Loading your location

Review Midway: Sajian Seru Tentang Patriotisme dan Bela Negara

By Ekowi11 November 2019

Pertempuran Midway adalah pertempuran laut masif antara kekaisaran Jepang melawan kekuatan Amerika Serikat di Pasifik. Pertempuran tersebut terjadi antara 4 Juni dan 7 Juni 1942, yaitu sekitar enam bulan setelah Pengeboman Pearl Harbor. Angkatan Laut Amerika Serikat berhasil meredam serangan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terhadap Atol Midway, dan mengakibatkan kerugian tidak ternilai dan merebut inisiatif strategis dari Angkatan Laut Jepang. Kisah tersebut diangkat ke layar perak oleh sineas Roland Emmerich berjudul Midway. Pastinya dengan pendekatan yang eskplosif dan epic, sesuai dengan ciri khas sang sutradara.

Kisah ini diceritakan terutama dari sudut pandang dua tentara Amerika yaitu pilot Letnan Dick Best (Ed Skrein) yang memimpin skuadron pengebom tukiknya di Midway, dan perwira intelijen Letnan Comm. Edwin Layton (Patrick Wilson) yang bersama tim pemecah kodenya berupaya memperkirakan datangnya serangan Midway. Sepanjang durasi bergulir, kita akan diperkenalkan dengan tentara Amerika Serikat terkenal lainnya seperti Laksamana Chester Nimitz yang diperankan oleh Woody Harrelson, komandan tertinggi Armada Pasifik AS Wakil Laksamana William "Bull" Halsey (Dennis Quaid) yang memimpin kapal induk USS Enterprise, dan Laksamana Muda Raymond Spruance (Jake Weber) yang mengambil alih Enterprise untuk Pertempuran Midway. Selain itu terdapat pula, Rekan penerbang Best Lt. Comm. Wade McClusky (Luke Evans), Lt. Comm. Eugene Lindsey (Darren Criss) dan Lt. Comm. Jimmy Doolittle (Aaron Eckhart), serta Komandan kriptografi Joseph Rochefort (Brennan Brown) dan masinis penerbangan Mate Bruno Gaido (Nick Jonas).

Tak lupa, Roland Emmerich juga mengangkat penceritaan dari sudut pandang tentara Kekaisaran Jepang dan budaya militer mereka yang unik ke dalam film ini. Laksamana Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa) dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan panglima armada gabungan mereka yang digambarkan dengan martabat yang tenang, hening, dan berwibawa. Penonton juga akan dibawa untuk bertemu dengan Laksamana Muda Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano), yang memimpin Hiryu dengan para bangsawan, dan Wakil Laksamana Chuichi Nagumo (Jun Kunimura) yang keputusan pertempurannya amat kontroversial sehingga berdampak negatif terhadap kampanye Jepang. Lalu bagaimana akhir kisahnya? Yep, seperti yang tertulis di banyak buku-buku sejarah saat ini tentunya.

Well, mungkin banyak orang yang membenci sineas Roland Emmerich. Tak peduli bagaimana dulu ia membuat semua haters itu terhanyut berulang-ulang saat menyaksikan Universal Soldier, Stargate, Independence Day, and yes, the legendary Godzilla dengan ketakjuban luar biasa pada sebuah gelaran action dalam perwujudan sebuah blockbuster Hollywood yang penuh hingar-bingar, namun tiba-tiba mengomel saat film Anonymous dirilis tahun 2011 lalu karena tak punya kadar bombastisme sekencang karya-karyanya yang lain.

Entah trend film dan penonton yang sudah berubah jadi ‘makin pintar’ belakangan ini, ataukah ada alasan yang lain. Yang jelas, setelah Emmerich menekan gas lebih dalam lagi menyajikan hingar-bingar paska film bencana maha dahsyat 2012, cemoohan terhadapnya mulai datang bertubi-tubi. Tapi Emmerich mungkin tak pernah ambil pusing. Dia tahu bahwa penonton, bahkan haters sekalipun, entah dengan suatu pengharapan bahwa karya-karyanya akan berubah, tetap akan datang ke bioskop untuk menonton film-filmnya. Dan box office records, tetap jadi bukti yang solid.

So yes, Midway yang diangkat dari kisah bersejarah ini memang dari jauh-jauh hari digagas Roland Emmerich dengan nafas yang sama. Pendekatan yang diambil Emmerich juga tak jauh berbeda dengan film-film epic hasil karya Michael Bay misalnya. Blockbuster Hollywood murni dengan satu tujuan; pure fun, no matter how mindless it could be, dengan bujet pembuatan yang hampir seluruhnya juga dihabiskan ke sisi teknis untuk gempuran spesial efek yang tak tanggung-tanggung. Penggemar sejarah mungkin akan punya ekspektasi berbeda dengan penonton yang sekedar mencari hiburan. Dan para haters, even with warnings that this is gonna be Emmerich-like blockbuster, kenyataannya, tetap ada di barisan terdepan bangku penonton sejak awal jadwal penayangannya.

