Loading your location

Review Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2: Suguhan Horor dengan Teror dan Akting yang Kuat

By Ekowi29 Februari 2020

Kenapa kualitas horor lokal tak berbanding lurus seiring dengan peningkatan kuantitasnya belakangan ini? Kemungkinan besar karena mayoritas pembuatnya, meski sering menonton horor (who doesn’t?), tidak menaruh rasa cinta terhadapnya, sehingga kurang memahami seluk beluknya akibat miskin referensi. Sebab horor sendiri beraneka ragam cabangnya. Dari trashy sampai artsy, dari slasher sampai supranatural.

Selain Joko Anwar yang sudah kita saksikan pembuktiannya lewat Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam, ada Timo Tjahjanto yang sebelumnya pernah mempersembahkan Rumah Dara (sebagai Mo Brothers bersama Kimo Stamboel) juga Safe Haven (berduet dengan Gareth Evans) selaku segmen dalam antologi V/H/S/2 di tahun 2013 silam.

Harapan publik kepada karya terbaru Timo, Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 ini luar biasa besar. Apalagi setelah menanti hampir dua tahun sejak film pertamanya yang telah disaksikan lebih dari sejuta penonton dirilis. Sebelum Iblis Menjemput sendiri dibuat atas dasar kekaguman Timo atas Sam Raimi, khususnya trilogi Evil Dead. Teror datang dari entitas jahat yang merasuki manusia, mengubah mereka menjadi makhluk buas seperti Deadite, lengkap dengan riasan serupa (plus sedikit pengaruh dari Pazuzu-nya The Exorcist), yang pada salah satu serangannya, melompat dalam balutan POV shot sebagaimana gemar dipakai oleh Sam Raimi.

Film Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 menceritakan Alfie (Chelsea Islan) dan Nara (Hadijah Shahab), yang selamat dari teror iblis saat mengunjungi rumah peninggalan sang ayah. Mereka mencoba hidup tenang walaupun Alfie sering mendapatkan mimpi buruk dan firasat yang tidak mengenakkan. Suatu hari mereka diculik oleh sekelompok orang tidak dikenal dan dibawa ke sebuah rumah kosong. Mereka ternyata adalah Jenar (Shareefa Danish), Budi (Baskara Mahendra), Gadis (Widika Sidmore), Leo (Arya Vasco), Kristin (Lutesha), dan Martha (Karina Salim). Rumah kosong tersebut merupakan bekas panti asuhan saat mereka kecil.

Orang-orang tersebut meminta tolong kepada Alfie untuk melawan iblis yang menganggu mereka. Iblis itu ternyata adalah ayah asuh mereka yang memuja iblis di panti asuhan. Dengan berbekal buku mantra yang ditemukan Martha, Alfie mau tidak mau harus membaca mantra tersebut untuk memutuskan kutukan iblis yang terus-menerus mengintai mereka. Mimpi terburuk Alfie nyatanya baru dimulai dan bahaya yang menunggu semakin mengancam. Kemunculan sosok kegelapan yang lebih mengerikan dan haus akan jiwa bangkit menjemput nyawa mereka.

Sedari prolog, Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 telah tancap gas. Tidak ada waktu bagi sobat nonton untuk menyiapkan mental (jika sobat nonton membutuhkannya, lakukan sebelum logo LSF muncul) dan film juga tidak menghabiskan banyak waktu untuk berbasa-basi. Usai sentakan di menit-menit awal, film lantas mempertemukan kita dengan karakter-karakter inti yang telah disebutkan di atas tadi. Kesempatan untuk menghembuskan nafas lega pun seketika lenyap. Teror yang digebernya terus mengalami eskalasi dari sisi ketegangan dan kegilaan di setiap menitnya. Apa yang sobat nonton anggap menyeramkan di separuh awal, bisa jadi belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan dijumpai di paruh selanjutnya.

Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 boleh saja tidak menawarkan kelokan berarti pada narasinya, tapi film ini senantiasa memberi kejutan dalam hal performa jajaran pemain dan teror. Jika di film pertama sobat nonton telah disuguhkan akting Karina Suwandi yang sungguh ngeri-ngeri sedap, maka di film kedua ini bersiaplah untuk menyaksikan penampilan Lutesha dan Widika Sidmore yang tak kalah cemerlangnya. Ini adalah permainan lakon langka yang mungkin tidak akan lagi sobat nonton jumpai di film selanjutnya. Mereka memang pernah mengatakan peran di sini memintanya untuk keluar dari zona nyaman. Tapi penulis tak pernah menyangka, mereka rela dibuat babak belur sedemikian rupa hingga mampu menghilangkan kesan cantik nan anggun.

Kejutan dari sisi akting ini turut berimbas pula ke permainan terornya yang terjaga konsisten dari awal hingga menjelang akhir. Memang sih, rentetan adegan klasik khas film horor masih jamak kita jumpai di sini. Bahkan, Timo juga bermain-main dengan jump scares klise untuk membuat penonton terlonjak dari kursi. Namun, yang kemudian menghindarkannya dari kesan murahan serta menjengkelkan adalah pengemasannya yang berkelas. Si pembuat film tidak mengeluarkannya secara tiba-tiba bermodalkan formula “asal kaget”, melainkan ada proses menuju ke sana yang sebetulnya sudah bisa kita antisipasi apabila menaruh atensi pada narasi.

Menariknya, sekalipun telah menerka kapan trik tersebut akan dimunculkan, kita masih tak sanggup untuk mengontrol tawa – sebagai bentuk penyaluran rasa gugup atau takut – maupun pekikan kekagetan. Keterampilan Timo dalam mengatur waktu kemunculan, kemampuannya memoles kembali trik-trik usang sehingga membuatnya terlihat segar, serta sokongan elemen teknis menjadi kunci keberhasilannya di sini.

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan seputar film ini tentu terkait kadar gore. Sebab berkat itulah karya-karya Timo banyak digandrungi para pecinta horor. Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 boleh tidak seeksplisit film pertamanya, pun tak menumpahkan darah sebanyak itu, namun cukup untuk membuat sobat nonton meringis ngeri sambil menutup mata. Beberapa elemen gore juga berfungsi melengkapi jump scares yang Timo kemas agar tidak asal mengageti, pula berdampak. Saat iblis menyeret tubuh karakternya, kita melihat kuku-kuku si karakter terlepas, berdarah, sebagai akibat usaha melarikan diri. Iblis muncul bukan cuma untuk “setor muka”, melainkan ada usaha nyata mendatangkan maut bagi korbannya.

Kalau boleh menyebut kelemahan dari Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, tentunya terletak di third act yang gagal menandingi dinamika parade teror sebelumnya. Timo seperti menolak menginjak pedal gas lebih kencang, menjadikannya terkesan diulur. Lagipula, durasi 110 menit bagi horor berskala kecil macam ini memang agak terlalu lama, ketika 90-an menit saja rasanya sudah cukup. Bukan berarti klimaksnya buruk, namun adegan-adegan yang muncul sebelumnya lah yang levelnya sukar dikejar. But overall, Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 tetap menaruh standar tinggi bagi film horor Indonesia. Dan semoga tidak perlu menunggu hingga beberapa tahun lagi sampai judul memikat berikutnya menjemput kita semua.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

TENRIPADA
GHOST HOUSE
SURGA PUN IKUT MENANGIS

COMING SOON

TRAUMA CENTER
MR. ZOO
SEBELUM IBLIS MENJEMPUT
VANGUARD