Loading your location

Review Milea Suara dari Dilan: Lebih Baik dari Dua Film Sebelumnya?

By Ekowi17 Februari 2020

Tak bosan-bosannya penulis menulis kalimat ini: genre percintaan remaja merupakan genre yang tak pernah mati di perfilman Indonesia. Namun tak bisa dipungkiri, yang benar-benar mencatat pencapaian fenomenal jumlahnya memang tak banyak. Setelah Gita Cinta dari SMA (1979) dan Ada Apa dengan Cinta? (2002), ada Dilan 1990 (2018) yang langsung mencetak rekor box office sepanjang masa kedua di film kita. Sama seperti pendahulu-pendahulunya itu, Dilan 1990 juga menelurkan dua film sekuel yang diadaptasi dari serial novel karya Pidi Baiq, yakni Dilan 1991 yang dirilis pada tahun 2019 dan seri terakhirnya yaitu Milea: Suara dari Dilan yang dirilis menyambut Valentine tahun ini.

Dilan sendiri agaknya sudah populer terlebih dahulu di kalangan para pembacanya. Ini paling tidak sudah membuat adaptasinya datang bersama brand yang sudah dikenal oleh cukup banyak orang untuk mendaki perolehan box office-nya secara masif di tabel pendapatan film Indonesia. Bayangkan, dengan total lebih dari 11 juta penonton, Dilan 1990 dan Dilan 1991 pastinya langsung bertengger di deretan film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Di film ketiganya kali ini, yakni Milea: Suara dari Dilan pun rupanya tetap menonjolkan nilai jual terkuat selain brand novel best seller-nya, yakni pasangan Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla yang menjadi persyaratan utama kesuksesan genre ini. Skrip yang ditulis oleh Titien Wattimena dan Pidi Baiq sendiri kini mengantarkan Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) ke masa pacaran mereka dengan konflik yang masih berputar di masalah keberadaan Dilan sebagai panglima tempur geng motor Bandung yang kali ini bukan saja mengancam pendidikannya, tapi juga hubungannya dengan Milea yang mulai melarang Dilan berhenti dari geng motor.

Hingga terjadilah sebuah peristiwa mengerikan, salah satu anggota geng motor Dilan, Akew (Gusti Rayhan), meninggal akibat dikeroyok oleh sekelompok orang. Peristiwa itu membuat Milea khawatir akan keselamatan Dilan, karena Dilan bersama geng motornya berniat membalas dendam atas hilangnya nyawa Akew. Milea lalu membuat keputusan untuk berpisah dengan Dilan sebagai peringatan agar Dilan menjauh dari geng motor. Perpisahan yang tadinya hanya gertakan Milea menjadi perpisahan yang berlangsung lama sampai mereka lulus kuliah dan dewasa. Dilan dan Milea ternyata masih membawa perasaan yang sama saat mereka kembali bertemu di acara reuni sekolah.

Adalah keputusan tepat memang untuk membangun adaptasi novel ke film layar lebar dengan kekuatan quotes dan romantic lines yang membidik remaja sebagai pangsa terbesarnya. Dibawakan dengan baik di atas chemistry yang terjalin begitu erat di antara Iqbaal dan Vanesha dalam penampilan kesekian kalinya, walau nyaris tak punya konflik solid dalam bangunan plot-nya, tak heran kalau Milea: Suara dari Dilan akan kembali mencatat sukses sebesar dua film pendahulunya.

Seri penutup ini tetap mempertahankan faktor suksesnya dengan peningkatan yang sedikit banyak menegaskan dua film sebelumnya sebagai pengenalan awal. Tak berlama-lama setelah introduksi awal, skrip Titien dan Pidi mulai meletakkan konflik-konflik lebih serius yang melibatkan deretan karakter pendukungnya ke luar dari fokus sempit Dilan dan Milea di film pertama dan keduanya secara cukup baik. Bagi generasi penonton sekarang, scene tahun 90-an bisa jadi memberikan sesuatu yang baru di balik penanganan yang tetap terasa kekinian, sementara bagi penonton di atas usianya, Milea: Suara dari Dilan juga mungkin punya sejumlah faktor nostalgia selain kedekatan regional set-nya dengan elemen-elemen yang mungkin terhubung secara berbeda ke tiap penontonnya.

