Loading your location

Review Ratu Ilmu Hitam: Suguhkan Teror Tanpa Henti!!!

By Ekowi11 November 2019

Kita mungkin sedang berada di trend terbesar genre horor dalam sejarah film Indonesia melebihi periode-periode sebelumnya. Tapi jelas belum lagi bisa dibilang golden era, karena mengurut produk yang layak dalam ledakan trend-nya meskipun rata-rata laku, yang benar-benar baik, tentu dalam konteks genrenya, hanya segelintir. Selagi Pengabdi Setan-nya Joko Anwar yang melontarkan animo itu ke kecenderungan aji mumpung PH-PH kita dan dibayangi beberapa judul yang cukup baik termasuk Kafir: Bersekutu dengan Setan namun belum bisa menandinginya, ditambah lagi Sebelum Iblis Menjemput dari Timo Tjahjanto yang sudah berada di level berbeda, kali ini giliran Kimo Stamboel dengan Ratu Ilmu Hitam-nya yang agaknya adalah sebuah kecermatan dalam sisi pandang dan pendekatan filmis.

Sebagai sineas gen-x dengan bandrol genre-afficionado, yang memang secara mutlak paling diperlukan guna terciptanya sebuah produk baik di genrenya, Kimo memang punya trademark dan signature jelas walau tak selalu berhasil di film-film sebelumnya. Sempat merambah genre urban horor di awal-awal karirnya dengan film berjudul Bunian, lalu psycho-thriller di Killers setelah tentunya debut layar lebar versi panjang Rumah Dara yang bermain di ranah slasher, kita tahu bahwa ia, yang kini lepas dari Timo Tjahjanto dalam duo Mo Brothers, memang punya distinct madness di ranah simbah-menyimbah darah.

Dari jauh-jauh hari, Ratu Ilmu Hitam sudah mengundang perhatian karena menjual banyak nama diva pemeranan di film Indonesia yang mencoba untuk keluar dari zona nyaman mereka ke genre horor. Tapi yang lebih krusial adalah menantikan seperti apa Kimo memainkan kegilaannya di sentuhan supranatural yang lebih kental tanpa sepenuhnya mengandalkan blood splatter elements di tengah kekhawatiran pendekatan celah-celah plot yang saling menyenggol teritorial serupa di film-film horor lokal kita belakangan. Lagi-lagi, cukupkah itu untuk sebuah fondasi ekspektasi? Let’s see.

Hanif (Ario Bayu) membawa Nadya (Hannah Al Rashid), istrinya, dan ketiga anak mereka ke panti asuhan tempat Hanif dulu dibesarkan, untuk menjenguk pengasuh panti itu, Pak Bandi (Yayu Unru), yang sudah sangat tua dan sakit keras. Dua sahabat Hanif saat tinggal di panti, Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan ) juga datang dengan istri-istri mereka. Mereka bermalam di panti asuhan itu untuk memberikan penghormatan terakhir buat orang yang telah mengasuh mereka sejak kecil. Satu per satu dari mereka mengalami keganjilan mengerikan. Sebagian diteror oleh hal-hal yang paling mereka takuti.

Sementara itu, anak-anak mulai melihat penampakan Ibu Mirah (Ruth Marini), perempuan pincang penjaga panti yang meninggal di panti itu. Korban mulai berjatuhan. Hilang atau mati. Mereka berusaha kabur, tapi mobil mereka hanya berputar-putar dan akhirnya kembali ke panti. Seseorang rupanya menginginkan mereka mati. Seseorang yang mungkin punya dendam. Seseorang yang mengetahui sesuatu yang pernah dilakukan Hanif dan kawan-kawannya ketika di panti dahulu kala. Hanif dan kedua sahabatnya harus mengingat kembali beberapa kejadian yang coba mereka lupakan. Sesuatu yang mereka buang dari ingatan untuk bisa hidup seperti manusia normal. Akhirnya mereka harus mengakui dosa-dosa mereka untuk bisa bertahan hidup dan menyelamatkan keluarga mereka dari seseorang yang penuh dendam dan kemarahan. Seseorang yang dengan dosa mereka telah mereka bentuk menjadi Ratu Ilmu Hitam.

