Loading your location

Review Alena Anak Ratu Iblis: Hadirkan Resep Usang yang Mengecewakan

By Ekowi08 Januari 2023

Penulis pernah menyinggung soal ini: bahwa film horor kerap secara tidak adil dipandang sebelah mata. Realitanya, ia adalah salah satu genre yang paling susah dibuat. Dan dengan modal niat baik saja tidak cukup dalam membuat film, khususnya film horor. Satu film jelek tidak serta merta naik derajat kualitasnya karena niat mulia dari pembuatnya tersebut.

Ya, satu film yang penulis maksud di atas adalah film horor berjudul Alena Anak Ratu Iblis. Alena Anak Ratu Iblis bercerita tentang Hendra (Temmy Rahardi) dan Maya (Ririn Ekawati) yang menemukan seorang anak kecil saat perjalanan pulang. Pasutri yang belum dikaruniai keturunan itu mengadopsi anak tersebut dan memberinya nama Alena (Ciara Brosnan).

Sejak diadopsi, Alena menghadirkan dampak positif untuk keluarga itu. Hendra yang sebelumnya tidak begitu sukses dalam usahanya, mulai merasakan perubahan drastis menuju keberhasilan. Kebahagian Hendra dan Maya pun menjadi lengkap saat dikaruniai seorang anak yang mereka nantikan. Namun, kejanggalan mulai dirasakan. Semuanya berubah menjadi malapetaka hingga berakhir mengancam nyawa. Penyebab dari malapetaka tersebut adalah karena ternyata Alena merupakan anak dari Ratu Iblis (Karenina).

Sayang sekali, Alena Anak Ratu Iblis gagal menyediakan materi penceritaan yang layak bagi barisan pemain-pemainnya. Pertama, di luar hal-hal yang berkaitan dengan akting, film ini bukanlah horor yang mencekam. Filmnya ingin terlihat berkelas dengan tak hanya mengandalkan jump scares serta berlusin-lusin efek CGI, pula memadukannya bersama gore yang justru terlihat norak. Barisan idenya pun klise dan usang, ditambah Sonu Samtani sebagai sutradara yang nampak belum cukup matang dalam hal visualisasi teror. 

Yang kedua, Maruska Bath selaku penulis naskahnya bak tenggelam dalam pemikiran bahwa mereka sedang menciptakan horor yang cerdas dan berkelas. "Cerdas" diartikan dengan keberadaan intrik sepelik mungkin. Begitu pelik hingga naskahnya seolah ikut tersesat dalam labirin konspirasi yang dibangunnya sendiri. Padahal cerdas tidak melulu harus kompleks. Menghindarkan repetisi alur juga termasuk kecerdasan, yang mana dilupakan oleh naskahnya.

Film cerdas juga takkan memvisualkan CGI murahan ala-ala film Jaws atau Lake Placid dengan efek khusus seadanya serta footage asal comot yang berakhir menjadi menggelikan. Film cerdas tidak akan memberi siksaan kepada penontonnya berupa musik over dramatis yang justru memekakkan telinga. Pun film cerdas tidak menyuguhkan adegan-adegan konyol yang terinspirasi dari film Batman hingga Final Destination. Ya, semua hal tersebut ada di film ini!

Soal naskah, jangankan kualitas, karena kuantitas plot juga amat minim ketika sang sutradara lebih doyan menyusun filmnya lewat kumpulan jump scares kuno. Berkebalikan dengan formula standar film, di sini cerita justru hanya tampil sebagai sempilan, sisanya hanya berisi scoring horor tanpa henti lewat cara yang repetitif sekaligus tidak kreatif. Memang ada sekitar satu atau dua momen mengerikan, tapi menengok seberapa banyak usaha menakut-nakuti yang dilakukan, jumlah itu jelas tidak sebanding. Belum lagi soal resep usang film horor Indonesia yang coba kembali diulangi film ini: SENSUALITAS.

Sungguh disayangkan usaha film ini dalam hal membangun rasa mencekam dan atmosfir seram yang layak sejak di 30-40 menitan awal film, yang harus dihancurkan oleh cara-cara menampakkan hantu yang terbilang konyol. Alena Anak Ratu Iblis dengan bodohnya harus “bunuh diri” dan potensinya yang menjanjikan itu seketika mati begitu saja.

Percuma memakai setting rumah besar yang mahal kalau caranya menakuti terlihat murahan, hanya bermodal hantu dengan polesan digital. Penulis sebetulnya akan memaklumi pilihan film ini untuk memakai hantu-hantuan berbalut CGI, jika dilakukan menggunakan cara-cara yang manusiawi dan tidak berlebihan. Tapi film ini seperti tidak peduli dengan nalar para penontonnya.

Kita semua ingin film ini mampu jadi tontonan yang menyeramkan, apalagi dengan kualitas film horor yang dirilis pada tahun 2022 lalu sudah berada dalam level yang jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kita semua datang ke bioskop dengan harapan penuh untuk kembali menonton film horor dengan kualitas tersebut. Namun nyatanya, film ini tak ubahnya sajian audio visual yang hanya mengandalkan jump scares basi dan menggelikan serta bermodalkan sensualitas pemainnya seperti saat horor Indonesia berada dalam masa-masa tergelapnya beberapa tahun silam.

Ada apa dengan film horor Indonesia yang beberapa pekan belakangan ini sepertinya tidak percaya diri menakuti penontonnya jika tidak memakai jump scares yang itu-itu saja. Hopeless, seperti tidak ada cara lain yang lebih kreatif lagi untuk menakuti penonton. Semoga, sekali lagi semoga, ini bukan menjadi pembuka tahun yang buruk bagi perfilman Indonesia, khususnya bagi ranah film horor.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

BOTTING
The First Omen
Agak Laen
Dua Hati Biru

COMING SOON

Tulang Belulang Tulang
Twisters
The Friendship Game
If