Loading your location

Review Film NKCTHI: Gambaran Jujur Tentang Kehidupan Keluarga

By Ekowi06 Januari 2020

“Bagaimana caranya seorang manusia bahagia, kalau sedih saja tidak tahu rasanya seperti apa?”

Kurang lebih demikianlah potongan dialog tentang persoalan yang ingin diutarakan oleh film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Sebagai film pertama Visinema Pictures dalam membuka tahun 2020, Angga Dwimas Sasongko seperti turun gunung untuk menempati posisi sutradara, setelah sebelumnya hanya duduk mengisi kursi produser dalam sederet film produksi perusahaannya yang diarahkan oleh para sutradara debutan. Bersama Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief selaku penulis naskah, film bergenre drama keluarga ini dibintangi oleh Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha, Rachel Amanda, Donny Damara, Susan Bachtiar, Ardhito Pramono, dan Agla Artalidia. Sebagai film cerita yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama, apakah Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini versi film akan memiliki daya tawar yang cukup signifikan, selain perkara perbedaan medium bercerita?

Setiap orang pastinya akan mendambakan kehidupan keluarga yang berjalan baik-baik saja, menyenangkan, dan selalu diliputi kebahagiaan. Setidaknya inilah keinginan dan harapan dari Awan (Rachel Amanda), kedua kakaknya; Aurora (Sheila Dara Aisha) dan Angkasa (Rio Dewanto), serta Ayah (Donny Damara) dan Ibunya (Susan Bachtiar). Namun seiring berjalannya waktu, rahasia besar yang terus-menerus disimpan oleh sang ayah justru menjadi bom waktu dan momok bagi pondasi kebahagiaan yang telah dibangun belasan tahun. Ancaman ini pun mempengaruhi relasi mereka dengan orang lain. Dua di antaranya; relasi pasca pertemuan Awan dengan Kale (Ardhito Pramono), dan arah hubungan Angkasa dengan Lika (Agla Artalidia) yang telah berpacaran selama 4 tahun. Tidak ada jalan lain bagi keluarga ini selain saling jujur dan terbuka. Walau menuju ke sana jelaslah bukan perkara mudah.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dikemas dalam konsep alur maju-mundur dengan tiga masa, yakni kelahiran, tumbuh-kembang, dan masa dewasa. Kendati mengolah-alihkan cerita dari satu masa ke masa sebelum atau sesudahnya, pergantian tersebut tetap terasa saling berkesinambungan. Alur maju-mundur inilah yang menjadikan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini memiliki dinamika persoalan yang dinamis dalam sebuah keluarga, yang dari luar tampak baik-baik saja, tapi menyimpan sejuta beban dan perasaan. Sobat nonton akan dibuat hanyut ketika mengikuti satu persoalan ke persoalan lain, satu konflik ke konflik lain, satu beban ke beban lain, dan harus bersabar mendapatkan jawaban yang hadir satu per satu, baik dalam beberapa segmen kemudian maupun yang telah usai tersampaikan di segmen sebelumnya.

Pengolahan sinematografi dari Yadi Sugandi yang kemudian diimplementasikan untuk mendukung emosi, motivasi, dan mood film ini, betul-betul sepadan dan mampu saling bekerja sama dengan penyutradaraan Angga Dwimas Sasongko. Melalui aspek ini, shot-shot dinamis coba diterapkan pada segmen dinamika konflik yang masih belum usai, baik dalam keluarga Awan maupun relasi masing-masing dari mereka dengan tokoh-tokoh lain.

Mengenai keterlibatan para “bintang tetap” yang terus mengisi daftar film-film Visinema Pictures (terutama yang disutradarai langsung oleh Angga Dwimas Sasongko), sepertinya tak ada alasan untuk mengomentarinya lebih jauh, karena pencapaiaan akting mereka sebagai aktor dan aktris sudah dalam taraf memuaskan. Walapun sejujurnya, kualitas akting mereka tampak belum maksimal karena warna emosi yang belum terasa di awal-awal film. Namun hal tersebut dapat dipatahkan dalam segmen-segmen berikutnya.

Seperti yang disinggung sebelumnya, kualitas skenario adaptasi NKCTHI memang terasa sangat berbeda dan memberikan tawaran baru dengan plot yang terdiri atas tiga macam; kelahiran, pertumbuhan, dan fase dewasa. Bila dilihat secara garis besar, keseluruhan alur film ini tidaklah maju-mundur. Jika plot-plot tersebut diuraikan sendiri-sendiri, justru akan terlihat hanya ada alur maju. Alur ini menjadi terlihat maju-mundur saat ketiga plotnya dilihat sebagai satu garis lurus. Penyusunan ini tampak sangat jelas karena disebabkan oleh kombinasi dari tiga aspek, yakni sumber cerita (novel atau buku yang diadaptasi), skenario hasil adaptasi, dan konsep editing. Kematangan ketiga poin ini menyebabkan NKCTHI sudah memiliki dampak dan kekuatan yang signifikan walau tanpa mengikutsertakan aspek sinematografi dan kualitas akting para pemainnya. Dan ketika kedua aspek yang disebut terakhir itu masuk, film ini menjadi lengkap dan lebih solid.

Novel sumber adaptasi film ini sebetulnya bukanlah merupakan karya populer seperti novel-novel karya Tere Liye, Ika Natassa, maupun Tetralogi Pulau Buru. Orang-orang yang berada di balik layar NKCTHI rupanya tahu betul soal ini, dan mereka pun mengatasinya dengan strategi pemasaran tertentu. Ulasan ini tidak akan membicarakan bagaimana strategi pemasaran tersebut dalam ranah distribusi, melainkan mengenai isu yang coba diangkat. Satu hal yang sangat bisa digarisbawahi terkait isu dalam film ini bisa dipastikan memiliki relasi atau keterkaitan dengan siapapun di lingkungan keluarga manapun. Terlebih dalam lingkungan keluarga modern yang sangat menjunjung norma-norma baku. Kalaupun satu-dua perkara dalam film ini ternyata tidak dialami maupun dirasakan oleh beberapa orang atau keluarga, pasti selalu ada hal-hal lain yang menggantikannya. Singkatnya, film ini mampu mengcover beragam persoalan relasi inter-keluarga serta turunannya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2
AKU TAHU KAPAN KAMU MATI
THE CLOSET
ONWARD

COMING SOON

STEP UP YEAR OF THE DANCE
KKN DI DESA PENARI
TALAK! TALAK! TALAK!
TEEN SPIRIT