Loading your location

Review Nikah Yuk! : Tontonan yang Cocok Kala Kepenatan Hidup Menghampiri

By Ekowi13 Februari 2020

Tak peduli sudah berulang kali menggunakan elemen-elemen genre-cliche yang sama, subgenre rom-com tentang love and marriage memang tetap punya daya tarik tersendiri bagi pemirsanya. Dan bukan hanya sinema luar yang punya. Paling tidak, dalam dekade belakangan, kita juga punya franchise Get Married sebagai kandidat terkuatnya, dan film-film senada dari rumah produksi Starvision. Nikah Yuk! yang memiliki judul menarik ini sebenarnya punya kans untuk mengungguli mereka. Walaupun dari sisi eksistensinya sebagai sebuah ensemble rom-com dalam ranah itu, juga bukan lagi suatu yang baru. Apalagi faktor “pretty faces” masih jadi persyaratan penting untuk jualan di film-film kita.

Tak ada yang aneh dalam jumlah couple characters yang dihadirkan, secara produk-produk Bollywood sudah lebih dahulu memulainya dari dua, tiga hingga tujuh bahkan lebih, apakah sebagai omnibus, interwoven ataupun satu plot utuh yang mengemas semuanya dalam satu kesatuan. Pasalnya cuma satu, sebagai sutradara, Adhe Dharmastriya belum bisa dianggap cukup mumpuni dalam hal portofolio di genre ini. Pertanyaannya sekarang, seberapa kuat Nikah Yuk! dengan skrip dari Andri Cahyadi, seorang penulis debutan dalam menjawab kepercayaan penonton?

Arya (Marcell Darwin), seorang fotografer, dipaksa menikah muda oleh kedua orangtuanya. Arya menolak, karena masih ingin mengejar karir dan mempertahankan hubungan dengan pacar pilihannya, Neyna (Aliyah Faizah). Akhirnya kedua orangtuanya membuat strategi untuk menjodohkannya. Namun, suatu hari Arya tidak sengaja bertemu dengan Lia (Yuki Kato), seorang komikus muda. Pertemuannya dengan Lia membawa Arya ke dalam kebimbangan: jatuh hati dan patah hati secara bersamaan.

Sebagai salah satu persayaratan terpenting dalam ensemble rom-com, tak ada yang salah dengan chemistry tiap karakternya. Mereka memang terlihat seakan tengah bersenang-senang, semua cast dari cast utama hingga supporting yang diisi antara lain oleh Roy Marten dan Ivanka Suwandi, serta barisan pendukung yang menampilkan Dwi Akraniza Aprilia, Jessica Veranda, Agung Sadana, Ananta Rispo, dan Fico Fachriza mampu membentuk jalinan chemistry yang bagus di tengah batasan beda karakterisasi masing-masing dari skrip besutan Andri Cahyadi ini.

Namun sayangnya, skrip film ini tak serapi itu dalam membangun konflik-konflik masing-masing karakternya. Nanti dulu soal konflik-konflik keluarga, atau elemen klise sangat jadul film kita tentang masalah perjodohan yang sebenarnya tak sampai merusak keseluruhan penceritaannya. Tak ada juga yang salah dengan banyaknya pengulangan adegan yang sudah kita lihat di banyak film dengan genre serupa, termasuk instalmen-instalmen Get Married terutama di adegan malam pertama yang cukup komikal namun masih cukup asyik untuk dinikmati.

Masalahnya, sebagian konflik tadi tak mampu membentuk blend yang baik di antara elemen komedi dan dramatisasinya. Tertinggal jauh oleh kelucuan-kelucuan yang dihadirkan, yang memang bisa membuat penontonnya tertawa lepas, dramatisasinya kerap kali jadi terasa dipaksakan, dan semakin diperparah dengan scoring Ganden Bramanto yang kedengaran sangat mendayu-dayu ala sinetron yang diniatkan untuk menekankan dramatisasi tersebut. Belum lagi dengan pilihan penceritaan dengan konflik masing-masing karakter yang membuatnya seolah jadi segmen-segmen berbeda ketimbang merajutnya jalan bersamaan. Terlalu fokus ke satu pasangan hingga berlarut-larut, lantas dimulai lagi dari awal di karakter lain dan terus seperti itu tanpa penghujung yang jelas, berkali-kali kelihatan akan selesai namun tidak, hingga durasi filmnya seolah terasa bertele-tele dan sangat melebar.

The thing is, unsur komedi di dalam genre rom-com memang bisa menghapus banyak batasan realita dan logika. But unless you’re making a parody, komedi-komedi yang dibangun dengan plot dan dramatisasi, tetap perlu itu, bukan dalam kebutuhan slapstick, tetapi sebagai penguat karakter utamanya. Yang wajar dan logis, bukan lantas seenaknya mengubah manusia menjadi makhluk tanpa otak, apalagi bila yang dibicarakan adalah perihal keluarga. Dalam pangsa pasar yang nyata, you’ll still need to build empathy untuk karakter-karakter utama yang harusnya bisa dicintai dan disukai penonton, apalagi dalam sebuah ranah rom-com. Membangun kekacauan dibalik kesalahpahaman juga tak bisa sekadar sembarangan. Or else, semua kelucuan yang coba untuk dihadirkan akan berbalik jadi garing. Di sini, Nikah Yuk! setidaknya masih memiliki semua hal itu sebagai penyelamat filmnya.

So, dibalik segala kekurangannya, Nikah Yuk! sebenarnya punya potensi yang sangat besar untuk menjadi sebuah ensemble rom-com yang sepenuhnya bagus. Karena Nikah Yuk! masih punya banyak sekali momen-momen hilarious terbaiknya, terutama dari sempalan komedi lucu dari jajaran komikanya dan chemistry bagus dari para ensemble cast-nya. Dan pada akhirnya, Nikah Yuk! tetaplah sebuah tipe tontonan eskapisme yang menjadi idaman banyak orang saat mencari penyegaran kala kepenatan hidup menghampiri. Menyenangkan dan menghibur bisa jadi adalah dua kata paling tepat untuk mendeskripsikan film ini.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

DOLITTLE
KAJENG KLIWON
TITUS - MYSTERY OF THE ENYGMA
MANGKUJIWO

COMING SOON

STEP UP YEAR OF THE DANCE
SONIC THE HEDGEHOG
TARUNG SARUNG
EXTREME JOB