Loading your location

Review Stand By Me Doraemon 2

By Ekowi20 Februari 2021

Tidak ada yang tidak mengenal Doraemon, dan saya yakin bahwa mayoritas dari kita yang menjalani masa kanak-kanak atau remaja awal di era 90-an pasti memiliki kedekatan dengan sosok robot kucing dari masa depan ini. Mungkin kita semua hampir tidak pernah melewatkan penayangannya di tiap hari Minggu pagi, membeli beberapa komiknya, sampai mengoleksi deretan VCD film-film serinya. Pun, keajaiban alat-alat milik Doraemon adalah kepingan memori tak terlupakan dari masa kecil kita semua.

Sebenarnya, kita bisa saja menyaksikan film Doraemon terbaru yang dirilis rutin setiap tahunnya. Namun, film Stand by Me yang telah dirilis pada tahun 2014 silam, serta Stand by Me jilid keduanya ini pastinya cukup spesial. Tak hanya dari segi animasi yang dikemas dalam sajian visual 3D, tapi juga cerita yang amat menjanjikan.

Kisah yang ditawarkan oleh film Stand by Me Doraemon 2 kali ini sebenarnya adalah hasil adaptasi dari salah satu episode anime Doraemon berjudul Nobita’s Grandma, yang dirilis pada tahun 1973. Episode ini sempat mengalami beberapa kali penyesuaian atau pengembangan di tahun-tahun selanjutnya, salah satunya ialah tatkala pada tahun 2000 lahir sebuah anime pendek dengan judul Doraemon: Obaachan no Omoide. Namun tentu saja ada beberapa premis berbeda yang hadir di film Stand by Me Doraemon 2 kali ini.

Kisah film Stand by Me Doraemon 2 mulai bergulir ketika Nobita yang secara tidak sengaja menemukan boneka teddy bear kesayangannya semasa kecil. Meski boneka teddy bear tersebut telah terlihat sedikit rusak, akan tapi Nobita sangat senang menemukannya karena membuatnya teringat dengan sosok Nenek yang begitu dia rindukan. Nobita lalu berangkat ke masa lalu dengan mesin waktu milik Doraemon untuk menemui sosok Nenek tercintanya. Sesampainya di masa lalu, alangkah kagetnya Nobita saat sang Nenek langsung percaya kalau sosok yang di depannya saat itu adalah Nobita dari masa depan.

Nah, salah satu bagian terpenting yang akan membuat air mata mulai jatuh adalah ketika Nobita akhirnya bisa berbincang dengan sang Nenek dan mengutarakan niatnya untuk melakukan sesuatu hal yang berharga kepada sang Nenek tercintanya. Apakah sesuatu hal yang berharga tersebut?

Sangat sulit untuk bersikap benar-benar objektif, atau sekadar menyeimbangkannya dengan sikap subjektif dalam memberikan penilaian pada film ini. Karena seri ini seperti memutar kembali kenangan masa kecil kita dengan tingkah laku konyol, santai, bahkan manis yang ditampilkan oleh karakter Doraemon, Nobita, Shizuka, Giant, dan Suneo dengan sangat kuat. Dari dramanya yang selalu berhasil meninggalkan berbagai pesan penting yang sederhana namun tajam dan efektif, hingga humor dengan menggunakan aksi slapstick gerak cepat penuh energi yang di samping menciptakan tawa lepas yang menyenangkan, juga sanggup membuat karakter tampak konyol namun tetap adorable.

Itu yang menjadi kekuatan utama setiap seri Doraemon. Dan seolah telah paham betul dengan materi yang ia jual serta apa yang penonton inginkan, duo sutradara Takashi Yamazaki dan Ry?ichi Yagi pun memperoleh keuntungan dari sikap simple mereka untuk tidak membawa hal-hal baru yang sangat mengganggu ke dalam petualangan kali ini. Dari sisi cerita, Stand by Me Doraemon 2 adalah standard dari apa yang kita inginkan dari Doraemon dan teman-temannya, namun konsep dasar yang merupakan penggabungan dari beberapa sketsa pendek dengan menampilkan berbagai alat-alat canggih yang menarik itu justru menjadi sebuah keunggulan bagi film ini, karena semua terbentuk dengan cepat, padat, dan tepat. Premis yang dimiliki film ini terasa sedikit tipis memang, terasa episodik serta seolah dijaga untuk tidak bergerak terlalu dalam, namun berbagai potongan kecil itu berhasil dirangkai oleh Takashi Yamazaki dan Ry?ichi Yagi untuk membawa penonton merasakan misi utama yang mereka ingin sampaikan.

