Review Scream 7: Seru, Cerdik, dan Memuaskan!!!

Rasa-rasanya tak ada waralaba slasher dengan konsistensi sebaik Scream, di mana installment terlemahnya, yakni Scream 3, pun masih menyuguhkan hidangan pembantaian yang solid. Semua itu berkat keseimbangan. Tatkala slasher lawas luput memperhatikan cerita, sedangkan judul-judul modern cenderung melupakan cara gila dalam mencabut nyawa, maka Scream tetap menawarkan semuanya.
Kini, dalam Scream 7, kisahnya akan kembali berfokus ke karakter Sidney Prescott (Neve Campbell) yang pada akhirnya berhasil menjauh dari lingkaran pembunuhan dan trauma masa lalunya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang Ghostface, Sidney diceritakan mulai membangun kehidupan baru yang relatif tenang di kota kecil Pine Grove, Indiana.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ghostface versi baru yang mulai meneror kota dan menjadikan Tatum (Isabel May), putri Sidney, sebagai target utama. Ancaman tersebut jelas bukanlah sebuah kebetulan. Polanya yang terarah dan cenderung personal, perlahan mulai menarik Sidney kembali ke mimpi buruk yang selama ini coba ia tinggalkan.
Dalam situasi tersebut, Sidney dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah benar-benar dia inginkan. Antara harus terus bersembunyi, atau kembali menghadapi masa lalu demi melindungi orang yang paling dia sayangi. Lantas, keputusan mana yang akan ia pilih?
Pertanyaan besarnya adalah, masihkah waralaba Scream relevan di zaman sekarang? Horor meta yang jadi jualan utamanya sejak puluhan tahun lalu kini telah marak diusung. Sementara generasi muda cenderung menggandrungi horor dengan penuturan sarat subteks, alih-alih slasher yang sering dianggap murahan. Kevin Williamson, selaku sutradara, sepertinya tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, bahkan dengan cara khasnya, menjadikan semua itu menjadi materi humor yang menggelitik.
Beruntung unsur meta-nya masih tampil kuat di film ini. Proses “investigasi” menggunakan formula-formula film slasher, hingga sindiran menggelitik terhadap beberapa hal toxic yang terjadi akhir-akhir ini adalah wujud hiburan menyenangkan bagi para penggemar genre ini. Mungkin beberapa penonton awam akan tersesat dengan formula tersebut. Namun, mereka memang bukanlah target pasar dari waralaba ini.
Sebagai sutradara, Kevin Williamson juga punya energi yang tak jauh berbeda dengan Wes Craven. Sekuen pembunuhannya cukup brutal nan kreatif, dengan klimaks yang bukan cuma seru, pula secara cerdik membawa filmnya memenuhi tujuan utama, yakni melahirkan modernisasi tanpa lupa menghormati versi asli.
Overall, dengan keseimbangan antara penceritaan dengan beragam suguhan gore-nya, termasuk klimaks memuaskan yang mewakili proses karakternya bangkit dari ketakutan, Scream 7 patut dijadikan contoh bagaimana semestinya genre slasher beradaptasi di era modern tanpa harus melupakan akarnya.








