Loading your location

Review Dolittle: Suguhan Hiburan yang Segar, Sederhana, dan Menyenangkan

By Ekowi15 Januari 2020

Robert Downey Jr kembali ke layar lebar melalui film terbarunya, Dolittle. Film ini merupakan adaptasi karya sastra klasik tentang seseorang yang bisa berbicara dengan hewan. Orang itu adalah Dr. John Dolittle (Downey). Sejak kehilangan istrinya tujuh tahun lalu, Dolittle yang merupakan dokter hewan eksentrik terkenal di Kerajaan Inggris, menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat umum. Dia bersembunyi di balik tembok tinggi Dolittle Manor bersama para hewan di peternakannya. Namun pengasingan diri yang dia lakukan seketika berhenti saat sang Ratu Inggris (Jessie Buckley) sakit parah.

Dolittle yang masih merasa enggan melakukan banyak hal harus berlayar menuju pulau yang menjadi mitos untuk mencari obat bagi sang ratu muda tersebut. Seiring dengan perjalanan itu, Dolittle perlahan tapi pasti mulai mendapatkan kembali kecerdasan dan keberaniannya. Untuk bisa mencari dan membawa obat itu pada sang ratu muda, dia harus melewati beberapa rintangan, termasuk musuh dari pihak manusia dan yang bukan manusia.

Namun jalan Dolittle akan terbantu oleh kehadiran murid belianya (Harry Collett) dan para hewan yang menjadi sahabatnya. Para hewan yang bergabung di antaranya adalah gorila yang selalu cemas (Rami Malek), bebek yang bersemangat tetapi berpikiran lambat (Octavia Spencer), burung unta sinis (Kumail Nanjiani), beruang kutub yang optimis (John Cena), serta burung beo yang keras kepala (Emma Thompson) yang turut melayani Dolittle sebagai penasihat dan orang kepercayaannya. Kecuali secuil detil pendekatan antropomorfisme yang dalam visualisasinya tak berbeda jauh dari film-film keluarga Hollywood yang menggabungkan karakter fabel berbalut CGI dengan karakter-karakter live action lainnya seperti The Smurfs atau Alvin and the Chipmunks dan masih banyak lagi, tak ada yang terlalu spesial dari plotnya.

Dolittle tetap punya formula baku genre-nya tentang tokoh fabel yang berbaur dengan dunia manusia dengan karakter protagonis dan antagonis serta sekumpulan karakter fabel lain dalam perjalanan plot tadi. Ada komedi, dalam konteks ini, bagi yang lebih mengenal karya-karya Hugh Lofting yang sangat Inggris, jauh lebih light and witty ketimbang Hollywood, juga ada drama serta aksi yang semuanya dikemas dalam pakem tontonan keluarga. Tak ada sesuatu yang baru.

Yang membedakan kualitasnya adalah penggarapan dan atmosfer holiday movies yang dimiliki oleh Dolittle. Sebagai sebuah produksi bertaraf blockbuster dari negara penghasilnya, penggarapan teknis serta kreasi CGI dan animatronics dalam menghidupkan karakter-karakternya bisa dikatakan benar-benar tampil sangat rapi dan menjadikan karakter sentralnya begitu hidup, charming serta adorable untuk membaur bersama karakter-karakter live action-nya.

Para pengisi suara yang rata-rata adalah aktor dan aktris papan atas juga bermain sangat pas dalam porsi komikal serta komedik mereka. Bersama sinematografi Guillermo Navarro dan scoring Danny Elfman, masing-masing cast tadi bisa memberikan daya tarik berbeda untuk memberi penekanan pada kelas produksinya sebagai feel-good and heart-warming movie yang sangat asyik untuk dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Visual juga merupakan unsur yang benar-benar dimaksimalkan oleh Stephen Gaghan selaku sutradara dan timnya. Setting, baik indoor atau outdoor dibungkus warna-warni lembut sembari sesekali beralih menuju kilauan kesan klasik di set kerajaan Inggris. Ditambah beberapa gaya pengadeganan unik sekaligus quirky, takkan berlebihan bila sempat mengira Dolittle melibatkan campur tangan Wes Anderson.

Terkait komedi, nampaknya Dolittle enggan terjebak dalam pola familiar sajian live-action/animasi seperti produksi- produksi keluaran Hollywood lain. Walau slapstick tetap mengiringi, tapi hal tersebut dipakai secukupnya, tak sampai terlampau sering melempar karakternya bergulingan ke sana kemari. Sisanya adalah gambaran situasi anomali, seperti beberapa adegan yang efektif menghasilkan tawa, atau setidaknya memberi penonton kebahagiaan. Bukan deretan komedi yang akan menetap lama di ingatan memang, namun cukup memfasilitasi pengalaman menonton yang menyenangkan. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Pada akhirnya, semua berujung pada apa yang telah disebutkan di awal-awal tadi, Dolittle bergerak sebagai sebuah hiburan sederhana yang menyenangkan. Film ini tidak sok pintar, tidak super megah, namun dengan kecermatan dalam teknik bercerita serta memainkan visual yang terasa ekspresif, Dolittle berhasil memberikan hiburan yang sukses mencapai sasaran yang diinginkan, menjadi sebuah pembuktian bahwa untuk dapat memberikan sebuah hiburan yang menyenangkan bagi keluarga, sebuah film tidaklah perlu mencoba mengolah banyak bagian yang dimiliki secara berlebihan, namun tetap presisi dan tepat guna maka semua akan berakhir dengan manis.

Ya, kekonyolan serta kecerdikan yang dimiliki oleh karakter-karakter dalam film ini, fokus utama yang terus menguat, konflik kecil yang menghasilkan kekacauan yang menarik di sekitar fokus utama tadi, punya humor yang lucu tapi tidak berlebihan, tahu arah ke mana ia akan berjalan sehingga memiliki kepercayaan diri ketika menyuntikkan sedikit drama hingga thrill ke dalam cerita menjadikan Dolittle sebagai film yang memuaskan.

Tidak ada sebuah inovasi yang baru di sini. Tapi, dengan mengandalkan keseimbangan yang tepat di berbagai elemen yang dimiliki, Dolittle berhasil mendaur-ulang rumus klasik dari sebuah family movie menjadi sajian yang segar yang bukan hanya berisikan lelucon konyol dan bodoh namun juga dilengkapi dengan kecerdasan serta pesona yang kuat untuk mencuri hati penontonnya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

FATE STAY NIGHT: HEAVEN`S FEEL III - SPRING SONG
MY SPY
ANNA
PATIENTS OF A SAINT

COMING SOON

THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS
DESTINATION WEDDING
MALIK & ELSA
MR. ZOO