Loading your location

Review The Gentlemen: Action Comedy dengan Visual Menawan

By Ekowi31 Maret 2020

Apa yang dilakukan Guy Ritchie lewat film Lock, Stock, and Two Smoking Barrels dan Snatch mungkin mengingatkanmu dengan karya-karya milik Quentin Tarantino, seperti film Pulp Fiction misalnya. Pulp Fiction sejatinya adalah semacam masterpiece of post-modern movie di era 90-an, di mana ekspektasi kita akan film gangster dan mafia yang telah kita kenal sebelumnya (penuh karakter serius, full action, tokoh yang tangguh dan macho) akan dijungkir balikkan oleh Tarantino. Nah bedanya, Guy Ritchie’s is more comedic.

Memang sih, keduanya sama-sama rajin mengangkat tema gangster, tapi film-film milik Ritchie tampaknya lebih fokus dan berkembang ke ranah komedinya. Sekilas sobat nonton juga akan merasa film-film milik Ritchie agak serupa dengan film-film karya Coen Brothers, yang dipenuhi dark-comedy dengan twist fate yang aneh dan ajaib. Namun, Guy Ritchie tetap masih mampu memberikan signature style-nya, terutama lewat sinematografinya yang stylish.

Setelah lalu-lalang di banyak proyek Hollywood , kini Guy Ritchie seolah kembali ke roots-nya, menggarap film yang nafasnya serupa dengan Lock, Stock, and Two Smoking Barrels dan Snatch. Karya terbarunya kali ini berjudul The Gentlemen. The Gentlemen mengisahkan Mickey Pearson (Matthew McConaughey), seorang pebisnis mariyuana terbesar di Inggris dengan aset hingga milyaran dollar.

Merasa lelah berbisnis, ia ingin menghabiskan masa pensiun dengan istrinya Rosalind (Michele Dockery). Mickey pun berniat menjual seluruh asetnya yang terdiri dari 12 lokasi kebun ganja rahasia, kemudian sistem penanaman hingga sistem distribusi dan daftar pembeli kepada Matthew Berger (Jeremy Strong) dengan harga 400 juta dollar. Tanpa diduga masalah muncul satu persatu, dimulai dengan serangan ke salah satu lokasi kebun ganja rahasia tadi,
kemunculan pembeli lain yakni Dry Eye (Henry Golding) yang ambisius, serta hadirnya wartawan penuh akal bulus yaitu Fletcher (Hugh Grant) yang ingin memeras Mickey lewat asistennya Raymond (Charlie Hunnam). Semua itu membuat situasi menjadi kacau balau. Dengan situasi yang semakin genting dan mengancam nyawa Mickey dan Rosalind, apakah Mickey mampu mengatasi semuanya?

Hampir tiga perempat film ini diceritakan secara naratif oleh salah satu tokoh dalam film. Sederhananya, kita akan menyaksikan dua orang berdialog, dengan salah satu di antara mereka menjadi sang penutur cerita. Tentu saja tidak sepenuhnya cerita berupa narasi. Jadi, sobat nonton tidak perlu takut bosan. Tetap ada scene-scene non-narasi, di mana Mickey Pearson dan kolega-koleganya beraksi, sebagai gambaran nyata dari cerita yang dituturkan tadi. Kita, sebagai penonton, hanya diposisikan sebagai pihak yang (secara tidak langsung) ikut mendengar cerita dari sang penutur pada lawan bicaranya.

Sisi aksi dari film ini terlihat dari adegan-adegan Mickey Pearson (dan beberapa tokoh yang berada di sisinya) bertemu dengan lawan-lawannya. Dan seperti signature khas Guy Ritchie, film ini selain bergenre crime-action, juga ada unsur komedinya. Bagusnya, film ini berhasil menunjukkan sisi komedinya tanpa terkesan dipaksakan sama sekali. Lawakan-lawakan dalam film ini disajikan melalui obrolan tiap tokoh, dan tentu saja, paling banyak dilontarkan oleh tokoh yang berperan sebagai ‘sang penutur cerita’ tadi pada lawan bicaranya.

Selayaknya melihat dua orang yang cukup akrab, dan salah seorang di antara mereka—alias sang penutur cerita—adalah tipikal orang yang ceplas-ceplos, mungkin, dalam dunia sehari-hari, ini sama halnya seperti melihat dua orang yang cukup dekat bergunjing dan bergosip, dengan sang pembawa gosip sangat berapi-api dalam menyampaikan gosipnya, sambil sesekali menambahkan bumbu-bumbu dalam gosip agar lebih panas. Beberapa dialog antar tokoh lainnya, selain si penutur cerita, juga ada yang mengandung unsur komedi. Kita akan dibuat tertawa hanya karena umpatan-umpatan yang keluar dari mulut para tokoh.

Selain itu, sobat nonton juga akan terpuaskan secara visual oleh The Gentlemen. Warna dan pencahayaan dari keseluruhan film ini akan sangat memuaskan mata selama dua jam kurang tujuh menit. Dari segi akting? Bahkan, hingga para pemeran pembantu yang hanya muncul semenit-dua menit pun semuanya berakting dengan bagus dan tidak kaku. Walaupun tidak semua, masih ada beberapa tokoh minor (bahkan sangat minor) yang “kurang ngena” dengan perannya, namun itu tidak menutupi bagusnya akting kebanyakan tokoh di film ini.

Mungkin yang kurang dari film ini hanya berupa hal-hal kecil dan mendetail yang tidak terlalu berpengaruh pada cerita, dan tidak membuat kita sampai mempertanyakan ini film macam apa. Nah, apakah sobat nonton masih ingat film yang cukup ramai di akhir tahun lalu berjudul Knives Out? Film ini memberikan perasaan yang sama seperti ketika menonton Knives Out. Walaupun berbeda genre, namun jika bisa menikmati menonton Knives Out, kita juga akan mampu menikmati The Gentlemen.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

WHISPERING CORRIDORS: THE HUMMING
SINKHOLE
FAST & FURIOUS 9
THE SUICIDE SQUAD

COMING SOON

RUN
STILLWATER
KKN DI DESA PENARI
NO TIME TO DIE