Loading your location

Review Aku Tahu Kapan Kamu Mati: Kelam dan Ngeri Maksimal!!!

By Ekowi11 Maret 2020

Sekolah dapat menjadi tempat yang mengerikan – sebuah neraka – bagi para siswa (dan juga para guru). Hadrah Daeng Ratu coba menggarap Aku Tahu Kapan Kamu Mati yang ia sadur dari kritik sistem pendidikan berbungkus horor dengan memasukkan elemen-elemen yang lebih berakar pada keadaan di Indonesia. Yang membuat film ini tergolong sebagai sebuah adaptasi yang kreatif, yang tahu cara melakukan penyesuaian sehingga film tersebut menjadi tak sepenuhnya sama sekaligus tetap memiliki ruh materi yang asli ketimbang source sebelumnya, yakni bukunya.

Sejak pernah mati suri tiga tahun lalu, Siena (Natasha Wilona) memiliki kemampuan tak biasa. Dia bisa melihat mahluk tak kasat mata, bisa membaca pikiran dan bisa melihat tanda-tanda kapan seseorang akan mati. Kemampuannya ini membuatnya dianggap aneh, hingga dia sering dibully dan dikucilkan. 

Pindah ke sekolah baru, Siena menerima perlakuan sama. Di hari pertama, dia melihat tanda kematian di wajah teman sebangkunya. Kemudian berturut-turut terjadi peristiwa janggal di sekolahnya. Satu per satu anggota geng kapten basket sekolah, menerima balasan mengerikan dari kekuatan tak terlihat.

Bukan saja harus menghadapi hantu penunggu sekolah yang marah, Siena juga harus mengungkap misteri pembunuh teman sebangkunya jika tak ingin terus diteror hantu temannya itu. Mampukah Siena menghadapi para hantu yang menuntut balas?

Harus diakui, dengan kualitas awal yang dimiliki oleh Aku Tahu Kapan Kamu Mati, Hadrah selaku sutradara jelas memiliki ruang yang cukup besar untuk memberikan peningkatan kualitas pada jalan cerita filmnya. Beruntung, naskah cerita garapan Aviv Elham cukup mampu menjalankan misi tersebut. Jika dibandingkan dengan bukunya, film ini memang masih menghadirkan penggalian kisah dan karakter yang cenderung minimalis dan mengandalkan elemen atmosfer penceritaan yang kelam untuk menonjolkan elemen horornya. Namun, naskah ceritanya berhasil dikembangkan secara lebih dinamis. Konflik yang terbangun antar karakter yang melakukan perundungan dibangun serta digali dengan cukup mendalam sehingga penonton dapat merasakan teror yang datang tidak hanya dari elemen supranatural, namun juga dari tindakan perundungan yang coba digambarkan oleh sang sutradara.

Kekuatan utama dari presentasi kisah Aku Tahu Kapan Kamu Mati jelas berasal dari kemampuan Hadrah untuk mengeksekusi filmnya dengan pengarahan yang begitu efektif. Meninggalkan gaya pengisahan horor nasional yang dipenuhi dengan gambaran-gambaran mengejutkan akan berbagai sosok makhluk supranatural serta iringan musik yang begitu menghentak, ia menyajikan film ini selayaknya arti yang ditunjukkan oleh judulnya : perlahan mengalun dengan atmosfer kisah bernuansa kelam yang kemudian memberikan tingkat kengerian yang maksimal.

Aku Tahu Kapan Kamu Mati menjadikan aspek supranatural sebagai metafora dari kengerian yang dirasakan oleh penghuni sekolah yang bagai terpenjara oleh sistem pendidikan. Menciptakan kompetisi mengerikan di antara mereka. Memisahkan teman, menjadikan mereka saingan. Guru-guru yang galak (sengaja ataupun terpaksa) adalah pembully utama di dalam cerita. Secara esensi memang mengerikan sekali. Atmosfer kuno yang hadir dari sistem horor dunia pendidikan itu terasa menempel di setiap sudut-sudut kamera.

Dengan teknologi kekinian, sang kreator film ini juga sanggup menghadirkan adegan-adegan kematian yang lebih menghibur. Hanya saja, hantu-hantu ini memang kepentingan utamanya adalah sebagai alat agar film memiliki alasan untuk menghadirkan jumpscare. Walaupun menurut penulis, semestinya hantu-hantu tersebut bisa dikembangkan lebih jauh lagi untuk kepentingan cerita.

Dukungan tata musik garapan Joseph S Djafar serta gambar-gambar yang dihasilkan oleh sinematografer Asep Kalila menjadi elemen vital bagi kesuksesan Hadrah dalam menggali elemen horor dari Aku Tahu Kapan Kamu Mati secara lebih mendalam. Film ini memang sempat terasa menemui jalan buntu dalam pengisahannya pada paruh keduanya, yang lantas membuat paruh berikutnya dari penceritaan film ini terasa dieksekusi dengan begitu terburu-buru, namun hal itu tidak mengurangi kualitas keseluruhan yang telah berhasil dicapai oleh presentasi Aku Tahu Kapan Kamu Mati.

Pemberian latar belakang kisah yang cukup memadai pada beberapa karakter utama dalam jalan penceritaan film harus diakui berhasil membuat karakter-karakter yang dihadirkan film ini tampil menjadi lebih hidup. Penampilan dari departemen akting film ini juga menjadikan karakter-karakter tersebut lebih mudah untuk menjalin hubungan emosional dengan penonton. Walaupun penampilan Al Ghazali masih sering terasa kurang maksimal, namun penampilan Ria Ricis sebagai garda terdepan departemen akting film akan sukses merebut perhatian penonton secara utuh. Aku Tahu Kapan Kamu Mati juga menampilkan Asri Welas dan Catherine Wilson yang sayangnya hadir dengan komposisi pengisahan yang terlalu minimalis.

Meski begitu, secara keseluruhan, Hadrah Daeng Ratu telah berhasil menghadirkan Aku Tahu Kapan Kamu Mati sebagai sebuah horor berkelas yang bahkan mampu melampaui kualitas pengisahan yang dahulu dihadirkan oleh buku yang menjadi sumber inspirasi kisahnya.

Film ini harusnya bisa menjadi suatu pandangan mengerikan tentang praktek perundungan di lingkungan sekolah, bagaimana praktek tersebut mempengaruhi murid-murid, serta bagaimana posisi guru di sistem tersebut. Film seharusnya bisa merangkul hal ini, dan menjadi sedikit lebih berbobot sehingga lebih banyak yang bisa penonton bawa pulang selepas keluar dari gedung bioskop.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

THE SWORDSMAN
THE ASSENT
MY SPY
DILWALE DULHANIA LE JAYENGE

COMING SOON

KKN DI DESA PENARI
ARWAH TUMBAL NYAI: NYAI
BUKU HARIANKU
MR. ZOO