Loading your location

Review Akhir Kisah Cinta Si Doel: Bukan Hanya Soal Sarah dan Zaenab

By Ekowi26 Januari 2020

Dari adaptasi novel sastra Balai Pustaka Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Majoindo yang dibesut Sjumandaja, berlanjut ke satu sekuel layar lebar Si Doel Anak Modern (1976) dan versi sinetron Si Doel Anak Sekolahan berjumlah 162 episode dalam 7 musim termasuk 1 musim lanjutan yang berjudul Si Doel Anak Gedongan dari 1994 – 2006, lantas FTV Si Doel Anak Pinggiran yang ditayangkan menyambut Lebaran 2011, sebagai sinetron Indonesia terlama yang ditayangkan di televisi kita, ditayangkan ulang pula dari tahun 2009 hingga sekarang, status Si Doel jelas layak mendapat predikat legendaris. Status itu tentu tak bisa dicapai tanpa fanbase yang besar, terutama generasi ’90an, di sepanjang sejarahnya.

Itu mungkin yang menjadi kalkulasi tepat bagi Falcon Pictures di balik akuisisi Karnos Film untuk melanjutkan langkahnya kembali setelah keputusan stasiun televisi atas FTV Si Doel Anak Pinggiran yang urung membawanya ke layar lebar. Selagi kita sebagai pengamat atau penonton boleh-boleh saja memprediksi di tengah trend produk-produk IP yang diangkat kembali bersama istilah “reborn“, sasaran pasar Si Doel tak bisa dipungkiri, akan tetap ada.

Berbicara soal proses membangkitkan materi klasik ke layar lebar, biasanya akan diawali dengan menebar aroma nostalgia guna merenggut kepercayaan penggemar, sebelum mulai menyongsong ke arah baru. Tidak terkecuali film Si Doel the Movie dan Si Doel the Movie 2 yang tampil layaknya prolog. Tapi rupanya, film pertama dan kedua bukan saja prolog bagi cerita utama, pun elemen nostalgia, saat selain membawa kisahnya bergerak maju (setidaknya untuk ukuran Si Doel yang akan terus berkutat soal cinta segitiga), film terakhirnya kali ini yang mengambil judul Akhir Kisah Cinta Si Doel turut menghadirkan nostalgia lebih besar, lebih kuat, dan lebih emosional.

Kepulangan Sarah (Cornelia Agatha) bersama Dul (Rey Bong) ke Jakarta, disambut bahagia oleh keluarga Doel (Rano Karno). Namun hal tersebut juga membuat Zaenab (Maudy Koesnaedi), Sarah, dan Doel dihadapkan pada pilihan yang menentukan. Zaenab yang positif hamil dan masih trauma karena pernah kehilangan buah hatinya di masa lalu, kini harus memilih antara tetap berada di sisi Doel, atau merelakannya demi menyatukan kembali sebuah keluarga. Sarah harus memutuskan apakah akan mantap bercerai dengan Doel, atau rujuk kembali demi Dul, si buah hatinya. Dan Doel sendiri harus cepat memutuskan siapa yang akan dia pilih.

Dibandingkan tokoh lain, Zaenab (Maudy Koesnaedi) rupanya yang paling banyak melalui konflik batin kali ini. Dia sudah tahu Doel menemui Sarah (Cornelia Agatha) dan puteranya, Dul (Rey Bong), di Belanda, menyadari bahwa sang suami masih mencintai istri pertama yang belum resmi diceraikan, lalu mendapat kabar jika sang “rival abadi” telah pulang ke Indonesia. Bertambahnya dilema juga berarti bertambahnya kesempatan untuk Maudy memamerkan kapasitas akting. Caranya mengekspresikan rasa, dari lontaran kalimat mengenai keikhlasan yang dibarengi senyuman terpaksa dan mata berkaca-kaca, pilihan kata yang menyiratkan kecemburuan (hal ini selalu membingungkan Doel dan membuat penonton geregetan sejak dulu), semuanya sukses menyentuh hati.

