Loading your location

Review Abracadabra: Sajian Megah dengan Kemasan Unik

By Ekowi15 Januari 2020

Judul film karya Faozan Rizal ini memang mengesankan sesuatu yang benar-benar magical. Belum lagi jika kita melihat jajaran cast-nya yang terdiri dari begitu banyak nama besar, mulai dari mereka yang sudah jadi langganan film-film layar lebar Indonesia sampai yang baru pertama kali terlibat. Sebesar apa cast tersebut? Mari mulai berhitung. Di sini ada nama-nama seperti Reza Rahadian, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Butet Kartaredjasa, Jajang C. Noer, Poppy Sovia, Paul Agusta, Asmara Abigail, Egi Fedly, Ence Bagus, Imam Darto, hingga musisi Kill The DJ yang bermain dalam peran utama hingga sekadar cameo. Jajaran ensemble cast super besar, setting magis, serta cerita yang dituturkan dalam berbagai rentang generasi. Apakah ini memang film termegah dari Faozan Rizal?

Naskahnya ditulis langsung olehnya sendiri yang terinspirasi dari karya seniman-seniman mancanegara semisal Maurits Cornelis Escher, Caspar David Friedrich, hingga Frida Kahlo. Mereka yang pernah atau bahkan menyukai film-film Wes Anderson, paling tidak sudah memiliki ekspektasi tontonan macam apa yang akan dihadirkan di sini. Ekspektasi tersebut tidak keliru, karena Abracadabra memang menawarkan gambar-gambar penuh warna, set yang tertata begitu artistik, atmosfer yang quirky, hingga kekacauan yang terasa absurd namun menyenangkan. Bedanya tentu saja film ini lebih kaya akan unsur lokalitas.

Lukman (Reza Rahadian) adalah seorang grandmaster sulap yang sudah tidak lagi percaya pada keajaiban. Di pertunjukan sulap terakhirnya, ia berencana untuk gagal dan sekaligus pamitan ke teman-temannya untuk tidak lagi bermain sulap. Lukman mempersiapkan trik mudah dari kotak kayu milik ayahnya. Ia akan memanggil seseorang dari penonton untuk masuk ke dalamnya, memakunya, lalu mengucapkan "Abracadabra!", dan tentu saja orang tersebut masih ada di dalamnya. Tidak ada kejaiban. Tapi yang tidak dia ketahui adalah, bahwa kotak itu milik banyak penyihir besar di masa lalu.

Pertunjukan pun berlangsung, dan seorang anak laki-laki (Muhammad Adhiyat) yang masuk ke kotak itu ternyata menghilang. Lukman tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Ia juga tidak tahu bagaimana cara mengembalikan anak itu. Seorang Kepala Polisi (Butet Kartaredjasa) yang sangat menginginkan kotak itu berusaha mengejar Lukman dan menuduhnya atas kasus penculikan anak. Kisah berubah menjadi permainan kucing dan tikus antara Lukman dan Kepala Polisi yang ingin menangkap Lukman dan memiliki kotak itu untuk dirinya sendiri.

Perjalanan Lukman untuk mulai percaya pada keajaiban kembali menjadi rumit ketika seorang perempuan, Sofnila (Salvita Decorte), tiba-tiba muncul dari kotaknya. Sofnila percaya bahwa ia adalah salah satu asisten Lukito (Landung Simatupang), ayah Lukman, yang dulu pernah menghilang di kotak itu. Perjalanan selanjutnya membuat Lukman bertemu dengan beberapa penyihir teman lama ayahnya, dan ia mulai mengerti bahwa dia tidak pernah dilahirkan oleh siapa pun kecuali ayahnya yang menemukannya di dalam kotak itu.

Di balik narasi penghubungnya yang menampilkan "orang bercerita tentang orang yang sedang bercerita" serta berbagai subplot tentang konspirasi, sebenarnya Abracadabra jauh dari kesan rumit yang dihadirkan oleh konsep tersebut. Semuanya begitu sederhana tanpa ada jalinan plot yang rumit di dalamnya. Hanya saja cara bertutur Faozan Rizal yang quirky, aneh dan absurd ini memang akan susah diterima oleh penonton yang baru pertama kali menikmati film eksperimental sang sutradara. Sobat nonton mungkin membutuhkan waktu beberapa menit untuk terbiasa dengan berbagai istilah serta nama-nama yang sedikit susah untuk diingat. Tapi di saat sudah terbiasa dengan ritmenya (yang tidak akan memakan waktu lama) maka film ini memberikan jaminan kesenangan luar biasa yang tidak akan bisa disamai oleh film lainnya.

