Loading your location

Review Pemburu di Manchester Biru: Kisah Unik Pria Mengejar Mimpi di Inggris

By Ekowi13 Februari 2020

Hingga tulisan ini selesai, sosok Rako Prijanto belum pernah membuat penulis mendengus kesal dipenuhi perasaan kecewa setelah menyaksikan film-film garapannya. Sempat dimulai dengan amat meyakinkan lewat film Ungu Violet dan Merah Itu Cinta, lalu tergelincir menggarap genre komedi yang tidak memuaskan secara kualitas seperti Krazy, Crazy Krezy dan Maling Kutang, Rako kembali menunjukkan tajinya dengan sejumlah karya yang sederhana tapi membekas yang masing-masing dikerjakannya dengan cermat. Suka tidak suka, Rako telah menempatkan dirinya sebagai salah satu sutradara potensial di perfilman Indonesia saat ini. Film terbarunya, Pemburu di Manchester Biru, yang diangkat dari sebuah buku laris berjudul sama hasil olahan Hanif Thamrin, berhasil membuktikan pernyataan tadi.

Pemburu di Manchester Biru adalah film yang bercerita tentang perjuangan pria bernama Hanif Thamrin yang melanjutkan studi S2 di London, Inggris. Pria yang lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat ini berjuang dengan keras untuk bertahan hidup di negara maju tersebut. Tepatnya di tahun 2016, Hanif Thamrin (Adipati Dolken) meninggalkan kampung kelahirannya di Payakumbuh, Padang, untuk mengadu nasib di kota impiannya, London. Berbagai pekerjaan terpaksa ia lakukan di sana, seperti menjadi tukang cuci mobil, kuli angkut, door to door sales, pelayan restoran, dan kasir. Puluhan surat lamaran kerja ia kirimkan dan puluhan surat kembali dengan berita penolakan.

Hingga akhirnya, Hanif berhasil mendapat kesempatan untuk magang di kantor berita BBC. Kesempatan ini rupanya membuka pintu gerbang kesempatan yang lainnya. Saat Hanif mulai mantap di BBC, datanglah kesempatan menjadi jurnalis di Manchester City Football Club. Dengan berat hati, Hanif pun meninggalkan London dan pindah ke kota Manchester. Melalui berbagai tantangan dan cobaan, Hanif akhirnya berhasil menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di salah satu klub English Premiere League. Tentu menjadi tantangan besar untuk Hanif karena tuntutan klub sepakbola yang mempekerjakannya tersebut tidaklah kecil.

Masa-masa awal Hanif bekerja di Manchester City FC tidaklah mudah. Tak ada yang mengajak ia ngobrol, pun tak ada yang mau duduk bersamanya saat makan siang tiba. Meliput Manuel Pellegrini dalam konferensi pers, melaporkan laga kelas dunia di Etihad Stadium yang megah, mewawancarai Les Chapman, dan membuat video dengan Kelechi Iheanacho untuk fans Indonesia adalah beberapa pekerjaannya. Lalu apa yang pada akhirnya membuat Hanif diterima di lingkungan kerjanya dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di klub sepakbola Manchester City?

Dari situ bisa dilihat bahwa al terbaik dalam Pemburu di Manchester Biru justru adalah sebuah storytelling yang terasa real dan sangat jujur diceritakan Hanif sebagai tokoh sentralnya. Tak seperti kebanyakan pakem film kita, kisah sejati ini tak pernah hadir dengan dramatisasi berlebih, narsis terhadap karakternya dan unsur-unsur permisif lain yang menjadikannya sebagai sosok pahlawan moralis, namun secara seimbang bicara tentang kelebihan dan kekurangan di tengah masing-masing karakter di sekelilingnya dalam usaha mewujudkan mimpi itu.

Tanpa berusaha menekankan banyak pembenaran-pembenaran semu, skrip yang ditulis Hanif bersama Titien Wattimena ini juga dengan cerdas menangkap esensinya lebih dari kisah sukses biasa, tapi penuh nilai berharga tentang hubungan-hubungan dengan orang di sekitar. Might be softly and slowly told, tak bombastis seperti banyak film bergenre sejenis, tapi semua bagian yang tertuang dalam skrip berikut dialog-dialognya punya interkoneksi sangat konsisten dan mengalir cukup lancar bahkan seringkali menyentuh dalam back and forth storytelling-nya. Beberapa juga terasa filosofis tapi tak lantas jadi terdengar mengkuliahi. Bahwa dalam pendekatan sangat manusiawi, semua bisa benar atau salah, tapi ada koneksi-koneksi yang tak pernah bisa diingkari, berikut sedikit garis bawah bahwa nilai edukasi itu sangat penting artinya.

Pemburu di Manchester Biru mungkin akan menjadi sebuah film yang sangat personal bagi banyak orang. Karena film ini bukan hanya tentang “someone’s story”, melainkan ini adalah “everybody’s story”. Tidak hanya terenyuh dan terasa pedih, tetapi sesekali juga tertampar. Namun, film Pemburu di Manchester Biru tampaknya tak ingin terjebak pada adegan yang menguras airmata sehingga meski film ini punya potensi untuk itu, para pembuatnya lebih memilih untuk menghadirkan adegan-adegan yang diharapkan dapat memberi motivasi kepada para penontonnya. Tentu saja ada situasi yang mengharuskan karakter-karakternya berurai air mata, meski tidak berlebihan. Tampaknya film lebih memilih ketegaran ketimbang kesedihan.

So, silahkan menikmati genre-genre gorefests, blockbusters, atau arthouses sekalipun. Tapi jangan pernah menutup mata terhadap film-film simpel yang selalu mengingatkan kita tentang keberanian untuk meraih mimpi seperti halnya film ini. Bahwa dibalik tampilannya yang sederhana, kita bisa menemukan banyak kesempurnaan teknis yang ikut membangunnya menjadi sebuah karya yang luar biasa baik. Inspiring movies mungkin banyak, but ones that made you want to go straight home, holding your parents, your loved ones and cherish them as well, itu sedikit. Only movies that made by heart and with love, yang bisa menyajikan kehangatan itu, dan Pemburu di Manchester Biru adalah salah satunya. Film yang memang mengajarkan kita untuk berusaha mengejar mimpi, but the greatest dream, kadang ada bersama orang-orang terdekat kita.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

MILEA: SUARA DARI DILAN
KUCUMBU TUBUH INDAHKU
1917
PEMBURU DI MANCHESTER BIRU

COMING SOON

ROH MATI PAKSA
THE CALL OF THE WILD
THE POISON ROSE
TARUNG SARUNG