Loading your location

Review Trinity Traveler: Perjalanan Penuh Spirit dan Kehangatan dari Sang Traveler

By Ekowi29 November 2019

Film jalan-jalan tanpa cerita dan hanya mengobral pemandangan alam. Mungkin demikian selentingan negatif yang bakal disematkan banyak pihak pada adaptasi buku perjalanan laris The Naked Traveler karya Trinity ini. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Bersama penulis naskah Rahabi Mandra, tujuan sutradara Rizal Mantovani memang hanya satu, yakni membuat traveling movie di mana karakternya singgah dari satu tempat ke tempat lain, menikmati keindahan alam sambil sesekali terlibat sedikit konflik yang mengajarinya akan satu-dua hal tentang makna kehidupan.

Trinity (Maudy Ayunda) menerbitkan buku pertamanya dan berhasil menjadi best-seller. Sekarang dia lebih dikenal sebagai TRINITY TRAVELER dan mendapatkan beasiswa S2 di Filipina sambil tetap menjalani hobby traveling-nya. Bapak (Farhan) dan Ibunya (Cut Mini) selalu mendesaknya agar segera menikah, karena menurut mereka dengan menikah Trinity akan lebih bahagia dalam menjalani kehidupannya. Dalam sebuah perjalanan travelling-nya, Trinity bertemu dengan Paul (Hamish Daud), lelaki misterius yang membuatnya penasaran. Trinity kemudian dihadapi dilema antara menggapai cintanya atau mengejar passion-nya.Trinity

Traveler sebenarnya tidak wajib menyertakan ruwetnya drama kehidupan, karena konflik dalam kegiatan traveling sendiri pada dasarnya sudah beragam, sebutlah kesulitan mengumpulkan dana, adaptasi di tempat baru, atau yang paling fatal: tersesat. Naskah Rahabi Mandra sempat menyelipkan rangkaian masalah tersebut, bahkan tak lupa mencantumkan solusi yang cukup untuk membuat penonton awam bergumam "oh begitu toh caranya". Namun sayang, ketimbang rutin menghadirkannya di tiap destinasi Trinity, aspek tersebut hanya muncul sesekali, menjadikan mayoritas durasi film tetap didominasi presentasi pemandangan alam.

Beruntung sinematografi dari Yadi Sugandi piawai dalam memamerkan keindahan alam. Memanfaatkan kesempatan mengambil gambar di bermacam surga dunia, Yadi Sugandi mengemas visualnya dengan ketepatan warna serta sudut kamera yang memfasilitasi penonton untuk ikut menikmati, serta terbuai oleh kecantikan tiap lokasi yang dijajaki Trinity. Di sinilah keberadaan Rizal Mantovani di kursi penyutradaraan terasa cocok. Sang sutradara mungkin sering keteteran bercerita, namun tidak demikian soal merajut visual, coz he's one of the best Indonesian music video director. Selain indah, alam pun megah, dan Trinity Traveler mampu menonjolkan kemegahan itu, meski seiring waktu berjalan keelokan gambarnya kurang menggigit akibat alurnya yang tipis dan minim gesekan.

Seolah menyadari kekurangan tersebut, durasi filmnya turut diisi oleh percikan intrik antara Trinity dengan kedua sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli). Andai berkonsentrasi pada paparan nilai persahabatan saja, filmnya mungkin bisa berpotensi tampil hangat dan manis. Namun mencapai babak konklusi, film ini berambisi memberi pelajaran lebih "bermakna" seputar kesadaran Trinity akan sikapnya yang malah melemahkan penceritaan saat kemunculannya terkesan mendadak akibat porsi eksplorasi yang minim. Konklusi seyogyanya adalah poin vital, karena konklusi yang lemah dapat meruntuhkan segala keberhasilan yang dicapai oleh suatu film, dan Trinity Traveler mengalami hal yang serupa.

Oke, cerita boleh saja lemah, akan tetapi kehadiran Maudy Ayunda sebagai lead actress mampu mengangkat daya tarik perjalanannya. She's so charming, funny, and likeable. Entah adegan romantis bersama Hamish Daud atau bersanding dengan Babe Cabita memamerkan kebodohan menggelitik mampu begitu meyakinkan ia lakoni. Maudy juga sukses mengimbangi keliaran Ayu Dewi, menjalin interaksi "renyah" yang selalu menarik setiap kali mengisi layar. Dan yang terpenting, kecerdikan sekaligus kesan spiritful dari Trinity sang traveler sanggup ia tampilkan. Kita pun sebagai penonton pastinya tak keberatan jika harus menghabiskan hampir dua jam melihatnya jalan-jalan menikmati pemandangan walau tanpa diiringi banyak gejolak sekalipun.

Tontonlah, dan resapi esensi cerita dari filmnya, yakni “Ke mana pun kaki melangkah, tetap saja Indonesia akan menjadi rumah”. Memang benar sekali kecantikan alam Indonesia tiada taranya dan terlihat jelas diperlihatkan melalui keindahan nan spektakuler lewat film ini.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

COPSHOP
THE ICE ROAD
THE POLICEMAN`S LINEAGE
TRAH 7

COMING SOON

JAKARTA VS EVERYBODY
MALIK & ELSA
THE DOORMAN
BUKU HARIANKU