Review The Intern: Film yang Bikin Senyum dari Awal sampai Akhir

Pernahkah sobat nonton merasa sekian tahun, bahkan puluhan tahun pengalaman yang dimiliki akan kalah kompetisi dengan generasi muda digital saat ini? Bisa saja pernah. Dan film berjudul The Intern ini seperti pengingat, jika pandangan tadi mungkin saja keliru.
Film The Intern sendiri akan berpusat pada seorang pria bernama Kim Gi Ho (Choi Min-sik). Setelah memasuki masa pensiun, Kim Gi Ho menemukan bahwa kehidupan pensiun tidak selalu indah. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai seorang magang senior di sebuah perusahaan fashion.
Perusahaan fashion tersebut dipimpin oleh seorang CEO perempuan muda bernama Seon-woo (Han So-hee) yang memiliki tabiat gila kerja. Selama 3 tahun berdiri, perusahaan fashion ini telah berkembang pesat dan makin sukses. Kim Gi Ho sebagai seseorang yang memiliki jam terbang tinggi dalam pekerjaan harus bertemu dengan Seon-woo yang dinamika kerjanya yang sangat kekinian.
Perbedaan inilah yang menjadi awal dari sebuah ikatan tak terduga antara Kim Gi Ho dan Seon-woo. Meskipun sangat bertolak belakang, tapi hubungan mereka rupanya berkembang menjadi ikatan yang akan menghangatkan hati.
Saat seseorang telah memasuki usia senja dan akhirnya penisun dari pekerjaan yang telah digeluti selama puluhan tahun, maka terjadilah apa yang disebut dengan post power syndrome. Ketidaksiapan mental seseorang dalam menghadapi fakta bahwa "kekuasaan" dan kesibukan yang telah terbiasa ia miliki mendadak hilang, tidak jarang akan membawa mereka kepada perasaan hampa, bahkan depresi. Inilah bagian di mana The Intern terasa realistis.
Ya, The Intern dimulai sebagai drama realis tentang kehidupan seorang lansia, lalu perlahan berubah menjadi heartwarming drama comedy yang lebih mementingkan rasa manis dan hangat daripada kedekatan dengan keseharian. Tapi apakah hal tersebut menjadi masalah bagi narasi film ini? Seringkali naskah film ini memang masih terlalu menyederahanakan suatu konflik.
Dunia yang dibangun oleh film ini patut didefinisikan sebagai beautiful world, di mana masalahnya begitu minim, dan sekalinya hadir, dapat diselesaikan hanya dengan suatu perbuatan baik. Padahal, kehidupan nyata tidak sesederhana dan semenyenangkan itu. Namun, menurut penulis, hal itu bukan menjadi suatu masalah, toh pada dasarnya tujuan utama film ini adalah menghadirkan kehangatan hasil dari bersenang-senang. Dan pemilihan komedi sebagai cara bertutur turut mendukung hal tadi.
Penulis pun tidak keberatan kala sosok Kim Gi Ho dihadirkan begitu sempurna. Dia tulus ikhlas membantu semua orang, khususnya Seon-woo. Di saat ia mendapat hal yang kurang baik pun, ia tetap tersenyum. Kim Gi Ho digambarkan sebagai sosok yang tidak pernah terjatuh dalam jurang kesedihan, karena ia selalu berusaha terus maju dan lagi-lagi selalu tak segan menolong. Terlalu sempurna memang, tapi pesona Choi Min-sik sulit untuk ditolak.
Pada akhirnya, Kim Do Young selaku sutradara ingin mengajak sobat nonton untuk tersenyum lewat film ini, baik melalui komedi maupun pameran kebaikan dari karakter utamanya. Dan tujuan tersebut berhasil. The Intern adalah sebuah feel-good movie yang akan mampu membuat kita tersenyum selama dua jam lebih durasinya. Memang di satu sisi, dunia yang dibangun film ini kadang terlalu "berlebihan" lewat dunia kerja yang penuh harmoni. Tapi di sisi lain, konflik dasarnya tetap dekat dengan dunia nyata. Karakter dengan post power syndrome hingga rumah tangga yang bermasalah karena ketimpangan status dunia kerja antara istri dan suami adalah gambaran dari kenyataan hidup.








