Loading your location

Review Forgotten Island: Suguhan Animasi yang "Fresh" dan Memanjakan Mata

By Ekowi02 Oktober 2026

Film animasi terbaru dari DreamWorks Animation berjudul Forgotten Island resmi tayang di bioskop Indonesia mulai pekan ini. Forgotten Island akan membawa sobat nonton ke dunia fantasi yang terinspirasi dari budaya serta mitologi Filipina. Film ini tidak hanya menawarkan petualangan, tetapi juga mengangkat cerita tentang persahabatan, keluarga, dan kenangan.

Kisah dalam Forgotten Island akan berpusat pada Jo (H.E.R.) dan Raissa (Liza Soberano), dua sahabat yang telah berteman sejak kecil. Keduanya mulai menghadapi perubahan setelah lulus sekolah dan bersiap menjalani kehidupan masing-masing. Namun, malam terakhir mereka bersama justru membawa keduanya pada petualangan tak terduga.

Sebuah portal misterius membawa Jo dan Raissa ke Nakali dan memaksa keduanya menghadapi kemungkinan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Petualangan Jo dan Raissa bukan sekadar tentang mencari jalan pulang. Keduanya justru harus menghadapi konsekuensi yang berkaitan dengan kenangan tentang persahabatan mereka. Semakin mereka berusaha menemukan jalan keluar dari Nakali, semakin besar pula risiko kenangan yang membentuk hubungan mereka menghilang.

Sah atau tidaknya film ini sebagai representasi budaya Asia Tenggara, khususnya Filipina, mungkin akan menyulut perdebatan. Akan tetapi, di luar soal representasi tadi, sebagaimana dilakukan Black Panther dengan budaya Afrika-nya, Forgotten Island juga coba meleburkan elemen-elemen kultural Asia Tenggara guna melahirkan dunia fiktif bernama Nakali yang cukup tampil beda, sehingga terlihat menyegarkan dibanding animasi sejenis.

Berlatar dunia sarat keajaiban, rupanya tak otomatis menghindarkan Forgotten Island dari plot generik. Bahkan cenderung seperti video game yang terdiri atas deretan checkpoint, di mana karakter protagonis kita tiba di suatu lokasi, melewati beberapa rintangan, lalu beranjak menuju lokasi berikutnya guna melakukan proses serupa.

Yap, naskah buatan Joel Crawford dan Januel P. Mercado yang turut menyutradarai di sini memang apik perihal menjalin pesan bermakna. Kelemahannya, naskah kerap terburu-buru. Alurnya kerap terkesan bergerak melewati jalan pintas, termasuk beberapa simplifikasi. Tapi percayalah, segala kekurangan di atas, mampu dibayar tuntas oleh kemampuan mereka berdua dalam mengolah rasa.

Selain itu, penulis juga berhasil dibuat terharu bukan hanya karena unsur drama, juga oleh keindahannya. Visualnya memang memanjakan mata, tapi seindah apa pun rasanya menyaksikan visual di film ini, keindahan terbesarnya justru muncul dari pemandangan yang seolah terasa dekat dan relate dengan kita.

Pengarahan yang diberikan oleh Joel Crawford dan Januel P. Mercado juga terasa lebih dewasa ketimbang karya-karya mereka sebelumnya, yakni dengan memberikan lebih banyak ruang bagi elemen aksi dalam jalan cerita film ini. Tidak mengherankan bila adegan-adegan aksi dalam Forgotten Island yang tergarap dengan baik akan mampu menarik perhatian lebih banyak penonton dewasa.

Dan pada akhirnya, memberikan pujian pada kemampuan DreamWorks Animation untuk menyajikan tampilan animasi yang tidak hanya mampu memikat mata namun juga mampu mendukung atmosfer pengisahan mungkin bukanlah sebuah hal yang terlalu krusial.

Meskipun begitu, sebagai kisah yang mengeksplorasi wilayah Asia Tenggara, Forgotten Island mampu menghadirkan warna-warna yang tidak hanya menyenangkan untuk dilihat namun berhasil memberikan representasi yang kuat akan wilayah maupun kultur yang sedang dikisahkan. Berbagai keberhasilan teknikal ini menjadikan tuturan Forgotten Island terasa begitu segar untuk terus dinikmati.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah
Spider-Man: Brand New Day
RUNNER
Harusnya Horor

COMING SOON

Violent Night 2
Air Bud Returns
Pelet Biduan Jalang
Family Man