Loading your location

Review Mangkujiwo: Film Horor dengan Sinematografi dan Tata Artistik Menawan

By Ekowi30 Januari 2020

Patokan kualitas dalam trend genre horor yang kini kembali naik daun di industri perfilman Indonesia tak sepenuhnya jelas. Kebanyakan muncul dengan judul satu kata yang memang mengacu ke persepsi-persepsi genrenya secara langsung. Sutradara-kah? Star factor-kah? Atau kredibilitas PH-kah? Namun satu yang pasti, film-film dalam trend ini, yang memang menjamur sejak kesuksesan Pengabdi Setan karya Joko Anwar yang harus diakui belum banyak yang bisa menandingi hingga saat ini, rata-rata laku di pasaran. Dengan anggaran yang juga rata-rata berada jauh di bawah usaha-usaha serius genre lain, jumlah raihan penonton film-film horor ini, terlepas jelek atau baik, mayoritas berada dalam batas aman. Alhasil, kecenderungannya belum akan berakhir.

Nah, jika sobat nonton ingin mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scares berisik melainkan mengandung kisah menarik untuk dituturkan, maka Mangkujiwo menawarkan alternatif tersebut. Film yang disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis ini akan diingat selaku film yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah badai horor yang minim variasi, baik perihal gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski masih menyimpan beberapa kelemahan namun Mangkujiwo tetaplah bisa menuntaskan dahaga kita akan “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.

Setelah disingkirkan oleh Cokrokusumo (Roy Marten) dengan berbagai macam fitnah di hadapan Sinuhun Raja, Brotoseno (Sujiwo Tejo) berniat membalas dendam melalui bayi yang dikandung oleh Kanthi (Asmara Abigail). Kanthi adalah gadis desa yang dihamili Cokrokusumo, dan kemudian dipasung karena difitnah sebagai perempuan yang mengandung anak setan. Kanthi menjadi alat bagi dua petinggi yang berseteru tersebut. Ketika menyadarinya, ia hanya bisa membayangkan bahwa cara untuk mencegah itu semua adalah dengan cara bunuh diri.

Selama dipasung, Kanthi diam-diam dibantu oleh Sadi (Septian Dwi Cahyo), pelayan Brotoseno yang tidak tahan dengan perbuatan dan rencana tuannya. Kanthi berhasil bunuh diri, tapi bayi itu sempat diselamatkan Brotoseno dengan cara membelah perut perempuan malang itu, dan kemudian diberi nama Uma (Yasamin Jasem). Roh Kanthi kemudian diserap ke dalam sebuah cermin kembar yang selama ini menjadi saksi bisu kesengsaraannya di bawah kekuasaan Brotoseno. Dua puluh satu tahun kemudian, tibalah saat bagi Brotoseno untuk memetik buah dari rencananya, dengan cara yang ia juga belum mengerti.

Mangkujiwo memang muncul dengan presentasi yang kuat bersama sinematografi Roy Lolang berikut tata artistik Timothy Setyanto. Keduanya merupakan nama yang sangat diperhitungkan di perfilman kita, yang terasa sangat eksploratif menelusuri celah-celah ruang dalam genre-nya, pun di banyak sekuens di film ini yang membuat sobat nonton akan terkesan dengan beberapa template simbolik yang menandakan perpindahan karakternya dari “kegelapan” menuju “terang”. Ada pula beberapa money shots yang paling tidak, ingin menunjukkan kelas film ini ada di mana.

Dan ini sudah hadir sejak menit-menit pertama, khususnya di sepertiga awal film yang muncul sangat kuat menggenggam perhatian kita sebagai pemirsanya. Dalam genre horor, step-step awal memulai gelaran teror ini merupakan pondasi yang penting, dan seperti lagu yang tak berlama-lama berputar di nada-nada serupa pada verse-nya, penyutradaraan Azhar Kinoi Lubis jelas naik kelas dari film-filmnya sebelumnya yang sudah hadir lebih dari sekadar baik.

Kekuatan atmosfer ini juga membuatnya tak perlu terlalu bergantung pada jump scares, meski elemen-elemen pendamping seperti tata suara dari Mohamad Ikhsan dan scoring tipikal horor dari Stevesmith Music Production masih belum sepenuhnya rapi dan konsisten di beberapa bagian. Namun, secara keseluruhan, look-nya sudah jauh melebihi film-film sejenis di genre-nya akhir-akhir ini.

Dinamika kengerian film ini meningkat sejak sosok Sujiwo Tejo masuk ke layar, menampilkan gaya creepy nan eksentrik miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekadar peristiwa poltergeist yang membutuhkan kualitas keaktoran di atas rata-rata dari seorang Sujiwo Tejo, sehingga Kinoi selaku sutradara memperoleh amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan Sujiwo Tejo bersama Asmara Abigail tersaji mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya akan turut memasuki babak penelusuran misteri, berkutat pada pertanyaan “Apakah Mangkujiwo itu?”, dan saat itu juga, pengenalan misterinya pun menjadi semakin menarik.

Namun untuk beberapa penonton, mungkin saja Mangkujiwo bisa saja dianggap lalai dalam “melibatkan” pemirsanya karena banyaknya unsur lokalitas, dalam hal ini tradisi Jawa, sehingga hal tersebut membuat film ini akan terkesan berjarak bagi sebagian penonton. Namun kekurangan tersebut bisa sangat tertutupi oleh departemen cast yang walau tak terlalu kuat oleh embel-embel star factor, tapi tampil dengan presentasi akting yang sangat baik. Asmara Abigail menempati salah satu kredit terkuat sebagai fokusnya. Memerankan Kanthi dengan segala perubahan mood hingga mulai sedikit demi sedikit meledak di bagian klimaks yang memerlukan konsistensi lebih dari seorang aktris demi perannya. Asmara jelas berhasil membawa Mangkujiwo ke strata atas di genre-nya.

Yasamin Jasem juga tampil sebagai second lead yang kuat tak hanya dari sisi fisik, namun juga dari segi akting. Dan tentu saja Sujiwo Tejo sebagai Brotoseno yang mengisi banyak adegan highlight-nya di film ini. Semua kekuatan tersebut agaknya mampu menyelamatkan Mangkujiwo dari sejumlah kekurangan yang ada di tengah horor atmosferik yang secara keseluruhan tertata cukup rapi terutama dalam bangunan rasa terhadap genre-nya. Meski belum selevel Pengabdi Setan, namun Mangkujiwo bisa tetap tampil dengan titik-titik kelebihan dalam presentasi dan ansambel akting sebaik ini. Mangkujiwo jelas bukan horor sembarangan dengan niat hanya sekadar aji mumpung meramaikan trend-nya. Mangkujiwo is an above average entry in the trend of Indonesian one-word-title horror.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

ONWARD
THE CLOSET
PATIENTS OF A SAINT
SONIC THE HEDGEHOG

COMING SOON

JODOHKU YANG MANA? (MOLULO 2)
KKN DI DESA PENARI
EXTREME JOB
KILLERMAN