Loading your location

Review Birds of Prey: Petualangan Baru Mantan Kekasih Joker

By Ekowi08 Februari 2020

Pasca peristiwa di Suicide Squad (2016), nasib Harley Quinn ternyata makin nestapa. Meski sudah tidak lagi menjadi tahanan, tapi ia sudah dicampakkan oleh belahan jiwanya, The Joker. Alhasil, Quinn menjadi incaran atau sasaran empuk nan lemah untuk para penjahat dan penegak hukum di Gotham.

Salah satu pihak yang paling ingin membuhnuhnya adalah Roman Sionis (Ewan McGregor), salah satu penjahat ternarsis di kota Gotham. Lantaran masih mau hidup, Quinn bernegosiasi dengan Sionis dengan menawarkan diri untuk membawa seorang gadis muda bernama Cassandra Cain (Ella Jay Basco) yang memiliki benda berharga.

Menariknya, alih-alih menyerahkan Cass ke sang penjahat, Quinn justru merasa simpati nya. Di titik inilah mantan kekasih The Joker itu mulai berubah pikiran. Bersama kawan-kawan barunya, Black Canary (Jurnee Smollett-Bell), Huntress (Mary Elizabeth Winstead) dan Renee Montoya (Rosie Perez), ia berbalik melawan Sionis.

Kisah di atas tersajid dalam produksi terbaru Warner Bros. Pictures dan DC Films berjudul Birds of Prey. Disutradarai oleh Cathy Yan, film tersebut merupakan kisah mandiri dari salah satu karakter di Sucicie Squad (2016), Harley Quinn. Menurut penulis, sebagai anti-hero, layar lebar ini tampil cukup baik.

Setidaknya ada yang tiga hal yang menjadi alasannya. Pertama, meski terlihat cukup kesulitan di awal, Cathy Yan sukses merangkai cerita dengan cukup rapi dan runut, terutama dalam membangun background para karakternya. Gaya cerita back and forth yang digunakan sang sutradara dengan suara Quinn sebagai narator juga ikut membantu.

Itulah yang membuat fase perkenalan karakter-karakter di Birds of Prey ini menarik alias tidak membosankan untuk ukuran film berdurasi 1 jam 49 menit. Tone yang digunakan Cathy juga tak jauh berbeda dengan Suicide Squad (2016). Gaya dan tampilan Harley Quinn pun tak ada yang berubah, tetap sama seperti bagaimana ia disukai para penggemar.

Kedua, untuk ukuran film anti-hero, Birds of Prey juga tampil penuh warna layaknya Suicide Squad. Menurut penulis, inilah daya tarik utama film ini. Di satu sisi, sobat nonton akan disuguhkan betapa "gelap-nya" karakter-karakter DC Comics, namun di sisi lain tetap terasa menyenangkan karena sangat colorful.

Ketiga, unsur dark comedy di film ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Bagian ini sukses membuat Birds of Prey juga tampil kocak. Mulai dari dialog yang mengandung dark jokes hingga aksi sadis yang alih-alih mengerikan, malah justru menjadi lucu dan keren. Sebuah pengalaman sinematik yang benar-benar unik.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

THE GENTLEMEN
MEKAH I'M COMING
SONIC THE HEDGEHOG
BUKU HARIANKU

COMING SOON

JODOHKU YANG MANA? (MOLULO 2)
JEXI
KILLERMAN
VANGUARD