Loading your location

Review Surat dari Kematian: Menantang Maut Demi Konten Youtube

By Ekowi15 Januari 2020

Kata “klise” bisa didefinisikan dengan sempurna oleh Surat dari Kematian, sebuah film yang bergerak sesuai pakem horor pada umumnya. “Mudah ditebak” tidak serta merta melahirkan dosa, namun ketika dilengkapi pula oleh penggarapan ala kadarnya serta tensi yang datar-datar saja, membuat kita akan bertanya-tanya, “apa yang mau ditawarkan para pembuatnya?”.

Gagal membuktikan urban legend hantu Mbak Rohanna di Jembatan Perawan, Yogyakarta, membuat Zein (Endi Arfian) harus mengajukan pilihan tempat angker lainnya pada Kinan (Carrisa Perruset) untuk mereka jadikan materi di konten Youtube mereka. Suatu ketika, Pasha (Omara Esteghlal), mahasiswa yang satu kampus dengan Kinan dan Zein, melakukan aksi memalukan sekaligus mengerikan di tengah kota Yogyakarta karena mengaku mendapatkan surat dari kematian. Surat itu mengancam, jika Pasha tidak melakukan apa yang diperintahkan di dalam surat, maka kematian akan menjemputnya.

Dari surat itu Kinan dan Zein tergerak untuk menyelidiki Gama Plaza, bangunan tua yang pernah dijadikan tempat bunuh diri oleh mahasiswa kampus mereka beberapa tahun silam, Darius (Jerome Kurnia ). Baru saja mereka memulai penyelidikan, surat berikutnya sudah datang lagi kepada salah satu mahasiswa kampus mereka, dan kali ini memakan nyawa. Kinan yakin kalau ini semua adalah suatu pembunuhan berencana, sementara Zein berpendapat bahwa semua yang terjadi berkaitan dengan makhluk halus, yaitu arwah Darius.

Evelyn Afnilla selaku penulis skenario seakan kebingungan dalam mengembangkan kisah yang bak diniati menjadi versi horor dari kisah-kisah detektif ala Agatha Christie ini. Begitu sederhana, naskahnya merasa tidak perlu mengangkat ambiguitas soal “apakah semua ini perbuatan makhluk halus, ataukah murni perbuatan manusia?”. Fakta sesungguhnya memang akan terjawab di akhir durasi.

Sejatinya pengisahan dalam film ini merupakan sebuah langkah berani, karena berpotensi membawa proses eksplorasi kisahnya ke arah berbeda. Sayangnya itu gagal dilakukan, sehingga Surat dari Kematian tak mampu menyediakan alasan mengapa penonton harus terus menaruh perhatian hingga akhir. Sementara sebagai usaha untuk menutup bobrok tadi, sekaligus memfasilitasi selera penonton kebanyakan, turut dimasukkan pula elemen mistis berupa penampakan beberapa hantu seperti film-film horor kebanyakan.

Oke, naskahnya memang berniat menjadikan si hantu lebih dari sebatas penebar teror, meski pada akhirnya, kehadirannya tidak signifikan mempengaruhi berhasil atau tidaknya sang dua tokoh utama dalam menyibak segala kebenaran. Pun kemunculannya tak pernah mengerikan akibat lemahnya penyutradaraan Hestu Saputra. Terbiasa menggarap film-film drama, Hestu jelas belum menguasai betul teknik mengarahkan horor. Pacing maupun pemilihan sudut kamera pilihannya terkesan seadanya, kurang menunjang pembangunan atmosfer dan intensitas.

Beruntung, Galang Galih selaku penata kamera berhasil memaksimalkan penggunaan tata cahaya dan color grading yang sedikit banyak mampu menaikkan atmosfer horornya. Babak ketiga jadi korban terbesar lemahnya pengarahan dari sang sutradara. Padahal konsep klimaksnya menarik, menyimpan kengerian dari suatu peristiwa brutal nan ironis, yang dampaknya bakal menguat andai bersedia menambahkan kadar kengerian.

Namun begitu, pujian khusus patut diberikan kepada aktris Carrisa Perruset. Penampilannya cukup solid, lumayan meyakinkan dalam mengekspresikan keputusasaan, walaupun sebenarnya cakupan emosi karakternya tidak terlalu luas (hanya ketakutan dan menangis). Nantinya, Carissa harus lebih cermat lagi dalam memilih peran. Karena ia sempat digadang-gadang sebagai aktris masa depan Indonesia yang kualitasnya menjanjikan.

Pada akhirnya, masih ada pesan moral yang bisa dipetik dari film ini; meski sulit memaafkan kesalahan orang lain, tapi hal itu tidak boleh terlalu lama dibiarkan di dalam hati karena rasa sakit itu bisa menimbulkan sebuah dendam. Dendam itu pun berbahaya, karena bukannya menyelesaikan masalah, yang terjadi malah akan menciptakan masalah baru. Kita juga diingatkan untuk jangan iri kepada orang lain, karena iri bisa membuat kita tega menyakiti orang lain.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

PARASITE
DORAEMON THE MOVIE: NOBITA`S CHRONICLE OF THE MOON
BLOODSHOT
MR. ZOO

COMING SOON

EYES ON ME : THE MOVIE
THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS
TRAUMA CENTER
ROH MATI PAKSA