Loading your location

Review The Doll Ghawiah: Sajian Bernyali yang Jarang Ditemui di Horor Lokal Belakangan Ini

By Ekowi31 Oktober 2026

Bersiaplah, karena semesta pengisahan horor The Doll kembali hadir lewat film terbarunya yany bertajuk The Doll Ghawiah yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada pekan ini. Disutradarai Guntur Soeharjanto, film produksi Hitmaker Studios ini akan mengangkat urban legend asal kota Bandung tentang sosok hantu boneka Uci di kawasan Jalan Siliwangi, dekat Hutan Kota Babakan Siliwangi.

The Doll Ghawiah akan bersetting di tahun 1988, ketika Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal) memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke Bandung bersama kedua putri mereka, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane). Mereka berharap bisa memulai hidup baru setelah menghadapi masalah ekonomi dan membuka restoran di kawasan Babakan Siliwangi.

Di tengah kehidupan barunya, Nala bertemu dengan seorang anak perempuan di hutan Babakan Siliwangi. Pertemuan itu membawanya kepada sebuah boneka bernama Ghawiah. Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh mulai mengusik keluarga mereka. Teror semakin terasa ketika keluarga Arya mengetahui kisah Uci, anak perempuan yang meninggal bersama kedua orang tuanya dalam kecelakaan tabrak lari. Boneka Ghawiah ternyata menyimpan kaitan dengan tragedi tersebut.

Laras (Sara Wijayanto), seorang pelayan restoran, kemudian membantu mengungkap misteri di balik boneka itu. Keluarga Arya pun harus menghadapi rangkaian kejadian mengerikan yang perlahan membuka rahasia masa lalu. Rahasia apakah itu?

Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll Ghawiah rupanya menolak untuk hanya mengeksploitasi jumpscare semata. Kali ini hasilnya pun menjadi lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha untuk menyelipkan bobot dramatik di dalamnya.

Dengan naskah penceritaan yang lebih terstruktur, pengarahan yang diberikan oleh Guntur Soeharjanto pada film ini juga terasa lebih dinamis. Meskipun harus diakui, Guntur masih belum mampu untuk menahan dirinya dari memberikan ledakan-ledakan suara guna mengejutkan penonton filmnya.

Begitu pula dengan penggunaan “referensi” adegan horor dari film asing yang masih memenuhi banyak adegan di film ini. Meskipun begitu, ia masih bisa dibilang berhasil dalam membungkus filmnya dengan atmosfer horor yang cukup mencengkeram, penceritaan yang mengalir dengan baik, serta tata produksi yang tampil berkelas.

Departemen produksi, mulai dari tata sinematografi, artistik, penyuntingan hingga suara dan musik, memberikan elemen-elemen kualitas yang sukses menjadikan The Doll Ghawiah hadir dengan tampilan yang berada di atas kualitas film-film horor Indonesia hingga menjelang akhir tahun ini.

Meski jumpscare-nya sempat terasa formulaik, tapi Guntur mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di babak klimaksnya. Disokong gerak kamera Enggar Budiono yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Joseph S.Djafar, sang sutradara sanggup menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah slasher. Ya, third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini.

The Doll Ghawiah juga akan mengajarkan kita untuk tidak memupuk dendam. Karena, apa bedanya kita dengan mereka yang telah jahat terhadap kita jikalau juga melakukan hal yang sama? Bila kita berbesar hati menepikan dendam tersebut, akan lebih mudah pula bagi kita untuk mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan, bahkan untuk kesalahan yang tidak kita sadari.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Avengers Endgame: Encore
Agensi Rumah Tangga
Operasi Pesta Copet
UDTA TEER

COMING SOON

Diet Mulai Besok
Penggali Kubur
John Rambo
Helldivers