk kualitas akting yang menghidupkan mereka. Keputusan untuk memasang semacam twist pun, justru menguatkan cerita karena mungkin hal tersebut tidak kita antisipasi sebelumnya.

Overall, Lampor: Keranda Terbang memiliki sense misteri yang kuat, penceritaan yang efektif, serta tokoh-tokoh yang tidak terlalu over-the-top. Alhasil, film ini punya segala hal sebagai sebuah syarat film horor yang bagus. Dan bersiaplah dengan klimaksnya yang menyimpan momen lumayan menegangkan yang melibatkan darah dan kekerasan. Tontonlah, karena kapan lagi menonton film horor nasional yang diselingi oleh pemandangan apik pegunungan Sindoro dan Sumbing di Temanggung yang cantik, menawan, sekaligus menyimpan aura mistis.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

PANIPAT
FORD V FERRARI
KUCUMBU TUBUH INDAHKU
OVERCOMER

COMING SOON

TEEN SPIRIT
SPIES IN DISGUISE
STEP UP YEAR OF THE DANCE
DIGNITATE