Loading your location

Review Mariposa: Ketika Dua Pribadi yang Bertolak Belakang Saling Jatuh Hati

By Ekowi18 Maret 2020

Mariposa jelas bukan persembahan terbaik dari seorang Fajar Bustomi, salah satu kreator Trilogi Dilan, tapi film ini membuktikan bahwa sang sutradara telah memantapkan dirinya sebagai sineas spesialis roman remaja. Bahkan dalam karya terbarunya yang dipenuhi keklisean dramatisasi khas adaptasi cerita Wattpad remaja ini, gaya tersebut tetap Fajar Bustomi pertahankan dan berujung mampu mengangkat kualitas Mariposa, walau akhirnya tidak banyak yang dapat dilakukan, sebab ia mendapat materi sumber yang terlanjur sukar untuk diperbaiki.

Film Mariposa menceritakan kisah perjalanan cinta antara Iqbal (Angga Yunanda) dan Acha (Adhisty Zara) yang menggemaskan. Mereka berdua sebenarnya mempunyai perangai yang benar-benar berbeda dan seperti agak mustahil untuk disatukan. Iqbal sendiri mempunyai karakter yang pendiam, pintar, dan cuek. Ia tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Sementara itu, Acha punya sifat yang berkebalikan. Acha adalah gadis muda yang enerjik, ambisius, dan selalu ceria serta membawa energi positif untuk orang-orang di sekitarnya.

Karena Iqbal benar-benar pendiam dan begitu susah untuk didekati, Acha lantas penasaran dengan Iqbal. Ia berusaha untuk mengorek informasi mendalam tentang Iqbal supaya ia bisa tahu apa saja yang dapat ia ketahui tentang Iqbal. Saking penasarannya, Acha lama-lama menaruh hati kepada Iqbal. Bahkan, ia malah yang mengutarakan rasa cintanya terlebih dahulu kepada Iqbal. Sayangnya, Iqbal tetap saja cuek dan tidak mengacuhkan Acha. Tetapi, karena Acha pantang menyerah, Acha selalu melakukan cara untuk mendapatkan hati Iqbal.

Tidak perlu menonton ribuan film atau membaca setumpuk novel remaja untuk tahu, walau awalnya selalu bertengkar, Iqbal dan Acha nantinya akan saling cinta. Masalahnya adalah, mereka berdua memiliki kepribadian yang sungguh bertolak belakang. Dan bukan cerita Wattpad populer namanya kalau tidak ada turn-over berupa keterkaitan- keterkaitan yang didasari kebetulan-kebetulan menggelikan. Ditambah jajaran pemain berparas cantik dan tampan. Bagi sebagian besar target pasarnya, Mariposa jelas punya amunisi lengkap untuk membuat mereka berteriak histeris bahkan menangis tersedu-sedu.

Penonton di luar golongan tersebut mungkin juga bakal menangis. Menangis meratapi mengapa remaja zaman sekarang mampu menggilai kisah semacam ini, yang seolah tidak lengkap jika ceritanya belum berlarut-larut guna memfasilitasi semua jenis ke-unyu-an dan ke-uwu-an, yang memancing respon “Ya ampun sweet banget!” atau “Ya Tuhan, bisa-bisanya ya....”.

“Terlalu berlebihan” mungkin adalah kata yang terlontar dari beberapa penonton dalam menggambarkan alur cerita Mariposa. Sangat berlebihan. Niat baik menyampaikan pesan tentang “harga diri wanita” pada akhirnya tenggelam dan berhenti sebagai kalimat-kalimat kosong yang keluar dari mulut karakternya saja. Tapi selaku penulis naskah, Alim Sudio memang tidak bisa berbuat banyak. Tuntutan setia terhadap materi adaptasi ini demi memuaskan penggemar tak bisa dikesampingkan, meski beberapa kelemahan semestinya bisa diperbaiki.

Mariposa memang problematik, hingga masuk fase pertengahan tatkala naskahnya mulai menaburkan bumbu komedi. Selain efektif memancing tawa, komedinya membuat rentetan kekurangan di atas bisa diterima, karena kesan karikatur untuk sebuah karakter lebih tepat mengisi suguhan komedik daripada dramatik. Pun berkatnya, Ersa Mayori yang berperan sebagai Ibunda Acha, berkesempatan unjuk gigi mencuri perhatian di tiap adegan yang melibatkannya. Kemudian hadirlah Juna (Syakir Daulay), yang memancing kita berprasangka buruk kalau Mariposa bakal melangkah menuju konflik standar cinta segitiga. Untungnya pendapat tersebut sedikit keliru.

Kebersamaan Iqbal-Acha-Juna justru memunculkan titik non-komedik terbaik filmnya, sewaktu Acha menampilkan sebuah bentuk kebahagiaan sederhana: diperhatikan oleh orang tersayangnya. Keputusan sutradara Fajar Bustomi yang menekankan pada kehangatan suasana terbukti tepat. Sambil ditemani musik gubahan Andhika Triyadi, kita seolah diajak mengunjungi dunia dongeng walau sekilas. Bermodalkan karismanya, Angga Yunanda berhasil meyakinkan kita semua sebagai seorang remaja yang menyikapi dengan tenang segala tingkah polah nyeleneh Acha, seolah segalanya bagian dari rutinitas yang selalu Iqbal hadapi.

Tidak hanya Angga, Adhisty Zara juga semakin membuktikan bahwa dia sanggup menunjukkan atraksi akting yang kejut nyata tatkala memperoleh peran beserta pengarahan yang tepat. Merupakan kejutan terbesar dari Mariposa, Zara adalah rekanan akting yang sesuai bagi Angga. Chemistry yang dibina mereka jauh lebih meyakinkan ketimbang saat Angga beradu akting dengan lawan-lawan mainnya yang terdahulu.

Akan tetapi seolah Fajar Bustomi telah paham, apabila digarap sebagaimana romansa putih abu-abu kebanyakan, Mariposa bakal minim dinamika. Terbukti, begitu menyentuh paruh akhir tatkala unsur komedinya mulai dikesampingkan, tensi filmnya pun dibuat meninggi. Rentetan konflik dramatik dengan urgensi yang sesungguhnya tinggi namun terkesan dipaksakan pun mulai hadir, guna menyulut pertikaian karakter-karakter utamanya. Momen penutupnya berpotensi menghadirkan romantika yang amat manis, andai saja kita diajak lebih banyak menghabiskan waktu berkualitas bersama dua protagonisnya.

Namun di atas segalanya, penyutradaraan Fajar Bustomi masih menunjukkan kehandalannya dalam merangkai momen romantis emosional bermodalkan situasi sederhana dengan cita rasa visual ala “cotton candy”. Dan rasa-rasanya, film ini patut ditonton oleh orangtua bersama anaknya yang masih berusia remaja. Karena memilih antara cinta dengan cita-cita memang menjadi problem besar bagi kebanyakan anak remaja saat ini. Dan kita pastinya akan selalu menaruh respect yang besar bagi para orangtua yang mendukung apapun keputusan anak tersayangnya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

SURGA PUN IKUT MENANGIS
TENRIPADA
GHOST HOUSE

COMING SOON

BLOODSHOT
VANGUARD
TEEN SPIRIT
KAMEN RIDER REIWA: THE FIRST GENERATION