Dengan fokus yang lebih besar pada drama, Stand by Me Doraemon 2 memang berhasil memaksimalkan hal itu. Amat banyak momen emosional yang hadir di sini. Kita mungkin sudah mencoba mengantisipasi akan hadirnya momen-momen mengharukan, tapi percayalah, tetap saja air mata akan mengucur saat berbagai momen mengharukan tersebut benar-benar hadir di layar. Keberhasilan dalam aspek emosional itu tidak akan terjadi jika kita tidak merasakan simpati pada karakter Nobita dalam film ini. Ya, dalam film inilah mungkin kita semua akan mulai mengerti secara lebih dalam sosok Nobita, dan akan mendapatkan sisi positif yang ada pada karakternya. Mungkin Nobita adalah seorang loser yang buruk dalam berbagai hal, tapi dia punya satu hal positif yang itu mahal harganya, yakni cinta. Cinta adalah sesuatu yang juga teramat kental di sini. Kita bisa merasakan hal itu bertebaran dalam berbagai aspek filmnya dan terasa paling kuat saat berkaitan dengan hubungan antar karakternya.

Semua itu semakin didukung oleh iringan musik dramatis garapan Naoki Sato yang terkesan megah sekaligus melankolis. Semua yang hadir dalam film ini memenuhi ekspektasi, bahkan ada satu hal yang berada di atas ekspektasi, yaitu pengemasan visualnya yang menggunakan format CGI 3D daripada animasi 2D konvensional seperti yang selama ini lekat dengan seri Doraemon. Saya sendiri sempat meragukan hal itu, karena bagi saya "Doraemon adalah dua dimensi". Usaha modernisasi yang dilakukan membuat khawatir jika filmnya akan terasa kaku dan kehilangan emosi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, aspek visual yang ditawarkan dalam dua jilid film Stand by Me Doraemon semakin menghidupkan adegan serta karakternya.

Jika dibandingkan dengan film layar lebar Doraemon lainnya yang kental dengan nuansa petualangan fantasi, atau bahkan dengan Stand by Me jilid pertamanya, Stand by Me Doraemon 2 jelas terasa lebih membumi. Nuansanya lebih dekat ke arah komik dan kartunnya, yang membuat film ini benar-benar terasa sebagai sebuah bentuk penghormatan bagi Fujiko F. Fujio serta kado nostalgia bagi para penggemarnya. Hal itu terlihat pula dari banyaknya karakter pendukung ikonik yang sudah familiar bagi para penggemar yang kembali dihadirkan sepotong demi sepotong di sini. Daripada menawarkan suatu hal yang baru, film ini lebih pantas disebut sebagai surat cinta dari kedua sutradara film ini baik untuk penggemar maupun sang pengarang.

Secara keseluruhan, Stand by Me Doraemon 2 adalah sajian emosional yang menangkap dengan sempurna berbagai esensi dan aspek substansial dalam sejarah panjang franchise Doraemon. Film ini secara tidak sadar akan mengembalikan memori kita semua belasan bahkan puluhan tahun silam saat sedang duduk manis di depan televisi sambil menyantap sarapan dan tertawa tanpa sedikitpun terasa beban.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

THE WIDOW
DEMON SLAYER: KIMETSU  NO YAIBA: MUGEN TRAIN
DETECTIVE CHINATOWN: THE TOKYO SHOWDOWN
BANGKITNYA MAYIT THE DARK SOUL

COMING SOON

BUKU HARIANKU
MALIK & ELSA
CHAOS WALKING
MR. ZOO