Review Blades of the Guardians: Penuh Aksi Martial Art dan Pertarungan Epik

Setelah lama rehat dari dunia perfilman, aktor Jet Li akhirnya kembali menyapa penonton lewat terbarunya berjudul Blades of the Guardians. Walaupun bukan berperan sebagai aktor utama, tapi film ini tetap bisa menjadi momen yang cukup spesial bagi penggemar film laga, mengingat terakhir kali Jet Li tampil di layar lebar adalah lewat film live-action Mulan pada 2020 silam.
Film Blades of the Guardians sendiri akan mengambil latar pada masa Dinasti Sui, sebuah era penuh gejolak politik, intrik kekuasaan, serta konflik antarkelompok bersenjata. Kisahnya berfokus pada sosok Dao Ma (Jing Wu), seorang pengawal bayaran yang dikenal tangguh dan berpengalaman. Suatu hari, ia menerima misi berisiko tinggi, mengawal seorang buronan paling dicari bernama Zhi Shi Lang (Nicholas Tse) menuju Chang’an, ibu kota kekaisaran. Misi ini bukan tugas biasa, karena Zhi Shi Lang menyimpan rahasia besar yang berpotensi mengguncang stabilitas kekaisaran.
Perjalanan Dao Ma semakin rumit ketika ia harus melintasi gurun pasir yang berbahaya, wilayah tanpa hukum yang dipenuhi kelompok bersenjata, pemburu bayaran, dan pasukan misterius dengan agenda tersembunyi. Tak sendirian, Dao Ma ditemani oleh Xiao Qi (Ju Qianlang), putra angkatnya yang masih muda, tetapi memiliki keberanian dan tekad besar. Lantas, berhasilkah Dao Ma menuntuskan misinya?
Bagi sobat nonton penggemar film laga penuh penampilan martial art dan pertarungan epik, maka film ini dijamin akan memuaskan secara visual. Showcase pertarungan kungfu sangat mendominasi di setiap adegan, dan nyaris bertubi-tubi. Kalau kalian memang tidak mudah bosan dengan adegan bertarung, maka dipastikan tidak akan mudah bosan pula dengan berbagai aksi laga dalam film ini, karena presentasinya juga cukup variatif dengan berbagai arahan koreografinya.
Namun, bukan adegan laga seperti dalam film-film Hollywood yang ditawarkan oleh film ini. Bagi sobat nonton yang familiar dengan film laga Mandarin, harusnya sudah tidak kaget lagi dengan adegan laga yang bisa dibilang hiperbola. Ada banyak adegan pertarungan brutal yang secara logika tidak masuk akal.
Film laga Mandarin seperti ini memang kerap mengesampingkan logika, namun berhasil ditutupi dengan arahan yang menyenangkan serta keseruan adegannya. Karena ketika batasan logika diterobos, kesenangan dan ketegangan akan terus belanjut.
Nah, ketika laga sudah maksimal, dan desain produksi sudah terbilang totalitas, masih ada satu kekurangan yang ada di film ini, yakni adalah penokohan dan pengembangan karakternya. Kebanyakan, karakter dalam film ini hanya memikat secara visual dan aksi, namun kedalaman penokohannya masih kurang digali secara maksimal.
Jika boleh jujur, film dengan durasi 2 jam lebih ini memang hanya didominasi oleh aksi bertarung dan bertengkar. Dari perspektif naskah, pertarungan yang terlalu banyak pastinya akan cukup memakan terlalu banyak durasi film. Dan itu yang benar-benar terjadi di film ini. Selain itu, ada juga beberapa karakter penting yang terlambat dieksplorasi kedalaman tokohnya, pun dengan karakter penting lainnya yang meninggalkan cerita terlalu cepat.
Ya, Blades of the Guardian seperti terlalu sibuk dan mungkin terlalu bersemangat untuk menyajikan laga terbaik, hingga lupa mengembangkan lagi naskah dan setiap karakter yang tak boleh dianggap remeh dalam sebuah film laga sekali pun. Akan tetapi, secara keseluruhan, film ini masih tetap berhasil membawa kita kembali pada era film laga Mandarin yang dramatis dan memikat secara visual, walaupun masih lemah dalam naskah dan penulisan karakternya.








