Loading your location

Review Dracula: A Love Tale: Tawarkan Premis dan Interpretasi Menarik tentang Kisah Drakula

By Ekowi29 Agustus 2025

Luc Besson mungkin tidak pernah membuat film yang cerdas. Tapi, sebagai sebuah hiburan, karya-karyanya hampir selalu menjadi tontonan yang menyenangkan. Banyak pihak menyebut Luc Besson sudah habis, di mana mayoritas mengkritisi judul-judul terbarunya sebagai tontonan popcorn bodoh.

Mungkin anggapan di atas ada benarnya. Tapi sejak kapan karya Besson jadi destinasi pencari film berintelegensi tinggi? Mengkreasi hiburan ringan bertabur gimmick merupakan keahliannya, tidak terkecuali dengan Dracula: A Love Tale, yang diadaptasi dari novel klasik milik Bram Stoker.

Dracula: A Love Tale menceritakan Pangeran Vlad II Dracula (Caleb Landry Jones) yang merasa sakit hati mendalam kepada Tuhan akibat istrinya meninggal di tengah perang. Kematian sang pujaan hati, Elisabeta (Zoe Bleu) membuat Dracula membangkang kepada Tuhan dan membenci-Nya seumur hidup.

Akibatnya, Dracula menjadi makhluk abadi. Ia tidak bisa mati. Hanya bisa menambah energi dengan minum darah segar manusia. Dracula hidup bertahun-tahun hingga berabad-abad dengan tetap percaya bahwa jiwa dan hati murni akan membuat kekasihnya bereinkarnasi, lalu kembali ke pelukannya.

Dracula: A Love Tale sebenarnya menyimpan potensi yang begitu kuat untuk menjadi sebuah presentasi yang apik. Departemen produksi dan artistik film mampu hadir dengan kualitas yang memuaskan, mulai dari tata sinematografi yang memanjakan mata, komposisi musik yang seringkali berhasil menambah elemen fantasi di setiap adegan, hingga tata rias dan kostum yang akan mampu meyakinkan setiap penonton bahwa mereka sedang menikmati sebuah kisah periodik.

Sayangnya, keberhasilan di departemen produksi tadi gagal untuk disertai dengan kekuatan penceritaan yang mumpuni. Walau memulai film ini dengan premis yang menarik, serta opening yang cukup menjanjikan, akan tetapi Luc Besson kemudian tidak mampu untuk melanjutkan atau mengembangkan pengisahannya dengan cukup kuat.

Konflik utama yang telah dikenalkan pada paruh awal pengisahan secara perlahan, kemudian memudar dan menghilang begitu saja dan ditutupi oleh barisan konflik sekunder yang harus diakui tidak terasa begitu esensial pengisahannya dan dapat saja dihilangkan, dengan resiko mempersingkat durasi presentasi filmnya menjadi jauh lebih pendek.

Ketika Luc Besson pada akhirnya mengembalikan fokus penceritaannya pada konflik utama di paruh ketiga film, antusiasme penulis pada Dracula: A Love Tale jelas terasa menurun. Tidak benar-benar buruk, namun tampil tanpa meninggalkan kesan yang kuat dan mengikat. Sungguh sayang.

Seperti datarnya penyajian cerita yang disajikan, karakter-karakter dalam film ini juga tampil tanpa pendalaman karakterisasi yang memadai. Banyak karakter yang hadir untuk kemudian menghilang begitu saja dalam jalan cerita dan terasa hanya sebagai tempelan belaka. Dampaknya, departemen akting yang sebenarnya berisi nama-nama pemeran yang sebenarnya sangat menjanjikan, hadir dengan penampilan yang begitu terbatas.

Tapi apapun itu, apa yang telah dihasilkan oleh seorang Luc Besson lewat Dracula: A Love Tale sebenarnya merupakan sebuah hasil yang tidak mengecewakan, walaupun seharusnya mampu tampil lebih baik lagi.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT (REISSUE)
JAWS (IMAX 2D)
MY BELOVED STRANGER
Pencarian Terakhir 2025

COMING SOON

Anyone But You
KEADILAN: The Verdict
VIRUS
ITAFF 2025: IL TEMPO CHE CI VUOLE (THE TIME IT TAKES)