Loading your location

Review Venom: Let There Be Carnage: Seru dan Menyenangkan

By Ekowi18 November 2021

Rencana untuk membuatkan satu film tersendiri bagi salah satu musuh bebuyutan Spider-Man, Venom, sejatinya telah mengemuka sejak lama. Di era 1990-an, New Line Cinema pernah mencetuskan gagasan tersebut yang tak pernah mendapat tindak lanjut. Dan memasuki era 2000-an, gagasan tersebut beralih ke Sony Pictures yang tergoda untuk menciptakan mesin pencetak uang baru mengandalkan nama Venom yang dikenalkan ke publik melalui Spider-Man 3 (2007).

Tapi serentetan masalah dibalik cap dagang Spider-Man (meliputi perbedaan kreatif diikuti kegagalan The Amazing Spider-Man 2) memaksa pihak studio untuk meninjau ulang rencana ambisisus mereka. Terlebih, apakah publik sudah siap dalam menerima film yang mengetengahkan sepak terjang sesosok supervillain?

Terus mengalami tarik ulur selama beberapa tahun, proyek ini akhirnya memperoleh kejelasan status di tahun 2016 usai Sony berinisiatif menciptakan Marvel Universe milik mereka sendiri tanpa bersinggungan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) sekalipun Spidey telah bersarang di sana, meski tidak menutup kemungkinan untuk dipersatukan mengingat Sony kekeuh mempertahankan Venom dengan rating PG-13 demi dapat dipersatukan bersama MCU.

Dan muncullah Venom di tahun 2018 yang menggamit Ruben Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) sebagai sutradara, sementara Tom Hardy diserahi posisi pelakon utama yakni seorang jurnalis yang dijadikan inang oleh si simbiot bernama Eddie Brock. Kini, tiga tahun berselang, giliran Adam Serkis yang diserahi tongkat estafet penyutradaraan menggantikan posisi Fleischer.

Pasca peristiwa yang terjadi di San Fransisco, tubuh Eddie Brock (Tom Hardy) menjadi inang bagi spesies alien Venom. Kini, Eddie tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan kehidupan barunya yang terasa kian rumit. Tak ingin berada dalam bayang-bayang Venom, Eddie mulai menyusun strategi untuk memulihkan karier serta kehidupan pribadinya.

Kesempatan emas pun datang untuk Eddie lewat seorang pembunuh berantai bernama Cletus Kasady (Woody Harrelson). Saat itu, Cletus dikenal sebagai narapidana yang selalu menolak untuk membicarakan kasusnya pada siapa pun. Anehnya, Eddie Brock menjadi satu-satunya orang yang diperkenankan oleh Cletus untuk mewawancarainya. Melihat hal ini sebagai batu loncatan besar baginya, Eddie pun bersedia bertemu dengan sang narapidana.

Ketika mewawancarai Cletus, terjadi sebuah insiden yang mengakibatkan sebagian kecil simbiot Eddie berpindah ke Cletus. Jadilah Cletus sebagai inang dari simbiot yang menamakan dirinya Carnage!

Apabila sobat nonton sudah terbiasa dengan film superhero rilisan beberapa tahun terakhir ini yang mulai berani menyelipkan subteks berkaitan dengan sosial politik ke dalam plotnya, dan menghadirkan warna penceritaan yang berbeda-beda ketimbang sebatas laga-komedi ringan, rasa-rasanya mudah untuk memberi label ‘B aja’ pada narasi yang dikedepankan film ini. Memang betul, guliran pengisahan Venom: Let There Be Carnage bisa dibilang tak terlalu istimewa.

Ya, kita telah menjumpai plot berbasis origin story yang senada seirama seperti ini berulang kali, dan Serkis bersama tim penulis skenario pun terasa enggan memberi modifikasi yang berarti. Mereka memilih untuk melantunkan cerita dengan gaya konvensional yang cenderung lurus-lurus saja tanpa ada kelokan berarti sehingga penonton yang mendamba plot berisi akan berulang kali memutar bola mata (plus menjulurkan lidah) di sepanjang durasi film.

Tak hanya mudah diterka, narasinya pun kurang mengikat dan mengaplikasikan logika yang seadanya saja demi memberikan kesenangan bagi penonton pencari obat pelipur lara. Nah, tapi apakah hal-hal tersebut masih dapat dianggap berhasil? Bagi sebagian besar penonton pasti iya.

Serkis sama sekali tak mengecewakan dalam kaitannya mempersembahkan tontonan hiburan bagi penonton. Dia memang bukan pencerita yang handal, tapi dia jelas bukan penghibur yang buruk. Selepas babak awal yang terasa dragging lantaran materinya tidak cukup kuat untuk menambat atensi kita sebagai penonton, Serkis pada akhirnya mampu menemukan irama penceritaan yang tepat.

Kelucuan, keseruan, serta kandungan hiburannya tidak pernah lagi terasa menurun. Sama seperti film pertamanya, Venom: Let There Be Carnage tetap menjual sebuah buddy movie dua karakter satu badan dengan elemen utama aksi dan komedi. Secara konseptual, ia mungkin tetap ada di atas konsep klasik film-film body swap dan simbiosis dua jiwa seperti kisah Dr. Jekyll and Mr. Hyde, tapi tone-nya menjadi luar biasa nyeleneh dengan sisipan dialog-dialog Venom dan Brock yang walau terasa ngaco, tapi kocaknya luar biasa. Pun tetap ditampilkan pula elemen body horror yang terasa dari perilaku si simbiot yang ganas terhadap manusia. 

Yes, walaupun di banyak bagian mungkin terasa sangat chaos, tapi jelas film ini masih jauh dari kualitas 'sampah nuklir' untuk genre superhero seperti Catwoman dan Fantastic 4-nya Josh Trank yang dirilis beberapa tahun silam. Dan paling tidak, Serkis berhasil mematok batasan berbeda dengan apa yang biasa kita lihat di MCU ataupun universe Marvel di studio lainnya, apalagi dengan adanya hint di after credit scene yang amat menjanjikan!

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

Loading...

NOW PLAYING

THE ADDAMS FAMILY 2
SCREAM (2022)
SING 2
JUST MOM

COMING SOON

KAMU TIDAK SENDIRI
MALIK & ELSA
MR. ZOO
KAMEN RIDER REIWA: THE FIRST GENERATION