Loading your location

Review Halloween Kills: Babak Akhir Michael Myers?

By Ekowi21 Oktober 2021

Memilih judul sama dengan horor klasik orisinal dan remake 2007-nya oleh Rob Zombie, Halloween rilisan tahun 2018 lalu ternyata bukanlah sebuah remake. Melawan trend yang masih terus merebak di genre-nya, yakni horor, namun di sini ber-subgenre slasher, sineas David Gordon Green, tentu dengan restu kreatornya John Carpenter, melakukan langkah yang jarang-jarang bahkan mungkin belum pernah dilakukan yang lain dalam konteks rentang waktu, yang tergolong tak biasa dan sangat berani.

Bukan saja dalam meniadakan semua sekuel yang pernah ada, yang walau tak semuanya bagus namun sudah menciptakan sebuah dunia, mitos dan semesta di balik banyak persepsi sosiokultur berbeda serta terus dikaji di genre-nya, merancang sebuah sekuel baru dalam timeline 40 tahun, tentu bukan sesuatu yang mudah. Hasilnya? 255 juta dollar Amerika Serikat berhasil diraih dari bujet produksinya yang hanya, sekali lagi hanya, 10 juta dollar Amerika Serikat!

Kini, tiga tahun kemudian, dengan jajaran kreator belakang layar yang sama, mereka mencoba peruntungan kembali dalam film Halloween Kills yang merupakan film kedua dari film bertajuk Halloween yang telah direncanakan menjadi sebuah trilogi.

Jika sobat nonton sudah menonton film sebelumnya tiga tahun silam, di mana pada akhir film tersebut diceritakan Laurie Strode (Jamie Lee Curtis) bersama anak perempuannya Karen Nelson (Judy Gerr) dan cucunya Allyson (Andi Matichak) berhasil menjebak Michael Myers di ruang bawah tanah rumahnya dan langsung membakar Michael Myers hidup-hidup.

Alur plotnya lalu berjalan kontinyu dari peristiwa film sebelumnya. Laurie yang terluka parah, bersama Karen, dan Allyson bergegas ke rumah sakit yang kini hiruk-pikuk akibat ulah Michael Myers. Myers sendiri yang berhasil disekap dan dibakar oleh Laurie di rumahnya, justru malah tertolong aksi pemadam kebakaran. Myers pun kembali beraksi meneror warga kota!

Bersama iringan score synthesizer ikonik musik tema aslinya, tetap dari John Carpenter bersama Cody Carpenter dan Daniel Davies, skrip yang ditulis oleh Gordon Green dan partnernya; aktor-komedian Danny McBride dan Scott Teems tetap berhasil mengantarkan kesinambungan kisahnya dengan pengisahan yang relevan. Walau ada beberapa aspek repetitif yang tak bisa terhindarkan, beberapa karakter baru yang ditampilkan cukup berfungsi memperkuat benang merah penyambungnya.

David Gordon Green dengan lihai juga menyemat banyak torehan jejak elemen-elemen penting pembentuk film orisinalnya dalam tiap titik pengarahannya tanpa harus merendisi adegan, namun cukup meletakkan hint serta homage yang jelas masih akan sangat diingat fans franchise-nya. Ini memang harus diakui, berhasil membuat versi orisinalnya terasa masih sangat fresh serta kembali melekat dengan cepat untuk dilanjutkan di sini sebagai sebuah direct sequel.

Karakter-karakter utamanya, terutama dalam garis keturunan Laurie dimainkan dengan sangat baik dengan pionir karakter Scream Queen di genrenya yakni Jamie Lee Curtis. Pun dirancang dengan relevansi rapi yang tak sekalipun terasa mengganggu, juga membuat karakter Michael kembali terasa sangat menakutkan secara psikologis ketimbang hanya pameran slasher di instalmen-instalmen terakhirnya.

Pendeknya, rentang waktu begitu panjang untuk menjembatani versi 1978 dan 2018 serta 2021 ini sebagai sekuel langsungnya tak sekalipun terasa mengganggu logika internal yang dihadirkan walaupun ada beberapa belokan termasuk topeng legendaris Michael Myers sebagai simbol yang agak keluar jalur.

Selain loyalitas penuh respek ke versi orisinal lewat elemen-elemen ikonik itu, sinematografi Michael Simmonds juga menangkap atmosfer yang cukup senada dengan Halloween versi 1978 dalam aspek set suburban Haddonfield, suasana Halloween yang mengarah ke tampilan vintage kala genre ini mulai marak di pengujung tahun 70-an dulu.

Begitu pula, David Gordon Green juga tak lupa bermain-main di sejumlah visual cue penuh referensi, juga target sasaran di versi aslinya yang sempat hilang di beberapa sekuel sebelum dijadikan setup mitos di instalmen ke-4 dan ke-6, kini membawa konsistensi itu kembali lagi.

Namun yang paling menarik tentulah bagaimana David Gordon Green menghadirkan perpindahan generasi baru karakternya dalam rentang selama itu dengan kuat. Dan satu aspek terpenting yang tentu sangat diperlukan dalam keberadaannya mengusung salah satu franchise horor klasik yang paling dikenal orang, bahwa sebagai slasher horror, guliran suspense-nya jelas tak boleh main-main.

Di sisi ini, Halloween Kills jelas sangat berhasil menghadirkan sosok Michael Myers di tengah suspensi dan urgensi yang mungkin tak lagi bisa kita dapatkan di sekuel-sekuelnya meski versi Rob Zombie sempat berhasil meletakkan titik krusialnya di sana, namun tidak pada sekuel tahun 2009-nya.

Jadi, apa sebenarnya yang paling dibutuhkan untuk kembali menghidupkan franchise horor se-klasik Halloween dengan rombakan se-berani ini? A true fan tentunya. Di balik sosok David Gordon Green, agaknya sudah berhasil menjawab pertanyaan itu. Franchise ini sepertinya sudah berada di tangan yang tepat, dan mari terus berdoa agar kualitasnya tetap terus seperti ini hingga di film trilogi terakhirnya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

KADET 1947
FOLLOW ME
VENOM: LET THERE BE CARNAGE
SATYAMEVA JAYATE 2

COMING SOON

RAGING FIRE
TADAP
TARUNG SARUNG
SWORD ART ONLINE THE MOVIE -PROGRESSIVE- ARIA OF A STARLESS NIGHT