Loading your location

Review Love For Sale 2: "Korban" Arini Selanjutnya

By Ekowi31 Oktober 2019

Siapa yang mampu menafsirkan makna “kesendirian”? Semua orang dengan mudah berkata bahwa “kesendirian” adalah ruang yang kita ciptakan sendiri. Seakan “kesendirian” adalah pilihan, dan perasaan kosong itu hanyalah mitos belaka. Mereka yang berusaha menipu “kesendirian”, mencoba menenggelamkan diri dalam keriuhan fana, hanya untuk mencoba lupa bahwa waktu tidak akan berlalu hanya karena diri kita berusaha lari, dan mencoba lupa bahwa rasa hampa selalu punya tempatnya sendiri dalam riuh yang paling ramai sekalipun.

Hal itulah yang dialami oleh Indra Tauhid Sikumbang alias Ican (Adipati Dolken), berkali-kali dirinya harus berhadapan dengan upaya perjodohan Ibunya, Rosmaida aka Ros (Ratna Riantiarno), yang juga pemilik usaha kontrakan. Ia merasa wajib untuk menikahkan Ican yang sudah cukup umur. Ican merasa bahwa menikah belum menjadi prioritasnya. Perbedaan ini kerap memicu adu mulut di antara mereka berdua. Suatu hari, Ican merasa perdebatan dengan Ros harus disudahi. Ia mengelabui Ros dengan membawakan calon menantu palsu melalu sebuah aplikasi kontak jodoh bernama Love Inc.

Tak beberapa lama datanglah Arini (Della Dartyan). Ican memperkenalkannya sebagai mantan pacar saat mereka kuliah dulu. Arini diijinkan tinggal di salah satu petak kontrakan milik Ros. Kehadiran Arini membawa perubahan besar pada keluarga Ros. Keluarga Ros menjadi lebih erat berkat Arini. Ros jatuh hati pada Arini. Dengan bangganya ia memperkenalkan Arini sebagai calon menantu kepada kawan-kawannya. Lambat laun melihat hubungan antarkeluarganya yang mulai membaik berkat Arini, Ican mulai terbawa dengan peran Arini. Pelan-pelan ia merasa jatuh cinta.

Gambaran sosok Ican sebagai pria single paruh baya yang mendapat tekanan sosial dari lingkungan sekitarnya untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, membuat kita tersadar bahwa fenomena tersebut banyak ditemui di dunia nyata. Alasan kesendirian pria-pria paruh baya ini juga beragam. Fenomena yang dialami Ican pun sebenarnya adalah hal yang umum. Hal ini dikuatkan dengan adanya sebuah fakta yang menyatakan bahwa pria tidak mudah sembuh dari patah hati.

Para pria merasakan kehilangan secara mendalam dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka seakan tenggelam dan terlarut akan kehilangan tersebut. Sebagian yang lain mungkin akan bangkit dan melanjutkan hidup dengan ‘mulai berjuang’ lagi untuk menggantikan apa yang telah hilang. Namun, beberapa dari mereka juga ada yang mengalami hal lebih buruk lagi, yaitu mereka sampai pada kesadaran bahwa kehilangan itu tidak (akan) bisa tergantikan.

Melalui film ini, kita diajak untuk memahami bagaimana menerima masa lalu dan melanjutkan hidup. Seberat dan semenyakitkan apapun masa lalumu, berjalanlah, lanjutkan hidup, karena apa yang kamu cintai belum tentu yang terbaik untukmu, begitupun sebaliknya. Selain itu, film ini mencoba berbicara kepada setiap orang untuk keluar dari zona nyaman, zona yang selama ini dirasa aman padahal mungkin kita hanya bersembunyi dari riuhnya kehidupan. Ingatlah, berlari dari kenyataan tak akan mengurangi rasa pahitnya. Hal itu hanya akan membuat kalian lelah dan semakin sepi di ujung hari.

Setiap orang butuh seseorang. Tanpa terkecuali. Akan ada titik di dalam hari-hari kita semua yang akan dipenuhi oleh pikiran tak menentu dan yang kita butuhkan adalah tempat berpulang. Pun dengan Ican. Sejak kehadiran Arini, Ican sadar betapa “berpulang” kepada seseorang di rumah jauh lebih menenangkan dibanding “berpulang” kepada hal-hal negatif di luar sana.

Berbicara soal karakter dalam film ini, sungguh menarik jika kita menyimak bahwa Love for Sale 2 bukan hanya menjadikan Ican sebagai tokoh sentral (seperti saat Richard menjadi satu-satunya tokoh sentral di film pertamanya), melainkan juga karakter sang Ibu. Lalu apakah Andibachtiar Yusuf selaku sutradara melakukan kekeliruan fatal? Tentu saja tidak. Karena dalam film ini sosok Ibu Ros memang dijalin sebagai tokoh tak terjamah namun selalu ada, yang untuk melihat bagaimana dirinya adalah dengan cara menontoni kicau keluarganya, seperti karakter Anandoyo Tauhid Sikumbang (Ariyo Wahab) dan karakter Yunus Tauhid Sikumbang (Bastian Steel).