Tak ada yang spesial mungkin dari skrip dan komposisi karakter yang ditulis oleh Joko Anwar ini, walaupun kalau mau diulik sebenarnya bermain cukup berbeda di elemen interaksi karakter remaja dari produk keluarga disfungsional di balik fondasi kuat dalam detil-detil bangunan karakter serta elemen mistis yang akrab namun bukan lagi sesuatu yang baru. Tapi yang membuatnya spesial adalah cara Kimo merangkai koneksi-koneksinya lewat rangkaian yang sangat terasa dipenuhi referensi campur aduk oleh seorang geeky fanboy terhadap film-film favoritnya di genre horor dari klasik hingga gorefests.

Ratu Ilmu Hitam juga bisa diistilahkan sebagai “Eksplisit vs atmosferik”, tapi tetap bisa berpadu bagaikan sebuah wahana mengerikan lewat editing Arifin Cuunk yang berfungsi dalam pengaturan pacing mengarungi 100 menit rasa neraka dengan potensi sangat reaksional dari pemirsanya. Layaknya seorang genre master yang tengah bersenang-senang dengan mainan dan amunisinya, Kimo membawa Ratu Ilmu Hitam ke taraf yang jarang dimiliki film horor lokal kita. Persis seperti apa yang dilakukan Gareth Evans ke genre action lewat The Raid, demi semua yang diinginkan penonton kala datang ke gedung bioskop atau theme park, yakni untuk merasakan teror tanpa henti di sebuah film/wahana horor.

Kimo bahkan tak segan-segan berkali-kali bermain di ranah “kejijikan” saat menyajikan penampakan satanic creatures yang tergarap luar biasa baik lewat tim efek khusus film ini, walaupun kadang sampai nyaris mengeksplor body horror dan fluid splatter bertaraf “sakit” melebihi porsi jumpscares di rata-rata horor kita yang eksposur berlebihannya seringkali dilakukan secara tak tepat guna. Sementara atmosfer dari sinematografi serta tata artistiknya tetap dengan solid menekankan feel creepy-nya di tengah tata suara Hiro Ishizaka dan musik Fajar Yuskemal-Yudhi Arfani yang memadukan denting piano dan synth scoring yang terdengar tak nyaman (dalam artian positif) di telinga. Lebih gila lagi, ia tak main-main menyeret semua cast-nya melakukan kegilaan tak terbayangkan.

Sebut semua ensemble casts yang bermain dalam film ini, dari Ario Bayu, Hannah Al Rashid, Zara JKT48, Ari Irham, Muzakki Ramdhan, Putri Ayudya, hingga Salvita Dacorte. Semuanya tak pernah kita bayangkan sebelumnya untuk mau diacak-acak sedemikian rupa menanggalkan fisik menawan mereka aslinya. Merangkak, ngesot, terlempar, ditempeli kelabang, hingga memakan ulat bulu, semua digelar Kimo secara no-holds-barred, tancap gas dan tanpa ampun. Di luar uji fisik habis-habisan itu, mereka semua memang benar-benar terbukti bisa keluar dari zona nyaman akting mereka, namun tetap tampil dengan emosi yang kuat. Selagi Ruth Marini dan Putri Ayudya tampil luar biasa buas, Hannah Al Rashid berhasil meng-handle pergantian mood karakternya dengan bagus, bahkan membuktikan ia bisa menjadi protagonis bad-ass di genre horor bak Alison Lohman di Drag Me to Hell. Dan bukan pula sama sekali tak punya hati, tetap ada selipan-selipan interaksi yang mengarah ke sana lewat referensi-referensi yang ada.

Lagi, dengan kerja padu departemen cast dan teknis se-gemilang ini hampir di semua sisinya, apa yang dilakukan Kimo memang persis seperti apa yang dilakukan The Raid ke genre action dan jarang sekali kita saksikan di horor-horor lokal kita dari dulu hingga sekarang. Selagi pencapaian Joko Anwar di Pengabdi Setan bukanlah sesuatu yang gampang ditandingi dalam ranah horor atmosferik yang juga kental referensi, pilihan Kimo di Ratu Ilmu Hitam menyajikan sebuah rollercoaster of fear adalah sebuah pendekatan tepat dalam kelas berbeda namun jelas ada di level yang seimbang. Feels like selling your soul to the devil, sebuah pengalaman sinematis sangat berbeda di genrenya yang sayangnya belum lagi bisa dinikmati dengan motion gimmicks dalam teknologi sinema yang kita miliki sekarang. But still, it’s a nonstop, rollercoaster ride of Indonesian scarefest. Freakin’ awesome!!!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

BUS OM BEBEK
ANTLERS
MAKMUM 2
SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

COMING SOON

ASHIAP MAN
MR. ZOO
THE ADDAMS FAMILY 2
SNAKE EYES