Loading your location

Review Buku Harianku: Film Musikal yang Menyenangkan dan Penuh Pesan Moral

By Ekowi18 Maret 2020

Bagi penulis, sebuah film musikal yang baik adalah pertemuan kreativitas dengan keindahan tak tergambarkan, yang mampu menggerakkan rasa meski tanpa peristiwa penuh melodrama. Dan film Buku Harianku berhasil memenuhi persyaratan tersebut. Di situ, Angling Sagaran selaku sutradara bukan sebatas mengumpulkan sebanyak mungkin karakter dan menyuruhnya untuk menari sambil menyanyi, melainkan menempatkan mereka di berbagai titik peristiwa, yang masing-masing menyimpan elemen unik.

Kila (Kila Putri Alam) adalah seorang anak yang ceria, cerdas, kritis, tapi juga keras kepala. Dia senang mencurahkan isi hati dengan menulis di buku hariannya. Suatu ketika, oleh ibunya (Widi Mulia), Kila dititipkan sementara sekaligus mengisi masa liburan ke rumah kakeknya, Prapto (Slamet Rahardjo), di Desa Goalpara, Sukabumi. Di desa yang asri tersebut Kila bertemu kembali dengan kawan lamanya, Rintik (Widuri Puteri), yang diproteksi oleh ibunya karena menyandang disabilitas. Kila menganggap Rintik sebagai teman baiknya.

Keceriaan Kila semakin bertambah karena mendapatkan teman-teman baru yang sebaya di desa tersebut. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain, bernyanyi riang, bahkan ikut latihan baris-berbaris dengan Kakek Prapto, pensiunan tentara. Berbekal rasa keingintahuannya terhadap berbagai masalah dan kepedulian terhadap sekelilingnya, Kila ikut membantu warga desa keluar dari jeratan perangkap seorang pengusaha property bernama Samsudi (Gary Iskak).

Buku Harianku bergerak sederhana sesuai formula, tapi serupa dinamika dunia anak, kompleksitas bukan bagian dari kebutuhan. Rasa riang gembira juga dibumbui oleh beberapa nilai kehidupan yang mendasar. Skenario buatan Alim Sudio ini memang masih menyisakan lubang problematika, seperti memasukkan beberapa hal yang dipaksa ada, semata demi peningkatan konflik utama sembari merampungkan konflik interpersonal. Namun di luar itu, naskahnya cukup cerdik dalam merangkum pesan-pesan guna membantu orang tua menyampaikan berbagai nilai moral bagi anak-anak.

Film ini juga mengandung gagasan amat baik yang sangat relevan dengan statusnya sebagai film untuk keluarga. Anak-anak dan remaja yang menonton ini akan banyak mendapatkan pelajaran berharga seputar mengakui dan menghargai perbedaan. Karena mereka hidup dalam dunia yang semakin terbuka. Bahkan lebih beragam lagi dari dunia ketika orangtua mereka masih seusia kanak-kanak. Tantangan untuk memelihara persatuan bakal semakin kuat, namun juga jika diusahakan maka hubungan persatuan yang terjalin bakal jadi lebih erat. Buku Harianku juga mendorong kita untuk memandang perbedaan sebagai sebuah kekuatan, dari berbagai sudut.

Meskipun menyajikan bangunan kisah yang terkesan sederhana dan familiar, Angling Sagaran mampu mengemas kisah persahabatan para karakter dalam filmnya dengan cukup apik. Dengan mengedepankan perbedaan latar belakang antar tiap karakter yang nantinya juga membantu membentuk beberapa konflik yang terjadi di sepanjang linimasa pengisahan film, Buku Harianku lancar menyampaikan ceritanya. Angling juga lihai dalam memberikan garapan tata produksi penuh warna pada visual tiap penceritaan adegan yang membuat film ini begitu nyaman dan menyenangkan untuk terus disaksikan.

Beberapa inkonsistensi terhadap sejumlah karakter dan konflik-konflik antar karakter yang terkesan menghilang begitu saja di paruh akhir film, atau adanya momen drama yang tiba-tiba saja muncul memang terasa sedikit mengganggu. Namun tidak lantas mengurangi pencapaian yang telah dihasilkan Angling Sagaran lewat filmnya ini.

Kekuatan utama presentasi Buku Harianku jelas berasal dari penampilan para jajaran pemerannya. Kila dan Widuri mampu menghadirkan penampilan akting yang mumpuni guna menghidupkan tiap karakter yang mereka perankan, dan di saat yang bersamaan, juga menghadirkan chemistry yang erat antara satu dengan yang lain untuk membuat kisah persahabatan mereka terasa begitu meyakinkan.

Ditunjang oleh penggunaan elemen musikal yang terasa matang. Walau eksekusi beberapa momen musikal tidak sepenuhnya mulus akibat kurang luasnya eksplorasi pengadeganan Angling Sagaran. Karena semua nomor tarian didominasi anak kecil, patut dimaklumi saat tatanan koreografi tersaji belum begitu rapi, dan di sinilah kejelian sang sutradara mestinya lebih berperan.

So, berilah kesempatan kepada film Buku Harianku sebagai penghilang dahaga bagi sobat nonton yang haus akan film- film musikal anak bermutu. Because this movie hit most of the right notes with such wonderful songs, good hearts and many things to learn as the part of Indonesian diversities without being pretentious. Buku Harianku really shines for just being simple, yet delightfully sweet. Tontonlah selagi sempat!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

COMING SOON

1917
ONWARD
MEKAH I'M COMING
ROH MATI PAKSA