Faozan Rizal tampak begitu unik dalam mengemas film ini. Ia berhasil mengeluarkan sisi imajinatifnya dalam menciptakan dunia dalam film. Layaknya negeri-negeri dalam cerita dongeng, begitulah dunia yang akan ditampilkan di sini. Yang penulis suka dari dunia ciptaan Faozan Rizal ini adalah dunia tersebut tidak akan membuat kita teringat pada sebuah tempat tertentu yang nyata, tapi berhasil menciptakan kesan bahwa tempat itu memang baru dan benar-benar ada berkat segala detailnya yang digarap sempurna. Dalam hal ini tata artistik dan sinematografi yang cantik memang memegang peranan besar.

Begitu banyak warna-warni cerah yang amat memanjakan mata dipadukan dengan tata artistik yang seolah memberikan kesan bahwa tiap setting yang muncul, meski hanya beberapa detik, benar-benar digarap dan diperhatikan sampai ke tingkatan detail yang paling kecil. Film The Wedding & Bebek Betutu besutan Hilman Mutasi sudah melakukan hal serupa pada tahun 2015 lalu, namun Abracadabra membawanya ke tingkatan yang lebih tinggi lewat set yang lebih luas dan jauh lebih beragam. Penempatan kameranya benar-benar mendukung tata artistik super detail dan cantik tersebut lewat sudut yang beragam, sampai tentunya akan ada wide-shot ala Wes Anderson yang sanggup memberikan kesan megah dalam tiap adegannya.

Kebanyakan film dengan gambar cantik akan memberikan tekanan yang maksimal pada beberapa adegan tertentu sehingga mungkin adegan-adegan minor yang hanya numpang lewat tidak sampai terlihat indah, tapi tidak dengan film ini. Entah itu hanya sekadar adegan berjalan atau momen sekecil apapun bisa terlihat begitu cantik berkat koreografi gerak yang berpadu sempurna menciptakan keselarasan mengagumkan dengan aspek-aspek di atas tadi. Belum lagi ditambah iringan musik gubahan Krisna Purna yang mengisi hampir tiap adegan tanpa harus menjadi sebuah distraksi yang akan mengganggu fokus utamanya. Di sinilah hebatnya aspek teknis film ini. Dengan kuantitas melimpah yang sekilas terasa penuh sesak, semuanya sanggup dikawinkan menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi.

Tapi Abracadabra bukan hanya hiburan visual belaka, karena cerita yang dihadirkan juga begitu menarik. Pada perjalanannya, aspek drama yang hadir mungkin tidaklah terlalu emosional, tapi begitu memasuki konklusi, perlahan kita akan menyadari bahwa ceritanya terasa mendalam bahkan tragis. Mungkin pada saat filmnya berakhir tidak salah untuk menyebutnya sebagai tragicomedy, walaupun sepanjang film mungkin tidak akan terasa banyak tragedi di dalamnya. Semuanya lebih berfokus pada keseruan yang hadir dalam usaha Lukman untuk menyelesaikan semua masalah yang ada dengan sentuhan-sentuhan komedi "aneh" yang membuat kita tertawa sambil menempuk jidat saking aneh dan absurdnya cara Faozan Rizal dalam melemparkan lelucon. Komedi banyak muncul dari interaksi antara Butet Kartaredjasa, Ence Bagus, dan Imam Darto yang lagi-lagi bisa dibilang aneh.

Tapi ada juga sentuhan black comedy saat secara tidak terduga Faozan Rizal menampilkan momen yang terasa mengiris hati meski hanya sedikit tapi begitu mengena. Mungkin banyak karakternya yang tidak benar-benar mengundang simpati. Tapi begitu film mendekati konklusi, tanpa sadar kita akan merasakan sedikit kepedihan dan simpati pada karakter-karaternya.Abracadabra terasa begitu seru dan menyenangkan, tapi dengan syarat: sobat nonton harus bisa menerima segala keanehan yang diberikan Faozan Rizal. Namun jika tidak, maka adegan kucing-kucingan di sini akan terasa non-sense. Tapi jika anda bisa menerima semua itu dan tentunya berkat aspek visual yang luar biasa, film ini akan jadi sajian yang penuh kesenangan, penuh keseruan, penuh canda tawa namun juga penuh perenungan yang terasa bittersweet pada akhirnya. Abracadabra, sebuah dunia magis dari seorang pria imajinatif bernama Faozan Rizal.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

KAJENG KLIWON
IP MAN 4: THE FINALE
LOVE AAJ KAL
HITMAN: AGENT JUN

COMING SOON

THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS
SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2
THE CALL OF THE WILD
MEKAH I'M COMING