Seperti yang sudah disinggung tadi, selayaknya karya-karya Michael Bay, Peter Berg, dan mindless blockbuster lainnya yang menjual hingar-bingar aksi dan efek spesial hi-tech ala Hollywood, Midway sejak awal memang tak menyuguhkan plot njelimet untuk para penontonnya yang mungkin datang dengan ekspektasi berlawanan. Karena tentu ini bukan tujuan Emmerich membesut Midway. Menu utamanya adalah sebuah pameran aksi dan efek khusus yang eksplosif. Dan mau seberapa cheesy karakter-karakter serta dialog yang muncul ke layar, hanya ada dua kelompok penonton yang menjadi tujuan kompromismenya, yakni para penggemar sejarah, dan penonton yang datang hanya untuk menyaksikan seru-seruan sebuah action skala besar.

Dan bicara soal sejarah, Emmerich nyatanya telah berhasil menyelipkan beberapa informasi serta detil penting dalam nafas historikalnya ke dalam scene-scene pertempuran itu; seperti beberapa bentuk kapal perang yang otentik, tampilan rudal atau misil-misil yang berbeda serta penggunaan koordinat di balik strategi taktikalnya, sekaligus membombardir aksi seru dan efek khususnya dalam kadar ‘over the top’ seperti yang dijanjikannya. Dan yang paling utama, Emmerich menyajikannya secara berimbang, baik dari sudut pandang Amerika Serikat, maupun Jepang.

Emmerich juga berhasil menghadirkan kaitan emosi yang kuat di antara karakter-karakter dalam keseluruhan plot yang dibangun soal patriotismenya, walaupun kerap membentuk pihak Jepang sebagai antagonis murni yang komikal dan kejamnya bukan main, sementara sebagian karakter-karakter intinya (dalam hal ini pihak Amerika Serikat) bukanlah heroik secara stereotip. Namun pada dasarnya, tetap membentuk semangat berani mati untuk membela negaranya masing-masing secara luar biasa kuat dalam intensitas yang meningkat secara rapi dan benar-benar dilepas tanpa kompromi menjelang klimaksnya yang menghentak.

Tak semua film bisa memunculkan spirit atau semangat-semangat yang sama seperti ini. Sedikit gelap dan realistis, namun tak sekalipun terpeleset ke tone yang kelewat depresif bahkan nihilistik. Karena Emmerich sadar, ia sedang bermain-main di ranah blockbuster komersil. Namun bukan berarti keterikatan kuat ke karakter-karakter utamanya lupa untuk disematkan. Di situ pula, signature sinemanya yang biasa dalam membangun emosi membuat Midway menjadi luar biasa.

Mengisi karakter yang lebih dibentuk secara total sebagai protagonis, Ed Skrein dan Patrick Wilson berhasil membaur sama kuat sebagai kesatuan ansambelnya. Semua akting bintang-bintang pendukungnya juga sanggup membentuk kekuatan emosi di atas dasar gagasan kuat soal interaksi, motivasi dan harapan-harapan manusia dalam sebuah kisah tersembunyi dari Pertempuran Midway. Dari sisi teknis pun, skala produksi Midway muncul dengan sangat mewah dalam menghidupkan semua ambisi Emmerich. Selain desain produksi yang mampu menghidupkan kembali set Atol Midway dan semua props-nya, tentu saja yang paling menonjol adalah sinematografi DoP Robby Baumgartner yang mampu merekam semua atmosfer pertempuran dengan mencekam sebagai sebuah visual-gasm yang mumpuni.

Namun tetap, pada akhirnya, sisi paling menonjol dari Midway adalah keterikatan semua unsurnya untuk membentuk aspek reaksional dari para penonton. Sebuah extreme patriotism yang memang berhasil dimunculkan dengan baik di balik semua kekuatan tata produksi dan akting para pemain utama serta pendukungnya. Sebuah karya yang bisa membayar lunas semua ekspektasi dengan guliran emosi yang akan membuat betah penonton di kursinya masing-masing. A massive, American historical war epic with taut and gripping emotions that never let go, yang jelas akan diingat cukup lama dan bertengger di list karya-karya monumental milik Roland Emmerich.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

DARK WATERS
FORD V FERRARI
OVERCOMER
PORORO 5: TREASURE ISLAND ADVENTURE

COMING SOON

EXTREME JOB
EYES ON ME : THE MOVIE
THE OPERATIVE
HABIBIE & AINUN 3