Loading your location

Review Scary Stories to Tell in the Dark: Horor Mencekam Terbaru dari Guillermo Del Toro

By Ekowi12 Agustus 2019

Menghadirkan sebuah film mencekam dengan tetap mempedulikan detail-detail artistik adalah keahlian dari sineas bernama Guillermo Del Toro. Dengan anugerahnya tersebut, ia mampu menjadikan sebuah film horor naik satu tingkat dibanding dengan film-film horor lainnya. Tak hanya dalam genre tersebut, Del Toro juga bisa mengarahkan film-film fantasi lainnya dengan kekhasan gaya penyutradaraannya itu.

Bukti yang membuat Guillermo Del Toro menjadi salah satu sutradara yang berpengaruh hingga kini adalah kinerjanya dalam film Pan’s Labyrinth, Hellboy, dan belum lama ini dalam The Shape of Water. Dia berhasil menjadikan sebuah film yang penuh dengan makhluk-makhluk pembawa mimpi buruk menjadi sajian yang cantik.

Setelah terakhir kali menggarap film horor lewat Crimson Peak (2015), Guillermo Del Toro kembali menghadirkan tontonan seram bertajuk Scary Stories to Tell in the Dark. Kali ini ia bertindak sebagai produser merangkap penulis naskah. Sedangkan kursi sutradara dipercayakan kepada André Øvredal, yang sebelumnya membesut film horor The Autopsy of Jane Doe.

Berlatar belakang tahun 60-an, sekelompok remaja menghabiskan malam Halloween dengan mengunjungi sebuah rumah angker. Tak dinyana, mereka justru menemukan sebuah buku. Buku yang akan membuka tabir teror kepada mereka yang berani membuka halaman per halamannya. Satu-persatu dari mereka pun harus berjuang agar dapat lolos dari maut yang mengintai.

Mengikuti jejak film IT yang telah diadaptasi ke layar lebar dari novel karya Stephen King dengan judul yang sama, dan layaknya buku Goosebumps yang sering dibaca oleh anak-anak 90-an, Scary Stories to Tell in the Dark pun adalah kumpulan cerita horor karya penulis Alvin Schwartz yang melibatkan karakter anak-anak yang kini mendapat giliran diangkat ke dalam medium film.

Menjadikan kisah dengan setting mencekam menjadi sebuah film dengan sentuhan drama bukan perkara yang lumrah sekaligus mudah. Tetapi, Guillermo Del Toro bersama André Øvredal berhasil membuat hal tersebut menjadi sesuatu yang wajar dan mungkin untuk dibuat. Scary Stories to Tell in the Dark adalah pembuktian bahwa dengan premis cerita sekuno apapun, Del Toro tetap sukses menasbihkan diri sebagai sineas yang menjanjikan sekaligus berpengaruh di industri perfilman Hollywood saat ini.

Seperti disinggung sebelumnya, Guillermo Del Toro memang dikenal dengan kemampuannya dalam menciptakan dunia reka-percaya yang fantastis, lengkap dengan berbagai makhluk ajaib dari dunia lain, dengan “mood”, “look”, dan “feel” yang khas. Hellboy misalnya, dibuat kental dengan signature-nya yang khas, dengan karakter, lansekap, dan cerita bergenre fantastis. Pun dengan film lainnya seperti “Pan’s Labyrinth” dan “The Shape of Water”.

Dan dalam Scary Stories to Tell in The Dark, lagi-lagi nuansa khas Del Toro pun mau tak mau hadir. Lihatlah sosok makhluk menyeramkan sekaligus unik yang hadir di sini seperti Harold the Scarecrow, Pale Lady, dan Jangly Man. Karakter-karakter tersebut sengaja diambil dari trilogi seri bukunya yang paling terkenal, yakni Scary Stories to Tell in the Dark (1981), More Scary Stories to Tell in the Dark (1984), dan Scary Stories 3: More Tales to Chill Your Bones (1991). Buku yang konon menginspirasi Guillermo Del Toro dalam menciptakan makhluk-makhluk ajaib sekaligus original di setiap karya-karyanya.

Tempo bertutur milik Scary Stories to Tell in the Dark memang bisa dibilang cukup lambat. Paruh awal film dipenuhi dengan pembangunan masing-masing karakter yang begitu kuat. Sehingga, penonton bisa menaruh simpati kepada karakter-karakter yang ada di dalam film ini. Hingga semakin bertambahnya durasi, sang pembuat film makin menambahkan unsur-unsur misteri yang membuat penonton bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Detail artistik di dalam film ini pun menjadi poin penting yang sangat diperhatikan oleh si pembuatnya. Hal tersebut rupanya menjadi satu poin wajib di setiap film milik Del Toro. Stories to Tell in the Dark berhasil memanjakan mata penontonnya lewat detail-detail menarik, seperti tata busana, permainan warna, dan terutama detail setting tahun 60-an yang sangat believable. Dengan beberapa aspek tersebut, André Øvredal yang dibantu Del Toro berhasil membangun suasana mencekam (sekaligus indah) meskipun penampakan atau jumpscares berbagai makhluk supranatural tak terlalu memiliki poin besar bagi kelangsungan film ini.

Poin plus lainnya dari film ini terletak di sepanjang konflik cerita serta simbolisasi yang mendasari keseluruhan ide luar biasanya. Dari masalah bullying, parenting, keluarga, persahabatan, cinta, isu rasial, anti-war hingga women’s empowerment, semua bisa mengalir mulus dalam tiap titik penyampaiannya, serta tak lupa pula menahan film ini untuk berada di jalur mutlak yang diperlukan oleh sebuah blockbuster horor dalam permainan utamanya. Sebuah “adventurous ride” penuh fantasi dengan kombinasi rasa, dari tawa hingga takut, jengah tapi juga kerap membawa kita ke titik terenyuh untuk menyelami detail-detail konflik tiap karakternya.

Dengan segala kreasi André Øvredal dan Guillermo Del Toro yang sangat visioner di genre ini, Scary Stories to Tell in the Dark menjadi sebuah pengalaman menonton yang sangat mengesankan. Penggabungan beberapa isu atau tema di dalamnya menjadikannya tak kehilangan arah, malah menjadi sebuah kekuatan di dalam filmnya. Guillermo Del Toro berhasil membangun cerita dan karakter yang kuat di dalam film ini. Dan hal tersebut berdampak bagi psikis penontonnya. Usai menonton, mereka akan tetap dihantui dan diusik lewat kisah horornya yang indah, sekaligus bernarasi kuat.

Penasaran dengan kisah selengkapnya? Saksikan Scary Stories to Tell in the Dark yang sedang tayang di seluruh bioskop Indonesia. Jangan lupa cek jadwalnya di sini ya! Happy watching. 

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

FAST & FURIOUS: HOBBS & SHAW
SAY I LOVE YOU
EXIT
THE ANGRY BIRDS MOVIE 2

COMING SOON

THE INFORMER
IT CHAPTER TWO
DANUR 3: SUNYARURI
WARKOP DKI REBORN