Loading your location

Review SIN: Film Tentang Keajaiban Cinta

By Ekowi13 Oktober 2019

Genre romance bukanlah lagi hal yang baru. Ada yang menggerakkannya ke drama-drama serius, ada juga yang mengarahkannya ke komedi sebagai romcom dengan segala resep baku masing-masing subgenre. Selagi trademark terbesar pencapaiannya ada di film When Harry Met Sally (1989) yang dianggap mewakili genre romance kala itu. Di film Indonesia sendiri sejak dulu juga sebenarnya sudah bertabur tema-tema sejenis.

Kita semua pasti menyukai keajaiban. SIN sendiri adalah film tentang keajaiban. Tidak perlu kehadiran makhluk makhluk mitologi atau ilmu sihir. Menyebut “cinta sendiri adalah keajaiban” rasanya tidak berlebihan, sebab, karenanya banyak hal-hal di luar nalar terjadi. Seperti kisah cinta dengan karakter pasangan yang bertolak belakang, hingga cinta terlarang dengan saudara kandung kita sendiri.

Metta (Mawar De Jongh) dan Raga (Bryan Domani) seharusnya tidak jatuh cinta. Raga benci wanita yang “banyak drama” seperti Metta. Metta pun hanya ingin membuktikan bahwa Raga tidak ada bagusnya. Tetapi, mereka tetap jatuh cinta. Kehidupan mereka menjadi kusut. Keluarga Raga menentang hubungan mereka, dan Metta mulai menjadi target musuh Raga. Tanpa alasan, Raga memutuskan hubungan dan menghilang. Saat Metta mengetahui alasan di balik putusnya hubungan ini, Metta harus memilih antara menyerah pada takdir atau bahagia namun harus menanggung dosa.

Saat jelas tak ada yang spesial dari premis tadi, dan plot yang sudah hampir saban hari kita lihat dari sinetron ke layar lebar, dari film Indonesia ke film luar, skrip buatan Johanna Wattimena dan Faradita secara mengejutkan ternyata bisa begitu mengalir dengan koneksi yang mungkin juga relatable bagi banyak orang. Mungkin memang terlihat generik dan bisa jadi klise setengah mati, namun skrip itu bersama storytelling Herwin Novianto sebagai sutradara sukses membentuk satu kesatuan kuat sebagai fondasi untuk mengantarkannya ke pencapaian berbeda di film kita.

Bermula sejak dinamisnya adegan pembuka, interaksi dua tokoh utama tak pernah luput memancing senyum. Ditambah chemistry luar biasa Mawar De Jongh dan Bryan Domani yang menampilkan kesan natural ketimbang memaksakan kekonyolan atau dramatisasi. Pria tampan dan wanita cantik dengan busana tak berlebihan namun memikat mata yang rutin memancing tawa bahagia satu sama lain. Sulit untuk tidak terbuai oleh keduanya.

Proses-proses yang terhantarkan dengan wajar lewat skrip, penyutradaraan serta chemistry penuh sparks tadi juga sangat dihidupkan oleh ambience visual yang dipilih Herwin Novianto dan berpadu bersama scoring garapan Andhika Triyadi, juga pilihan lagu-lagu soundtrack-nya. Ambience atau atmosfer ini membuat SIN terlihat semakin cantik dan elegan dalam tiap sisi penyampaiannya. Gestur ditampilkan dengan baik oleh Bryan Domani yang tak perlu meledak-ledak, tapi terus menjaga improvisasi yang walaupun dasarnya serba generik menjadi melodius dan tak lagi terasa klise.

Di departemen akting, SIN juga masih punya daya tarik lain lewat deretan pemeran pendukungnya dari Jerome Kurnia, Adhitya Alkatiri, Dannia Salsabila, Marthino Lio, Jeremy Thomas, hingga Hans de Kraker. Biarpun mungkin tetap berupa mix and match cast yang aji mumpung, tapi SIN bisa tak berakhir dalam persepsi negatif dalam effort-nya.

Begitu pula di departemen teknisnya, balutan ambience dan chemistry juara tadi juga berhasil membentuk blend yang bagus dengan tata kamera Edi Michael Santoso, artistik dari Moty Monty dan penyuntingan Sentot Sahid yang dinamis. Tak pernah jadi terlalu detil memang, but look closer, penggarapan teknisnya mampu membentuk sinergi yang baik bersama penyutradaraan Herwin Novianto yang benar-benar terasa flawless tak seperti biasanya, termasuk ke guliran ending, yang hadir begitu natural tapi manisnya luar biasa. Ini, rasanya, merupakan ketepatan pitch dan momentum yang tak mudah dicapai semua film romance bahkan yang sudah terlihat pede dengan unsur-unsur filmis serta jajaran cast & crew-nya.

Faktor-faktor positif di atas berhasil membentuk SIN menjadi sebuah film romance yang sukses. Konsisten di ranah romantic, pun memiliki super-cute chemistry yang benar-benar sulit ditampik antara dua subjeknya. A cute, adorable and rarely jazzin’ Indonesian romance. Cantik sekali.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

GODZILLA VS KONG
IP MAN: KUNGFU MASTER
DEMON SLAYER: KIMETSU  NO YAIBA: MUGEN TRAIN
JANGAN SENDIRIAN

COMING SOON

THE OUTPOST
KKN DI DESA PENARI
MR. ZOO
NO TIME TO DIE