Loading your location

Review In the Heights: A True Magical!

By Ekowi09 Juni 2021

Ada banyak film musikal atau film tentang musik yang bagus. Tapi yang benar-benar bisa menerjemahkan musik secara padu ke dalam adegan-adegannya, bukan semata di pengaturan ataupun koreografi megah ala Baz Luhrmann atau Rob Marshall, bukan juga penggunaan pop-culture reference ala Cameron Crowe, jumlahnya tentu tak banyak. Selain Once, Begin Again, dan Sing Street yang digarap John Carney, ada pula Whiplash dan La La Land yang tempo hari digarap oleh Damien Chazelle.

Jika John Carney menyorot atmosfer ‘80an dengan elemen-elemen pop kulturnya dari musik ke film dalam Sing Street, Chazelle lebih mengedepankan genre yang sudah dimulainya dengan Whiplash, yakni musik jazz, yang ditransformasikannya ke ambience Hollywood classic musicals. Lalu disempurnakan dengan La La Land yang muncul sebagai sebuah sajian musikal yang begitu sempurna, yang tak hanya meraih status acclaimed dari critics, juga berjaya di banyak awarding events.

Sekarang, sambutlah In the Heights. Sebuah film yang diadaptasi dari drama panggung Broadway karya Quiara Alegria Hudes dan Lin-Manuel Miranda. Dalam In the Heights, kita semua akan mengikuti kehidupan Usnavi (Anthony Ramos), seorang pemilik toko kelontong asal Dominika yang tinggal di wilayah bernama Washington Heights. Washington Heights sendiri terletak di salah satu sudut Manhattan, yang mayoritas dihuni oleh berbagai warga imigran dari luar Amerika Serikat.

Usnavi dan rekan-rekannya sedang menghadapi tekanan akibat kenaikan harga sewa dan ancaman penutupan bisnisnya. Ia lalu bertekad untuk kembali ke negara Dominika untuk "terhubung kembali" dengan kampung halamannya dan demi mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Namun, ia dilanda rasa dilema karena rasa kekeluargaan yang didapatkan dari para tetangganya amat erat. Di tengah-tengah ia membuat keputusan, ia lalu bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Vanessa (Melissa Barrera) yang bekerja di sebuah salon milik tetangganya.

Lalu, apakah Usnavi akan menetap di Washington Heights dan ikut membela hak para imigran sambil memperjuangkan cintanya? Atau ia tetap membulatkan tekadnya untuk pindah ke kampung halamannya?

Sekilas, plot In the Heights terkesan amat sederhana. Bahkan mengikuti pakem drama romantis pada umumnya. Tapi, jangan biarkan kesederhanaan ini mengecohmu, karena In the Heights justru tidaklah sesederhana itu. Utamanya jika kita membicarakan soal bagaimana Jon M. Chu mengatur konsep dari setiap jengkal film ini, mengkreasi setiap elemen teknis dari musik hingga warna yang membuat film ini semakin indah. Ia juga mampu meniupkan ruh agar karakter-karakter dalam film ini terasa lekat, hidup dan berjiwa.

Film pun berjalan semakin menarik saat drama antara Usnavi dengan Vanessa juga dilantunkan dalam hentakan tubuh mengikuti ritme irama musik dan bernyanyi dengan penuh perasaan. Menjadi semakin sempurna pula karena sebagian besar pelakon yang bermain dalam film ini adalah penyanyi sungguhan!

Ketika rentetan dialog dianggap tidak cukup untuk mengungkapkan suatu maksud, musik adalah solusi terbaiknya. Itulah mengapa ada emosi yang bisa dirasakan di dalam tiap tembang dan tiap melodi yang mengiringi film ini, seperti tembang pembuka yang berjudul sama dengan film ini, “In the Heights", lalu meluncur pula tembang-tembang lainnya, semisal "Breath", "96.000", dan "Carnaval Del Barrio" yang rasa-rasanya akan mengendap lama di benak sobat nonton.

Karisma Anthony Ramos dan kecantikan paripurna Melissa Barrera merupakan kombinasi sempurna guna menjerat atensi, sehingga tanpa sadar kita semua pun tahu-tahu telah terhanyut pada jalinan kisah percintaan mereka. Just like a magic. Ada semacam kebahagiaan tersendiri menyaksikan Usnavi bertemu dengan Vanessa (begitu juga sebaliknya), karena kita mengetahui bahwa mereka akan saling menguatkan, dan saling melengkapi satu sama lain, lantaran mempunyai kesamaan pada tujuan, harapan, dan mimpi.

Dari titik ini, penonton pun lantas disadarkan bahwa sejatinya In the Heights bukan hanya sekadar menjual dongeng manis semata mengenai kisah percintaan dua insan manusia yang dipertautkan oleh passion. Karena lebih dari itu, ini merupakan selebrasi bagi mereka yang berani bermimpi dan berani mewujudkannya sekalipun memahami betul ada harga yang harus dibayar mahal.

Pada akhirnya, Jon M. Chu sebagai sutradara bisa dikatakan berhasil dalam mengarahkan film ini dengan sangat teliti dan berhasil pula menerjemahkan pesan besar soal kemanusiaan dengan balutan musikal di dalamnya. Pun hanya dengan detail-detail kecil, Jon mampu menjelaskan bahwa problematika yang ada di film ini sanggup memiliki relevansi lintas zaman. A true magical!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

YUNI
BLACKPINK: THE MOVIE
MALIGNANT
NO TIME TO DIE

COMING SOON

THE DOORMAN
KKN DI DESA PENARI
JAKARTA VS EVERYBODY
LOSMEN BU BROTO