Loading your location

Review Rumah Kentang The Beginning: Lebih Baik Dari Pendahulunya?

By Ekowi25 November 2019

Ketika dipersembahkan kepada khalayak ramai pada tahun 2001 silam, film Jelangkung garapan Jose Poernomo dan Rizal Mantovani mencetak kesuksesan yang berlipat ganda dibandingkan biaya pembuatannya. Sebuah pencapaian yang layak, karena dari segi penggarapan tidaklah bisa disebut main-main. Ada kombinasi cukup baik antara production value, permainan lakon, serta trik menakut-nakuti sekalipun narasinya masih butuh dipoles berkali-kali. Film tersebut juga melahirkan beragam remake, reboot, hingga spin-off beberapa karakter makhlub gaib hingga mitos yang diangkat di dalamnya.

Berkaca pada kesuksesan tersebut, sudah barang tentu rumah produksi Hitmaker Studios dengan segala insting bisnisnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka mencoba mengkreasi sebuah film khusus untuk salah satu mitos yang pernah diangkat di film Jelangkung tadi, yakni Rumah Kentang. Judulnya pun dimodifikasi menjadi Rumah Kentang: The Beginning.

Rumah Kentang: The Beginning sebenarnya masih menampilkan cerita horor yang klise. Mengunjungi tempat angker, adanya perantara dunia manusia dengan alam gaib, dan tentu saja sosok hantu yang mengerikan. Apalagi, bumbu jumpscare masih cukup terasa di beberapa adegan. Namun, yang menjadi berbeda adalah ciri khas Rocky Soraya, yang kali ini bertindak sebagai produser, yang justru benar-benar memberi pengaruh besar untuk film ini.

Adrian (Christian Sugiono), seorang novelis, bersama istrinya, Sofie (Luna Maya), kembali ke rumah masa kecil Sofie yang sudah lama tidak dikunjunginya, sejak kedua orangtua Sofie tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Kini ditemani Uwak-nya (Jajang C Noer) dan ketiga anaknya, Nina (Davina Karamoy), Nala (Nicole Rossi), dan Bayu (Rayhan Vandenmoort), Sofie akhirnya menginjakkan kaki kembali di rumah tersebut. Gangguan demi gangguan segera menyerang mereka. Gangguan yang tidak mereka hiraukan sampai saat Nina tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Mereka harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu, sebuah rumah yang berdiri di perkebunan kentang. Seorang warga desa, Dadang (Epy Kusnandar), memberitahu bahwa tidak hanya Nina yang berada dalam bahaya, tapi mereka semua.

Dibandingkan sederet film horor Indonesia yang dilepas dalam beberapa bulan terakhir ini, Rumah Kentang: The Beginning sebetulnya tergolong lumayan baik. Paling tidak, Rizal Mantovani yang dipercaya menduduki posisi penyutradaraan masih berusaha untuk bercerita dan memperhitungkan ketepatan waktu dalam memunculkan trik menakut-nakuti penonton. Bukan asal ada penampakan tiap beberapa detik sekali tanpa urgensi kecuali demi mengisi kekosongan durasi sekaligus mengagetkan penonton.

Lebih lanjut lagi, layaknya film-film seram produksi Hitmaker Studios lainnya, production value dalam film ini pun terjamin sehingga memunculkan kesan berkelas. Tidak tampak seperti film buatan amatir dengan waktu produksi yang sedikit. Hanya saja di balik segala upayanya untuk tampil berbeda, sayangnya Rumah Kentang: The Beginning masih mengidap penyakit langganan film horor tanah air seperti narasi yang cari aman dan ketergantungan pada musik yang memekakkan telinga. Memang betul naskah racikan Agam Suharto ini tak kosong melompong yang isinya hanya berupa petunjuk untuk teriak, lari, ataupun mati. Tapi tak kosong di sini malah diartikan dengan penuh sesak oleh beragam plot. Yang menjadi masalah, seabrek plot dalam film ini dipaparkan sekenanya saja tanpa pernah dikembangkan lebih lanjut dan malah diselesaikan secara instan.

Alhasil, penonton tak pernah bisa benar-benar menyelami persoalan yang dihadapi para tokoh-tokoh utamanya. Kita juga tak diberi kesempatan untuk berkenalan secara layak dengan karakter-karakter pendukungnya, yang latar belakangnya masih kabur, dan tentunya legenda Rumah Kentang itu sendiri yang seringkali diabaikan meski namanya tercetak besar-besar sebagai judul. Ketidakfokusan naskah dalam bercerita ini turut dilukai oleh dialog yang terdengar kaku, kontinuitas yang memusingkan, iringan musik untuk mengagetkan penonton yang menyakitkan telinga, serta kekonyolan-kekonyolan lainnya. Rumah Kentang: The Beginning juga seringkali hadir dalam tempo pengisahan yang kurang mampu terjaga dengan baik, terburu-buru dalam berkisah pada satu bagian sementara terasa begitu lamban pada banyak bagian lainnya. Hal inilah yang menyebabkan intensitas pengisahan horor pada film ini gagal untuk tampil mengikat.

Yang lantas menyelamatkan Rumah Kentang: The Beginning, di samping production value kelas wahid, adalah efek khusus yang dipergunakan secara efektif untuk menyokong teror, dan kemampuan Rizal Mantovani dalam menghadirkan satu dua momen mencekam, walaupun polanya senada dan seirama dengan film-film produksi Soraya terdahulu. Pilihan Rizal Mantovani untuk tetap melengkapi filmnya dengan adegan-adegan yang terasa kuat terinspirasi oleh banyak film-film horor luar negeri juga sedikit banyak membantu ketika deretan adegan tersebut tereksekusi dengan kualitas produksi yang lebih berusaha menghasilkan kejutan bagi penonton daripada berusaha membangun atmosfer horor yang lebih kuat.

Film ini juga terselamatkan oleh performa dari jajaran pemainnya yang mengupayakan peran mereka tak sehambar karakterisasi yang digoreskan di naskah. Rizal Mantovani jelas berhutang banyak kepada duo Luna Maya dan Christian Sugiono yang membantu menghadirkan efek dramatis pada film ini. Luna Maya lagi-lagi tak mengecewakan kala dipercaya menghidupkan karakter Sofie yang sekali ini bebannya condong pada ketahanan fisik, dan bukan lagi sosok yang gundah gulana. Karakternya di babak akhir film yang lantas memberi kesempatan bagi Luna Maya untuk membuktikan statusnya sebagai Ratu Horor baru. Totalitasnya mengagumkan. Berkatnya, Rumah Kentang: The Beginning yang penuh masalah ini masih memiliki rasa dan membuat problematikanya sedikit bisa ditolerir. Tanpa kehadiran para pemain yang bermain total, film ini hanya akan berakhir sebagai horor murahan dan itu jelas bukan berita bagus.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

AWOKEN
PARASITE
TITUS - MYSTERY OF THE ENYGMA
SURAT DARI KEMATIAN

COMING SOON

EYES ON ME : THE MOVIE
4 MANTAN
NIKAH YUK!
STEP UP YEAR OF THE DANCE