Review Munafik: Melawan Iblis: Film Horor Kaya Tekstur yang Istimewa

Industri perfilman tanah air kembali disemarakkan oleh sebuah karya horor religi terbaru berjudul Munafik: Melawan Iblis yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai Kamis pekan ini. Film produksi Unlimited Production ini merupakan remake atau adaptasi resmi Indonesia dari film horor religi legendaris asal Malaysia berjudul Munafik, yang ditulis dan disutradarai oleh Syamsul Yusof. Untuk versi Indonesia sendiri, film ini disutradarai oleh Guntur Soeharjanto dengan naskah yang tetap ditulis oleh Syamsul Yusof.
Munafik: Melawan Iblis akan mengisahkan Adam (Arya Saloka), seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah yang biasa membantu orang-orang agar terlepas dari gangguan makhluk halus. Namun, kehidupannya berubah setelah sang istri, Aini (Widi Dwinanda), meninggal dunia. Kematian tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Adam. Ia kemudian memilih berhenti membantu orang melalui ruqyah dan menjauh dari kemampuan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Kehidupannya kembali bersinggungan dengan dunia gaib ketika Anwar meminta bantuannya menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa), seorang perawat yang mengalami teror dan kesurupan ekstrem. Dalam prosesnya, Adam justru menemukan rahasia gelap di balik gangguan yang menimpa Fitri, sekaligus menghadapi ujian keimanan yang mengguncang dirinya sendiri.
Pada dasarnya, ada dua jenis teror dalam film ini. Pertama, yakni teror psikologis yang menghantui karakternya. Lalu teror kedua berwujud gangguan mahluk supranatural. Kedua teror tersebut hadir secara tandem dan bekerja dengan beriringan, hingga pada suatu titik keduanya dipertemukan oleh satu garis merah melalui twist yang disajikan secara mulus.
Munafik: Melawan Iblis juga merupakan sebuah film lintas genre karena memadukan antara horor, thriller dan struktur whodunit, tetapi pondasi dasarnya adalah drama. Sebuah pondasi yang dibangun secara cermat dan kuat lewat pengadeganan yang efektif. Terdapat pula elemen romansa, sebuah elemen yang tidak hanya sebagai ornamen penghias narasi semata. Elemen romansa dalam film ini justru menjadi sebuah koridor menuju suatu pembangunan konflik, baik konflik batin ataupun fisik, sehingga menjadikan filmnya kaya akan tekstur.
Kekayaan tekstur itulah yang kemudian membuat Munafik: Melawan Iblis hadir sebagai sebuah film yang istimewa, tidak hanya sekadar film horor yang mengandalkan efek jump-scares. Kita akan diajak untuk peduli dengan karakter-karakternya, serta diajak untuk ikut terlibat secara emosional. Sobat nonton dijamin tak hanya akan ingat dengan adegan menyeramkan di film ini. Lebih jauh, sobat nonton pasti akan ingat dengan seluruh cerita film ini.
Atmosfer horor dalam Munafik: Melawan Iblis coba dibangun lewat practical effect, tata rias, gerak kamera dan musik. Musiknya terdengar jelas mendapat pengaruh dari film-film horor klasik. Ada pula sentuhan musik bernada lembut dan syahdu saat adegan dramanya hadir. Penempatannya yang tepat silih berganti akan membantu mengatur mood sobat nonton kala menontonnya.
Naskah film ini juga akan menitikberatkan pada aspek drama reliji. Uniknya, penulis tidak melihat berbagai dialog dalam film ini sebagai sebuah alat dakwah yang membuat penulis merasa diceramahi. Dialog-dialog tersebut justru terdengar amat relevan dan koheren dengan dunia relijius yang dihadirkan. Ketimbang merasa diceramahi, kita justru seperti sedang menerima nasihat dari seorang teman.
Dan pada akhirnya, keistimewaan Munafik: Melawan Iblis semakin paripurna karena kisahnya menampilkan sebuah subteks tentang konsep penerimaan diri. Konsep ikhlas dan seni merelakan yang telah pergi. Sebuah konsep spiritual yang indah di balik sebuah kisah horor. Sebuah konsep yang diceritakan lewat kearifan lokal, namun terasa universal.








