Loading your location

Review Mekah I'm Coming: Penuh Sindiran yang Menghibur

By Ekowi11 Maret 2020

Setiap orang tentu memiliki keinginan yang berusaha dipenuhi selama hidupnya. Dalam prosesnya, selalu ada saja yang menghalanginya, termasuk intervensi pihak ketiga yang semakin menyulitkan jalan kita.

Hal di atas adalah sedikit premis dari film Mekah I’m Coming yang merupakan produksi MD Pictures dan Dapur Film Indonesia, dengan Hanung Bramantyo sebagai produser dan Jeihan Angga yang memposisikan diri sebagai sutradara (ini juga sekaligus menjadi debut penyutradaraan feature filmnya). Film ini sekaligus menjadi penampilan terakhir dari mendiang Ria Irawan, salah satu aktris senior Indonesia. 

Mekah I’m Coming sebenarnya sudah tayang di tahun 2019 lalu, tepatnya pada perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival Yogyakarta, yang membuat film ini menjadi salah satu watchlist yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh sobat nonton.

Diceritakan di sini, ada seorang pemuda bernama Eddy Arrosyid (Rizky Nazar), yang memiliki hati baik namun hidup serba pas-pasan, mengandalkan kemampuan servis kendaraan bermotornya sebagai penyambung hidupnya. Walaupun berhati baik, dia dikenal di desanya sebagai pembuat keributan, membuatnya tidak disukai banyak orang. Suatu ketika, dia dihadapkan pada situasi ketika pacarnya yang bernama Eni (Michelle Ziudith) menuntut Eddy untuk segera menikahinya, dikarenakan Eni tidak mau dijodohkan dengan anak orang kaya yang memberikan hutang untuk Haji Soleh (Totos Rasiti), ayah dari Eni. Demi meyakinkan Haji Soleh, Eddy berniat untuk naik haji, walaupun akhirnya Eddy ditipu oleh travel agency haji gadungan. Eddy pun berusaha mencari cara agar orang-orang tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Semenjak trailer film ini muncul ke permukaan, memang terasa menggugah sekali melihat bagaimana drama komedi ini akan terlihat sangat over the top sekaligus terasa sangat dekat, terutama bagi sobat nonton yang memang tinggal di tanah Jawa. Semua itu akhirnya terbayar, bahkan sejak menit awal, di mana kita disuguhkan adegan arak-arakan kampung dari seseorang yang baru saja menunaikan haji, lengkap dengan kerumuman warga, pernak-pernik, serta iringan instrumen yang nyata adanya, namun diplesetkan sedemikian rupa sehingga mengundang gelak tawa.

Basis utama Mekah I’m Coming ini sepertinya berdasarkan kasus biro haji bodong di Indonesia yang telah menipu banyak calon jamaah haji beberapa bulan silam. Film ini memparodikan hal tersebut, dan lebih menyorot sisi korbannya, yang tidak hanya berjumlah satu-dua orang. Bahkan saking banyaknya, mereka ini malah mendirikan teritori, yang semuanya ini merupakan korban biro haji bodong tersebut. Lucu, getir, sekaligus senang juga sebenarnya, mengingat mereka ini dipersatukan karena "common misfortune" dan membentuk suatu komunitas yang justru mendatangkan mereka "fortune". Bahkan diceritakan, pada akhirnya mereka bisa berhaji setelah bersusah-payah mengais rezeki. Dan memang, supaya masalah selesai, perlu adanya keterbukaan untuk memahami satu sama lain demi menghilangkan kesalahpahaman, yang sebenarnya sangat bisa dilakukan asalkan ada niat dan tekad yang kuat dari pihak-pihak yang terkait.

Mekah I’m Coming turut pula menyindir kebiasaan orang Indonesia, termasuk di Jawa, yang sangat mengelu-elukan titel haji, bukan memandangnya sebagai salah satu rukun Islam. Memang, titel haji yang melekat pada seseorang akan mendatangkan kemahsyuran, namun tidak akan sepenuhnya mengubah watak orang tersebut dan meninggalkan berbagai kebiasaan buruknya. Tidak hanya mengenai haji, film ini juga menyindir bagaimana orang-orang di Indonesia mudah sekali melakukan judgement pada sesuatu, tanpa melihat kronologi kejadian sesungguhnya. Bahkan kehadiran internet pun, yang salah satunya digunakan sebagai informasi, di lain sisi juga memiliki andil dalam persebaran informasi yang salah, menghadirkan perpecahan lain dan menguatkan misjudgement yang diarahkan pada seseorang.

Unsur komedi di Mekah I’m Coming ini diposisikan sebagai senjata utama dalam delivery ceritanya. Arak-arakan pada pembuka film sebenarnya telah menegaskan betapa over the top-nya film ini, yang kemudian mengundang gelak tawa yang lebih menggelegar sampai penghujung film. Film ini juga setia pada pop culture dan fenomena di Indonesia dan dunia, seperti salah satu tokoh dengan nama unik, yang merupakan pelesetan dari atlet bulutangkis senior Indonesia, kebiasaan orang Indonesia yang gemar memainkan Harvest Moon dan video game sepakbola (walaupun masanya sudah lewat), hingga ke lagu Didi Kempot yang mendadak naik lagi karena rapuhnya hati millenials di Indonesia yang digunakan dengan tepat sasaran. Bahkan, film ini juga sedikit memberikan scene dengan nuansa horror, menyentil era horror di Indonesia yang sedang naik daun.

Duet Rizky Nazar dan Michelle Ziudith yang kesekian kalinya ini juga merupakan pemanis Mekah I’m Coming, dengan porsi senang dan sedih yang terasa pas dan berimbang, sehingga berhasil memberikan warna pada tokoh mereka sekaligus jiwa pada film ini. Michelle Ziudith, biarpun belum sepenuhnya meyakinkan memerankan gadis Jawa dikarenakan gaya bicara yang sesekali masih terjebak logat yang agak dipaksa, tetap mampu menginjeksi energi agar film ini tak kehabisan daya hingga usai. Berbanding terbalik dengan Rizky Nazar, yang tanpa disangka-sangka mampu menghadirkan logat medok Jawa dengan cukup meyakinkan. Tapi jika ada aspek yang paling mencerminkan unsur pemberdayaan wanita, dia adalah Ria Irawan. Lihatlah tatapannya kala melihat sang anak, yang dipenuhi harga diri seorang wanita dari kalangan bawah yang tak rela kehilangan martabatnya.

Kehadiran karakter komikal yang diperankan oleh Totos Rasiti, Ephy Sekuriti, dan Rasyid Karim juga sesekali mendukung perkembangan karakterisasi para pelakon utama di sini. Sisanya, mereka muncul sebagai comedic purpose. Toh, film ini memang ditujukan untuk membuat kita tertawa, walaupun lebih kepada tertawa getir setelah keluar dari bioskop.

Dan karena hal tersebut, Mekah I’m Coming akan cocok bagi kalian yang memahami getirnya Indonesia sambil menertawakannya di sini, jadi cobalah untuk membuka pikiran seluas-luasnya selagi menonton film ini.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

COMING SOON

JODOHKU YANG MANA? (MOLULO 2)
THE POISON ROSE
AKU TAHU KAPAN KAMU MATI
VANGUARD