Loading your location

Review The Medium: Horor yang Penuh Unsur Kepercayaan Lokal Thailand

By Ekowi21 Oktober 2021

Bicara mengenai perfilman horor di Thailand, nama Banjong Pisanthanakun memang sudah begitu melekat. Sutradara yang satu ini memang telah banyak membuat film-film horor yang hebatnya masing-masing film tersebut layak disebut sebagai film horor terbaik yang pernah dihasilkan Thailand, mulai dari Shutter, Alone, hingga saat ia membuat masing-masing satu segmen dalam dua film Phobia. Bahkan Banjong juga terlibat dalam proyek The ABC's of Death pada tahun 2012 silam.

Sekarang di saat industri perfilman Thailand mulai beralih tren menjadi komedi romantis, Banjong kembali ke ranah horor lewat The Medium, yang kali ini berkolaborasi dengan salah satu sutradara kontemporer terbaik asal Korea Selatan, Na Hong-jin yang tempo hari terkenal atas film horornya yang berjudul The Wailing.

Dalam film The Medium, kita akan meneliti sebuah tradisi yang ada di Thailand, tepatnya di wilayah bernama Isan, bagian Timur Laut Thailand, di mana masyarakat di sana mempercayai adanya Dewa Bayan. Hal inilah yang membawa beberapa orang pada akhirnya membuat sebuah dokumenter tentang seorang dukun lokal bernama Nim (Sawanee Utoomma). Nim diketahui dirasuki oleh roh Dewa Bayan, karena konon ia telah terpilih untuk menggantikan leluhurnya.

Sebenarnya Dewa Bayan memilih kakaknya yang bernama Noi (Sirani Yankittikan), namun ia menolak dan membuat Nim harus jadi "medium" sang Dewa. Nim menikmati hidupnya sebagai wadah bagi Dewa, ia mampu mengobati orang-orang yang terkena kutukan atau hal supranatural lainnya.

Pada suatu hari, Nim mengetahui keponakannya, Mink (Nailya Gulmongkolpech) mengalami gejala aneh dan curiga itu menjadi pertanda untuk menjadi dukun selanjutnya. Namun, Noi menolak Nim melakukan ritual memindahkan roh Bayan ke Ming. Hingga, secara perlahan, Nim mulai menyadari semua keanehan yang terjadi selama ini sepertinya bukan karena pengaruh roh Bayan.

Plot The Medium sendiri sangat kental dengan unsur kepercayaan lokal di Thailand. Hal-hal mistis memang masih sangat melekat di sana, jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia gaib seakan telah mendarah daging, walau sebenarnya generasi muda sudah mulai banyak yang tidak percaya dan melupakannya.

Bagi sebagian penonton, alur yang lambat mungkin bisa sangat membosankan, tapi percayalah, semua itu akan terbayarkan di akhir film ini. Banjong rupanya berhasil mengulang keberhasilannya saat menggarap film Shutter di awal kariernya dahulu.

Suasana mencekam di film ini terasa semakin menjadi-jadi karena tone film sengaja dibuat sangat gloomy. Konsep found footage juga merupakan salah satu upaya eksperimen Banjong yang dapat dikatakan cukup berhasil, walau jujur saja ada beberapa momen yang patut dipertanyakan, terutama menyangkut masalah privasi, karena terkadang si tokoh kameramen terkesan sebagai seorang stalker ketimbang peliput, sehingga dapat menimbulkan antipati dari penonton.

Terasa pula film ini ingin bermain dengan tampilan gambar dan kejadian yang cepat serta penuh amarah dan gila layaknya haunted house tour. Dengan tampilan horror yang bermain fun dengan eksplorasi madness to chaos, dan garis cerita tentang kebudayaan membuat film ini jauh dari kesan klise.

Konsep found footage yang sudah lazim digunakan kini disulap menjadi sesuatu hal yang baru dengan tempelan budaya Thailand, dan itu tentunya masih amat relatable dengan para penonton di Indonesia.

Pada akhirnya, The Medium merupakan salah satu sajian horor terbaik tahun ini. Dan cara satu-satunya untuk merasakan kengeriannya secara maksimal adalah dengan menontonnya di layar yang sebesar-besarnya!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

KUNTILANAK 3
DETECTIVE CONAN: LOVE STORY AT POLICE HEADQUARTERS, WEDDING EVE
TOP GUN: MAVERICK
DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS

COMING SOON

THE ROUNDUP
KAMU TIDAK SENDIRI
ATAS NAMA SURGA
GUNPOWDER MILKSHAKE