Dibanding dua film sebelumnya, plot film ini tersusun lebih rapi ketimbang hanya seolah sketsa percintaan remaja berkonflik sangat tipis tadi. Benar bahwa ia jadi sedikit terasa terlalu repetitif dengan turun naik, manis pahit hubungan Dilan dan Milea di tengah banyaknya karakter sampingan yang bergantian muncul tanpa seluruhnya tereksplorasi, sementara tetap ada selipan-selipan adegan di film terdahulu yang kembali dimunculkan di sini. Namun ikatan interaksi Iqbaal dan Vanesha yang sama kuatnya seperti dua film sebelumnya memang sulit untuk ditampik. Berdua, mereka benar-benar bisa menguasai layar, menunjukkan koneksi kuat yang membuat karakter-karakter dan langkah-langkah pengisahannya layak untuk diikuti, dengan tampilan romansa serba halus dan faktor charm yang tepat pula tanpa harus tergelincir ke resiko rating lebih dewasa bahkan di saat konfliknya bergerak ke arah-arah lebih sensitif.

Pujian khusus layak disematkan untuk Vanesha Prescilla, karena semua sparks dari karakter Milea kembali berhasil dimunculkan oleh Vanesha dengan persona yang tepat, irresistibly cute dalam karakternya sebagai female lead. Sementara Iqbaal, meski sedari awal jelas merupakan sosok yang tepat untuk memerankan Dilan secara fisik, terkadang masih seperti memerankan karakter dengan dua kepribadian sangat berbeda tanpa detil-detil peralihan gestur serta ekspresi yang pas. Tapi paling tidak, Iqbaal bisa benar-benar masuk mengidentikkan Dilan ke sosoknya, juga membentuk chemistry memikat dengan Vanesha.

Dukungan sebagian aktor-aktor mudanya, di antaranya Roy Sungkono, Jerome Kurnia, Zulfa Maharani, Yoriko Angeline sementara beberapa pemeran yang kembali seperti Refal Hady, Giulio Parengkuan, Omara Esteghlal dan Zara JKT 48 cukup mewarnai ansambelnya dengan baik bersama aktor-aktor senior seperti Ira Wibowo, Bucek, Happy Salma, dan Farhan. Keputusan Fajar Bustomi selaku sutradara film ini dalam memasang Andovi da Lopez menjadi salah seorang karakter yang cukup penting mungkin terasa sedikit aneh, tapi toh tak sampai mengganggu alurnya secara keseluruhan.

Selebihnya, tetaplah atmosfer 90-an yang mendasari fondasi penceritaannya dengan proporsional tanpa menggerus rasa kekinian bagi generasi penonton sekarang. Selain score Andhika Triyadi dan lagu-lagu soundtrack-nya, ada teknis cukup baik di departemen artistik yang dikomandoi Angela Halim, sementara tata kamera Dimas Imam Subhono dan penyuntingan gambar dari Ryan Purwoko tetap menghadirkan ambience romansa kuat di antara kekuatan barisan dialog sebagai signature khas adaptasinya. Tak ketinggalan apresiasi untuk tata kostum rancangan Aldie Harra dan tata rias dari Tomo Sastra; di mana mereka terlihat punya usaha yang bagus untuk menyemat “printilan” sesuai zamannya, seperti baju-baju oversized ala 90-an, hingga model tatanan rambut di masa itu.

Di balik kekurangan-kekurangan yang ada, meski Milea: Suara dari Dilan secara filmis nyaris tak punya plot dan konflik yang seolah hanya membawa kita seperti membaca sebuah curhatan panjang selama hampir dua jam, faktor- faktor terdepan jualannya; dari romantic sparks ke wonderful chemistry yang memang tak bisa dicapai semua produk sejenis di genre-nya, membuatnya sulit untuk ditolak. Kadang harus diakui pula bahwa tak peduli ia sangat didukung oleh promosi yang tak pernah main-main dari pihak Max Pictures, genre yang sudah membawa Romi dan Yuli, Galih dan Ratna, Rangga dan Cinta, Adit serta Tita dan sekarang Dilan dan Milea menjadi icon pasangan layar lebar film Indonesia ini memang sungguh sangat dipengaruhi satu hal krusial bernama momentum.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

TENRIPADA
SURGA PUN IKUT MENANGIS
GHOST HOUSE

COMING SOON

ROH MATI PAKSA
MEKAH I'M COMING
HAPPY OLD YEAR
HEREDITARY