Loading your location

Review Free Guy: Film dengan Cerita dan Visual yang Solid

By Ekowi21 Oktober 2021

Tema-tema virtual reality atau video game dengan karakter-karakter avatar yang berpetualang mengarungi dunianya ini bukan lagi hal baru; dari Tron, The Matrix, Avatar-nya James Cameron, hingga mungkin animasi Disney Wreck-it-Ralph yang lebih terang-terangan dipenuhi trivia.

Belum lagi sebagai sebuah adaptasi, seorang Steven Spielberg juga mengembangkan lagi dasar easter eggs itu dengan sematan kultur pop lain dari musik hingga tentu saja film, bahkan printilan kolektor yang berhubungan dengan kulturnya dalam film Ready Player One tempo hari.

Kini sambutlah Free Guy, sebuah film yang sepintas jika kita membaca premisnya, merupakan gabungan dari Ready Player One dan The Truman Show. Namun, apakah ada hal baru lain yang coba ditawarkan film ini?

Guy (Ryan Reynolds) adalah seorang pria biasa yang hidup dengan rutinitas hariannya sebagai seorang pegawai bank di kota bernama Free City. Aksi kriminal adalah hal biasa di kota ini dan warganya pun seolah sudah hidup berdampingan dengan kekerasan senjata.

Suatu ketika, Guy merasa ada yang aneh dengan dirinya dan dunia di sekitarnya sejak ia bertemu dengan gadis cantik misterius bernama Millie aka Molotov Girl. Free City ternyata adalah sebuah video game online dan Guy adalah sebuah anomali atau glitch.

Terasa sekali bahwa Shawn Levy sebagai sutradara memang menjadikan film ini sebagai labour of love-nya sejak awal meski source-nya tak datang dari dirinya sendiri. Lewat skrip Zak Penn dan Matt Lieberman, Free Guy di tangan Levy tak segan-segan menunjukkan wujudnya sebagai sebuah trivial play dan nostalgic ride yang mengemas begitu banyak homage dan easter eggs dari beberapa karakter pendukung hingga scoring musiknya. Namun bukan berarti berdiri di atas bangunan meta kultur pop ini lantas otomatis menenggelamkan plot filmnya.

Meski tak lagi benar-benar baru, cara Levy menggagas semua stakes-nya-lah yang lantas membuat Free Guy menjadi benar-benar spesial tanpa juga kehilangan social commentary soal ketergantungan manusia atas dunia maya serta virtual terhadap peradaban di atas gambaran dan pembagian karakter yang juga hadir dengan detil cukup seperti yang dibutuhkan dalam penceritaannya.

Free Guy seakan juga mengajak kita merayakan hidup, baik di dunia nyata maupun maya. Keseimbangan itu memang dibutuhkan. Di tangan Shawn Levy, hal terpenting bukan “ada berapa tokoh dan/atau referensi budaya populer dalam film ini?”, melainkan bagaimana semua dirangkum menjadi adegan solid. Pun naskahnya meniadakan kesan “pamer”, sehingga tiap babak penceritaannnya hingga klimaks bak fase alamiah yang wajib dilalui alurnya.

Overall, sedikit sekali cela yang terdapat dalam film ini. Sebagai film yang "menjual" visual, Shawn Levy tak lupa menaruh hati di dalam karyanya ini. Tengoklah salah satu momen manis saat karakter bernama Keys (Joe Keery) dan Millie (Jodie Comer) saling tatap di sebuah adegan.

Tontonlah, dan buktikan bahwa Free Guy memiliki sense of wonder atau sensasi sinematik yang magis yang membuat pengalaman menyaksikan film ini di layar lebar terasa sulit untuk digantikan. Di film ini, Shawn Levy membuktikan bahwa dia masih memiliki kemampuan untuk meramu sebuah tontonan spektakel yang mampu menciptakan decak kagum, sebelum kita semua akan disuguhi karya kolaborasinya kembali bersama Ryan Reynolds di film The Adam Project yang akan dirilis tahun depan.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

GHOSTBUSTERS: AFTERLIFE
NO TIME TO DIE
THE BOSS BABY: FAMILY BUSINESS
AKHIRAT: A LOVE STORY

COMING SOON

FATE/KALEID LINER PRISMA ILLYA LICHT NAMELESS GIRL
RUN HIDE FIGHT
MONSTA X: THE DREAMING
TALAK! TALAK! TALAK!