Tatkala film pertamanya sedingin Amsterdam, Akhir Kisah Cinta Si Doel pun akan sepanas Jakarta, dengan rentetan masalah seru yang bisa membuat penonton berharap-harap cemas sambil menggerutu sendiri tak ubahnya ibu-ibu penonton sinetron. Masalah-masalah tersebut turut membentangkan jalan film pamungkas ini, sekaligus membuka peluang mengoper tongkat estafet ke generasi berikutnnya.

Sebagaimana mestinya kisah-kisah Si Doel di medium televisi, naskah buatan Rano Karno (yang juga menduduki kursi sutradara) tidak lupa menyertakan banyolan ringan, yang kebanyakan dipicu ketidakmampuan (atau keengganan) Mandra mengontrol mulutnya. Banyak tawa ditawarkan, tapi paparan drama keluarga menyentuh milik film inilah yang tetap memantapkan status Akhir Kisah Cinta Si Doel sebagai jilid penutup yang superior. Keseluruhan third act-nya merupakan alasan air mata menetes tak terkendali.

Rano Karno cerdik membangun situasi emosional guna merampungkan beberapa konflik sambil menanam benih baru untuk masa depan. Melihat interaksi tiap karakter, sementara karakter lain merespon interaksi tersebut sungguh mengaduk perasaan. Terlebih ketika Aminah Tjendrakasih alias Mak Nyak membuktikan betapa keterbatasan fisik tak kuasa mengalahkan talenta olah rasa sang legenda yang kecintaannya akan dunia seni peran masih amat membuncah.

Adalah sebuah pilihan tepat untuk menyerahkan skrip dan penyutradaraannya tak lain dan tak bukan kepada Rano Karno sendiri. Sebagai kunci pemegang legendanya sejak awal, meski tak bisa dipungkiri ada kekuatan ansambel yang sama-sama menandai kesuksesan monumental franchise-nya, Rano tampak masih sangat peduli dan menyayangi produk ini. Percikan Si Doel sebagai labor of love-nya tersirat di sepanjang penulisan dan pengadeganannya, bahwa Rano memang tidak sedang berusaha memperkenalkan ulang karakter legendaris ini bagi generasi sekarang tapi hampir sepenuhnya menggunakan semua benang merah yang ada dengan ketepatan amunisi dari seluruh kamerad-nya yang masih setia tampil di sini.

Selain itu, selipan komedik yang digelar Rano pun sama efektifnya. Ia tetap dengan cermat menyusun kepingan-kepingan elemen itu persis seperti kekuatan sinetronnya, yang membuat kenapa fans-nya bisa masuk ke dalam semua karakter yang ada sambil tak lupa menambahkan joke-joke self-mocking untuk perubahan fisik mereka masing-masing tanpa harus terkesan salah kaprah atau kurangajar dalam tatanan persepsi banyak orang sekarang. Selagi Mandra yang tetap selucu dulu sebagai juaranya dalam sisi hiburan, masih ada Atun (Suty Karno), plus Kartubi, anak Atun yang diperankan Ahmad Zulhoir Mardia. Sementara penampilan Aminah Tjendrakasih sebagai Mak Nyak seperti yang sudah disinggung tadi, sedikit banyak juga membuat kita terenyuh bahwa betapa ansambel ini memang luar biasa solidnya.

Sekarang, silahkan tanya kembali; seperti apa reaksi kita sebagai pemirsa-pemirsa yang sudah mengenal Si Doel melihat title card “Terima kasih, Untuk 27 Tahun Setia Menyaksikan Kisah Si Doel Dari Layar Kaca Hingga Layar Bioskop” di penutup film bersama rendisi baru theme song-nya yang diaransemen begitu ciamik. Though still spinning around the same conflicts, Akhir Kisah Cinta Si Doel works in all the jokes and emotional hit. Obviously a thirst-quenching treat for the fans, dan untuk produk-produk seperti ini, itu artinya jelas sangatlah bagus. Sebuah nostalgia sekaligus film penutup yang sangat berhasil.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

HAEUNDAE: THE DEADLY TSUNAMI
JOHN WICK: Chapter 3 - PARABELLUM
PATIENTS OF A SAINT
CHAOS WALKING

COMING SOON

THE SEVENTH DAY
THE MARKSMAN
THE POISON ROSE
THE OUTPOST