Tak pernah terlalu dijelaskan identitas lengkap sang Ibunda. Pergulatan batinnya pun disampaikan dalam beberapa adegan secara tipis, lebih banyak kita lihat belokan plot-plot dari karakter lain sepanjang cerita. Di mana kita mencari sang Ibu? Apa yang ia cari? Beban apa yang ia pikul? Keinginan apa yang ia sembunyikan? Andibachtiar Yusuf tak mau menerjemahkannya secara terang-terangan.

Yang jelas, hal mendasar yang menjadi keunggulan Love for Sale 2 adalah bentukan atmosfer penceritaan yang boleh jadi sekilas terlihat biasa namun dirancang dengan desain produksi luar biasa cermat oleh Andibachtiar Yusuf dan timnya terutama tata kamera Ferry Rusli dan tata artistik dari Chupy Kaisuku. Bersama skrip yang ditulis Andibachtiar Yusuf bersama M. Irfan Ramli yang sudah langganan mengolah skrip dari film-film produksi Visinema seperti Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha, Filosofi Kopi 2, dan juga Love for Sale jilid pertamanya, serta dialog-dialog efektif yang menyenggol banyak hal yang menyentil situasi sekarang termasuk tentu saja signature dari sang sutradara, yakni sepakbola.

Love for Sale 2 berhasil menempatkan penontonnya di atas sebuah kedekatan komunikatif sebagai kacamata karakter Ican memandang dunia dan kehidupan sempitnya dengan detail-detail cemerlang. Seolah menjadi perwakilan dari banyak orang sekarang yang bertahan dengan kesepian, kesendirian dan keterkungkungan hubungan sosial di balik kesibukan dan pergaulan semu-nya di dunia nyata dan dunia maya.

Relevansinya sangat terasa sebagai sesuatu yang sangat personal bak sebuah karya labor of love dari si pembuatnya. Di atas bentukan itu, Adipati Dolken sekali lagi membuktikan bahwa potensinya sama sekali tak bisa dianggap main-main. Begitu santainya ia membawakan karakter Ican yang nakal dan canggung di saat bersamaan. Yang bisa jadi cenderung keterlaluan namun tetap terhubung ke para penonton.

Diimbangi oleh kehadiran (kembali) karakter Arini, yang diperankan Della Dartyan dengan aura luar biasa dalam statusnya yang masih sebagai aktris pendatang baru. Sexy, wild sekaligus seducing, bahkan dalam sebuah intimate scene yang secara total bisa menghindar dari romantisasi artifisial, dibantu tata kostum Osh Indah dan riasan Selvy Lei yang benar-benar cermat memanfaatkan lekuk postur lebih dari sekedar paras seiring body language-nya yang solid. Kita juga bisa percaya bahwa apa yang dilakukan Arini adalah sebuah katarsis terhadap Ican berikut lingkungannya. Chemistry itu terus mengalir dengan sempurna selama dua karakter ini hadir ke dalam setiap frame mereka. Sementara masih ada dukungan aktor dan aktris lainnya, plus cameo dari Roy Marten.

Love for Sale 2 juga mengajarkan kita akan pilihan filosofis soal keberanian dan keikhlasan menerima keadaan. Cenderung terasa sebagai celah untuk menghindari konklusi klise memang, tetapi tak lantas merusak semua fondasi cerita yang sudah dimulai dengan baik dari awal. Namun lagi-lagi, pilihan terhadap sebuah konklusi cerita tentu menjadi privilege penuh bagi si pembuatnya.

Walaupun begitu, Love for Sale 2 tetaplah bisa digolongkan sebagai sebuah fresh effort dalam racikan genre-nya. Digarap dengan style dan sensitivitas berbeda yang mungkin jarang kita lihat dari karya-karya sineas Indonesia, ia otomatis tak lantas menjadi kisah generik di atas premis familiar sekaligus mampu menggambarkan kesepian dan cinta di atas kedekatan representasi yang sangat komunikatif.

Bagi banyak orang dengan konflik-konflik personal yang sama, karakter Ican mungkin bisa menjadi cerminan yang sangat mewakili. Sementara bagi yang kehidupan sosial dan hubungan asmaranya baik-baik saja, Love for Sale 2 tetap sangat asyik dinikmati sebagai sebuah escapism fantasy soal percintaan yang sangat menggoda.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

PATI PATNI AUR WOH
MARDAANI 2
RUDY HABIBIE (HABIBIE & AINUN 2)
CHARLIE'S ANGELS

COMING SOON

CATS
A SCORE TO SETTLE
NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI
RASUK 2